
"Heh Reva, tunggu!" cegah Rafael menahan tangannya.
"Apaan?" tanya Reva malas.
"Kita harus pegangan tangan."
Sebenarnya Reva tidak mau, tapi tahu jika Ia dan Rafael harus berakting romantis di depan orang tuanya. Mencoba menurunkan gengsinya, perempuan itu pun membalas genggaman tangan Rafael dan keduanya pun masuk ke rumah mewah itu.
"Selamat datang Nona dan Tuan muda," sapa seorang pembantu.
"Malam bi, Papa dimana?" tanya Reva.
"Tuan besar sudah menunggu di meja makan. Katanya tadi kalau Nona sudah datang, di suruh langsung ke sana saja."
"Oh okey."
Dari ruang utama ke ruang makan lumayan jauh, banyak melewati ruangan lain juga karena rumah ini terlalu luas. Mungkin di banding si pemilik rumahnya sendiri, lebih banyak pekerja di rumah ini.
Memasuki ruang makan, terlihat seorang pria dewasa yang sedang fokus melihat tablet nya. Reva repleks melepaskan genggaman tangannya dengan Rafael dan berlari mendekati Papanya itu. Memeluk lehernya dari belakang.
"Papa," panggilnya ceria.
"Hai Reva, akhirnya kamu datang juga."
"Hehe iya, maaf sudah menunggu."
"Gak papa, ayo duduk. "
Rafael dan Reva duduk di hadapan Samuel. Terlihat dua pelayan masuk dan menghidangkan makanan lain di atas meja. Banyak sekali menu makan malam. Bukan hari ini saja, memang seperti biasa juga sebanyak ini dan bermacam-macam.
"Papa jam berapa sampai di rumah?" tanya Reva, "Kok gak ngabarin aku sih?"
"Agak siangan sih, maaf ya Papa lupa."
"Lupa atau sengaja?"
Samuel terkekeh kecil, "Tapi kan kamu juga sudah tahu, dari siapa?"
"Kakek, dia ngasih tahu pas di sekolah."
"Nah kan."
__ADS_1
"Tapi lain kali pokoknya harus kabarin aku juga ya?"
"Iya, tadi Papa langsung istirahat soalnya capek."
Samuel itu seorang duda, Mama Reva baru saja meninggal beberapa bulan lalu. Dan alasan Reva juga Rafael bersama, itu masih bersangkutan dengan Mama Reva. Sebagai anak yang sangat menyayangi dan patuh, keduanya pun tidak berani membantah.
"Reva, kamu ini belum terbiasa ya?" tanya Samuel.
"Terbiasa gimana?" tanya Reva balik.
"Jangan bawa makan untuk sendiri dulu, utamakan suami kamu itu."
Reva menoleh pada Rafael, "Dia bisa bawa sendiri, iyakan?"
"Iya Pah, gak papa kok," ucap Rafael. Selama ini juga selalu membawa makan untuk sendiri.
"Tapi kan kamu sudah menjadi istri Reva, salah satu kewajiban kamu adalah melayani suami, dalam hal apapun."
Reva terdiam tidak mampu membantah, toh yang dikatakan Papanya itu memang benar. Hanya saja Reva enggan melakukannya karena gengsi, Ia dan Rafael juga kan sama-sama terpaksa memerankan ini.
"Kalian sudah bersama lumayan lama, apa masih belum saling terbiasa?" tanya Samuel lagi.
"Enggak kok, kami sudah akrab," jawab Reva sambil menyenderkan kepalanya di bahu Rafael, "Iyakan sayang?"
"Baguslah kalau sudah dekat, kalian juga harus bisa saling menjaga dan menyayangi."
"Iya pasti."
"Rafael, bagaimana Reva selama menjadi istri kamu? Dia tidak nakal dan aneh-aneh kan?" tanya Samuel pada menantunya.
"Haha tidak kok Pah," jawab Rafael sambil tertawa canggung, "Dia.. Dia adalah istri yang baik."
Dada Rafael memberontak tidak terima dengan perkataannya tadi, Ia terpaksa menutupi sikap asli Reva karena itu perjanjian keduanya. Padahal aslinya Reva itu sangat menyebalkan dan suka mengganggunya. Entah di sekolah maupun rumah.
"Soalnya Reva ini kan agak tomboy, jadi Papa sempat khawatir dia tidak bisa memerankan sosok istri yang baik."
"Ih Papa kok ragu sama anaknya sendiri. Aku tomboy juga tahu kok peran istri yang baik, kan dulu aku dulu sering lihat Mama," ucap Reva.
Samuel mengangguk, "Iya, contohlah Mama kamu itu. Dia bisa menjadi istri yang baik dan selalu melayani Papa."
"Iya."
__ADS_1
Walaupun sudah lumayan lama ditinggal Mamanya, tapi Reva tahu Papanya itu masih merasa sedih dan belum terima. Mereka adalah pasangan yang Reva idamkan, selalu terlihat harmonis dan menjadi orang tua terbaik untuk nya.
"Papa harap kalian selalu seperti ini, tetap akur. Kalian memang masih muda, tapi karena sekarang sudah menikah jadi harus berpikir lebih dewasa. Jangan utamakan ego agar tidak terjadi masalah, mengerti?"
"Iya Pah," jawab anak-anaknya serentak.
Makan malam itu lumayan menyenangkan, seperti biasa Reva lah yang selalu lebih banyak bicara. Jika saat sedang bersama Papanya, Reva memang terlihat lebih manja dan terbuka. Rafael pun sudah tahu sisi lain perempuan itu.
"Sebentar Papa ke toilet dulu," izin Samuel sambil beranjak.
Setelah kepergian pria dewasa itu, secara bersamaan Rafael dan Reva saling menghela nafas lega. Perlahan mereka melirik satu-sama lain, saat pandangan bertemu langsung sama-sama memalingkan wajah sombong.
"Sebenarnya aku bisa aja bilang ke Papa kalau kamu sering malak uang aku di sekolah," celetuk Rafael.
Reva langsung menatapnya nyalang, "Hei itu bukan malak, lagian kan lo suami gue. Jangan pelit dong!" ketusnya.
"Tapi kan Reva bisa minta baik-baik dong sama aku," bela Rafael, "Jangan malu-maluin aku di sekolah."
"Ya masa aja gue sok manis ke lo di sekolah, bisa-bisa yang lain pada curiga."
"Gak akan, semua orang juga kan tahu kita gak akrab. Lebih tepatnya Reva yang suka jailin aku."
"Dasar sok tersakiti lo!"
Rafael lalu memukul paha Reva, membuat perempuan itu terkejut, "Turunin kakinya, gak sopan ih!" tegur nya.
"Makan begini tuh enak tahu." Cara makan Reva itu kolot sekali, kakinya dinaikkan ke atas kursi, satu kakinya dengan posisi lebih tinggi.
"Kalau lagi sama aku gak papa, tapi kalau sama Papa kamu jangan lah."
"Biarin, Papa aku aja tahu aku suka makan begini."
"Iya, tapi kan sekarang kamu sudah menikah Reva. Nanti Papa kamu ngira aku sebagai suami gak bisa ngajarin kamu yang baik-baik lagi, padahalkan kamunya aja yang nakal."
"Apa?!"
Rafael langsung terpekik saat Reva mencekik lehernya dengan siku dalam, membuat posisi duduk mereka menjadi menempel. Selain itu, Reva juga menjitak-jitak kepalanya membuatnya semakin tersiksa.
"Heh Reva, lepasin. Dasar istri durhaka, jangan kdrt!" ucap Rafael dengan suara tertahan. Pria itu berusaha melepaskan diri, tapi kekuatan Reva lumayan juga.
"Lo jangan ceramahin gue deh, gue itu gak pernah salah. Ingat ya, cewek selalu benar!"
__ADS_1
"Iya-iya terserah Reva lah mau ngapain aja, cepet lepasin."
Tadinya Reva enggan melepaskan karena menjahili Rafael selalu membuatnya terhibur sendiri. Tetapi saat mendengar suara langkah kaki mendekat, membuatnya terpaksa harus melepaskan. Tepat saat Rafael kembali duduk tegak, Samuel sudah kembali. Sepertinya Papanya itu tidak tahu apa yang sudah terjadi.