Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
57 Posisi Yang Tergantikan


__ADS_3

Sepanjang malam Reva sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkan perubahan sikap Rafael yang mengganjal itu. Reva juga memikirkan cara bagaimana agar Rafael itu tidak bersikap dingin seperti itu lagi. Padahal baru satu hari, tapi Reva sudah tidak tahan.


Besok paginya, Reva melihat Rafael di meja makan yang sedang memakan nasi gorengnya. Ternyata perkataannya semalam serius, buktinya hanya ada sepiring nasi goreng, tidak ada untuknya. Reva pun duduk di depannya dan malah memperhatikan Rafael yang sedang makan.


"Kenapa?" tanya Rafael yang sadar dari tadi diperhatikan, mulutnya terlihat penuh sedang mengunyah.


"Gak buatin buat gue?" tanya Reva masih berharap.


"Enggak, buat aku sendiri. Kalau Reva mau, ya buat aja sendiri," jawab Rafael terlihat acuh.


Helaan nafas berat keluar lewat celah bibirnya, "Tapi kan gue gak bisa masak," gerutunya.


"Makanya belajar, tapi kalau males ya udah pesen aja, sekarang kan zaman udah modern." Rafael terlihat enteng sekali mengatakannya, tanpa beban sedikit pun.


"Nyebelin banget lo, egois!" ketus Reva dengan wajah cemberut nya.


Rafael menghentikan makannya mendengar itu, "Apa? Aku egois?" tanyanya mengulang.


"Iya lo egois, katanya suami itu harus berpikir lebih dewasa dan gentle. Tapi lo kok tiba-tiba jadi gini sih?!"


"Biarin, terserah aku dong!" balas Rafael tidak kalah ketus.


"Apa?!"


"Reva juga egois, emangnya Reva udah bisa jadi istri yang bener?"


"Hah?"


"Aku selama ini selalu berusaha jadi suami yang baik, apalagi selalu ngalah kalau misal kita ribut dan gak ninggiin emosi kaya Reva. Masak, beres-beres rumah, bahkan tugas Reva juga aku kerjain. Jadi di sini siapa yang egois?"


Reva rasanya ingin tertawa sinis mendengar itu, "Sumpah Rafael, lo kelihatan kekanakan banget sekarang. Jadi lo ngerasa gak adil gitu selama ini?!"


"Yaa bisa dibilang begitu." Sebenarnya bukan tidak adil, tapi Rafael tuh hanya ingin Reva lebih bisa menghargai posisinya yang selama ini selalu dianggap remeh.


"Jadi lo gak ikhlas masakin selama ini buat gue?"


"Ikhlas kok, tapi sekarang gimana kalau Reva yang ganti?"

__ADS_1


"Maksudnya gue yang masak?" tanya Reva sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, beres-beres juga," angguk Rafael.


"Gue kan bisa, gue juga gak pernah ngelakuin itu. Mending kita sewa pembantu aja." Reva tidak mau bekerja yang susah, bukan apa-apa dari dulu kan Ia selalu dilayani dan dimanja.


"Gak mau, nanti dia ganggu lagi."


"Ganggu gimana?"


Tetapi Rafael hanya mengedikkan bahunya, membuat Reva menggeram karena seperti sedang dipermainkan dan Rafael benar-benar menguji kesabarannya. Lalu mau pria itu apa? Masa saja Reva yang harus mengurus semua pekerjaan rumah. Rafael kan tahu sendiri Ia tidak bisa dan tidak akan pernah mau.


"Terserah deh, pusing lama-lama," gerutu Reva lalu beranjak dan keluar apartemen. Ia sempat mendengar teriakan Rafael yang memintanya untuk sarapan dulu, tapi tidak Ia pedulikan karena sedang marah.


Keluar dari bangunan apartemennya, entah kebetulan atau bagaimana tapi Reva langsung melihat Lucas duduk di motornya. Pria itu melambai ke arahnya, Reva pun mendekat.


"Padahal tadi mau aku telpon," ucap Lucas sambil tersenyum lebar seperti biasa. Pria itu lalu memberikan helmnya yang khusus Ia belikan untuk Reva, tadinya akan Ia pakaikan tapi perempuan itu menolak karena tidak suka dirinya yang bersikap romantis.


Setelah Reva naik, Lucas pun kembali menyalakan motornya, "Peluk dong, biar gak jatuh," perintahnya sekalian modus.


"Gak akan, jangan ngebut aja," sahut Reva menolak.


Dengan memutar bola matanya malas, Reva pun terpaksa memegang sisi seragam Lucas dengan cengkraman kecil. Walaupun Lucas mengendarai motornya dengan cepat, tapi Reva tetap kekeuh tidak mau memeluk erat karena Ia sangat menjaga batasan dengan Lucas.


"Kamu udah sarapan, kan?" tanya Lucas meninggikan suaranya karena akan teredam oleh udara. Pria itu pun melirik nya lewat spion.


"Belum," jawab Reva.


"Loh kenapa?"


"Gak sempet, males juga."


"Aduh kenapa belum sarapan sih? Sarapan itu kan penting, kita makan dulu ya."


"Gak usah lah, nanti aja pas istirahat."


"Jangan." Lucas lalu membelokan motornya ke sebuah tempat makan sederhana di sisi jalan, kebetulan Ia pernah sekali makan di sana

__ADS_1


"Mau ngapain kesini?" tanya Reva turun dari motornya.


"Makan lah," jawab Lucas.


"Emangnya kamu belum makan?"


"Bukan aku, tapi kamu." Sebelum Reva menolak, Lucas langsung menarik tangannya untuk masuk ke tempat makan sederhana itu. Rafael lalu memesan semangkuk soto ayam dengan nasi porsi kecil, sedangkan minumannya teh manis hangat dua gelas.


"Wah den ganteng, ini siapanya ya?" tanya wanita paruh baya pemilik tempat makan itu sambil menyajikan pesanannya di meja.


Lucas melirik sekilas Reva, "Dia pacar saya Bu, gimana?" Lucas terlihat bangga sekali saat mengenalkan Reva, sebenarnya pada siapapun selalu bangga jika Reva lah yang menjadi kekasihnya.


"Cantik banget pacarnya, cocok lah sama den Lucas yang bule-bule gini. Wajah pacarnya kaya Korea-Korea gitu hehe." Puji si Ibu sambil tertawa kecil.


"Memang dia ini paling cantik di sekolah, makanya saya suka. Tapi pasti bukan cuman cantik, baik juga pastinya."


Reva lalu menyenggol pelan Lucas yang duduk di sebelahnya, tersenyum tapi dengan mata melotot. Apakah pria itu sedang meledek nya? Baik dari mana sih? Malahan selama pacaran saja, Reva selalu bersikap ketus dan tidak romantis. Tetapi anehnya pada siapapun, Lucas selalu saja memujinya.


"Semoga suka ya neng Reva, nanti biar jadi langganan di sini." Setelahnya si Ibu pun pamit ke depan karena ada pembeli lain.


"Kamu sering makan di sini?" tanya Reva mulai makan.


"Beberapa kali, pas pertama diajak temen," jawab Lucas.


"Kok kaya udah deket gitu sama si Ibunya?"


"Mungkin waktu itu aku yang bantuin dia pas di palak sama preman, tapi Ibunya emang baik sih sama siapapun."


Padahal menurut Reva, tempat makan ini termasuk sangat biasa. Reva bukan pemilih makanan, tapi memang biasanya makannya selalu di tempat mewah. Makanan di sini pun lumayan, apalagi harganya yang sangat murah untuknya.


"Kirain gak suka makan di tempat biasa begini," celetuk Reva sambil menyeruput kuah sotonya.


"Kenapa emangnya?"


"Dari wajahnya kelihatan pemilih dan gengsian." Reva selalu berterus terang dan jujur, membuat Lucas tertawa kecil.


"Gak terlalu sih, yang penting kan makanannya enak. Kalau pemilih, palingan cuman masalah pasangan aja. Aku selalu milih yang terbaik, kaya kamu." Setelah mengucapkan itu, Lucas dengan sengaja mencolek dagu Reva menggoda.

__ADS_1


Reva langsung mengusap dagunya kasar sambil mendengus, sedangkan Lucas yang melihat reaksi jijik dari kekasihnya itu malah tertawa dan tidak merasa tersinggung sama sekali. Lucas selalu berusaha meluluhkan nya, tapi entahlah apa Reva itu sudah membuka hati untuknya atau belum.


__ADS_2