
"Rafael Reva, ini Bunda." Wanita paruh baya itu menghela nafasnya berat karena pintu apartemen tidak dibuka juga, padahal sudah Ia ketuk dari tadi. Karena malu diperhatikan beberapa orang yang lewat, Alisa pun memutuskan masuk, untung saja Ia tahu sandi pintunya.
"Aduh anak-anak ini kemana sih? Apa mereka masih tidur ya?" tanyanya seorang diri.
Melihat keadaan apartemen yang gordennya masih tertutup, membuat Alisa yakin jika anak-anak nya itu masih tidur. Ia pun membuka semua gorden sampai membuat cahaya matahari akhirnya masuk. Alisa lalu menyimpan kresek berisi makanan yang dibawanya dari rumah di meja.
"Sudah mau jam delapan, aku bangunin mereka sekarang aja," gumamnya setelah melihat jam dinding. Mentang-mentang tidak ada kegiatan, jadi bangun siang.
Alisa masuk ke kamar yang lebih dekat dengan ruang utama, kalau tidak salah itu kamar Reva. Saat membukanya, baru saja akan berteriak membangunkan, bibirnya langsung terkatup rapat melihat ke arah ranjang. Kedua mata Alisa berkedip pelan, merasa tidak menyangka melihat pemandangan itu di pagi hari.
"Ya Tuhan, apa.. Apa mereka sudah melakukan itu?" batinnya kegirangan. Alisa sampai melompat-lompat kecil dan menutup mulutnya sanking senangnya.
Di ranjang itu terlihat Rafael dan Reva yang tidur bersama sambil berpelukan. Walaupun bagian bawahnya tertutupi selimut, tapi dari bahu polos, Alisa yakin sekali jika mereka tidak memakai sehelai benang pun. Baju-baju mereka tercecer di lantai, membuatnya semakin yakin jika dua orang itu selesai menghabiskan malam yang panas.
"Engghh!" Rafael mengerang dari tidurnya, perlahan matanya terbuka lalu melihat seseorang yang berdiri di dekat pintu. Saat pandangannya sudah jelas, Rafael tersentak sendiri, "Bunda?"
"Hehe hallo, selamat pagi," sapa Bundanya sambil melambai sebentar.
Rafael melirik sekilas Reva, dengan pelan menarik tangan kirinya yang dijadikan bantal oleh perempuan itu. Rafael bisa merasakan tangannya itu jadi kebas dan pegal, tapi sama sekali bukan masalah untuknya. Rafael lalu membawa celananya lalu memakainya di balik selimut. Setelahnya mendekatinya Bundanya yang sedang tersenyum-senyum.
"Bunda sejak kapan di sini?" tanya Rafael sambil merapihkan rambutnya yang berantakan.
"Barusan sih, pantesan aja gak dibukain pintu. Kalian semalam pasti bergadang ya?" tanya Bundanya sambil menyeringai menggoda.
"Em itu--"
"Apa kalian sering melakukannya? Gak perlu malu-malu begitu lah, lagian kalian kan suami istri."
"Kita bicara di luar aja ya? Kasihan kalau Reva sampai kebangun," ajak Rafael yang sempat melirik istrinya itu lagi di ranjang.
"Oh oke, banyak yang pengen Bunda tanyain sama kamu." Bundanya itu dengan menurut keluar kamar lebih dulu sambil tertawa cekikikan, membuat Rafael menggeleng-geleng.
Rafael membawa baju kaosnya lalu memakainya, setelahnya keluar kamar tidak lupa menutup pintunya lagi. Bundanya perhatian sekali sampai membawakan air hangat, Rafael pun segera meminumnya sampai habis. Kini tenggorokannya yang kering tadi sudah agak lebih baik.
__ADS_1
"Bunda jangan lihatin aku terus kaya gitu ih," protes Rafael tidak nyaman.
"Haha kamu malu ya? Gak nyangka anak Bunda sudah besar, bisa ngelakuin itu juga," celetuknya yang malah semakin membuat Rafael malu.
"Kan kata Bunda gak papa, lagian aku sama Reva suami istri," dengus Rafael.
"Ya memang gak papa kok, gak perlu malu gitu juga sama Bunda." Alisa tidak bisa menahan senyumannya dari tadi, perasaannya sekarang tidak bisa dideskripsikan, yang pasti Ia bahagia.
"Ada apa Bunda pagi-pagi kesini?"
"Hari ini kan ulang tahun Ayah, kamu lupa ya?"
Rafael meringis pelan baru mengingatnya, "Iya lupa, untung aja Bunda ingetin," ucapnya.
"Nanti malam datang ke rumah ya, kita makan besar. Bunda juga mau buat nasi kuning, sekalian mau ngambil pesanan kue di temen."
"Iya pasti aku sama Reva datang, tunggu aja."
"Terus kamu mau ngado apa nanti ke Ayah?" tanya Bundanya.
"Oh gitu ya. Em kan bulan depannya ulang tahun Bunda, Bunda boleh minta kadonya di siapin dari sekarang gak?" tanya Bundanya sambil tersenyum lebar.
"Emangnya Bunda mau apa dari aku sama Reva?" Rafael membawa pisang lalu memakannya.
"Misalnya kadonya kaya test pack gitu hehe."
"Ukhuk!" Rafael sampai tersedak pisang yang belum halus Ia kunyah saat mendengar itu. Ekspresi Bundanya pun terlihat polos sekali saat meminta, Rafael kan jadi gugup sendiri.
"Ih apaan sih Bunda?"
"Loh kenapa? Kalian kan pasti bisa ngasih itu."
"Em maksudnya anak itu kan pemberian Tuhan, jadi ya kita cuman merencanakan tapi Tuhan yang beri." Rafael berusaha menjelaskan masuk akal, padahal alasannya yang sebenarnya bukan itu.
__ADS_1
Alisa terlihat menghela nafas, "Iya sih, tapi kalau bisa kalian yang rajin ya buatnya," sahutnya masih berharap.
"Itu tergantung nanti aja, lagian belum tentu juga kan setiap hari misal aku begituan sama Reva, belum tentu dia bisa langsung hamil."
"Iya sih," gunam Alisa galau. Tetapi wanita paruh baya itu sangat berharap sekali jika Reva bisa cepat hamil, apalagi kan pagi ini Ia melihat pemandangan mereka yang selesai berhubungan panas.
Obrolan mereka lalu terhenti saat melihat Reva yang menghampiri. Perempuan itu terlihat masih cantik walau dengan wajah bantal nya khas bangun tidur. Alisa menaikkan sebelah alisnya baru menyadari sesuatu, jika cara berjalan Reva yang pincang. Rafael yang peka pun beranjak dan membimbingnya ke meja makan, lalu duduk di kursi.
"Ternyata beneran Bunda, tadi aku gak sengaja denger dari kamar," ucap Reva baru membuka suara.
"Iya sayang, Bunda juga baru datang kok."
"Bunda gak bilang-bilang mau kesini, aku jadi bangunnya siang." Reva merasa tidak enak karena terlambat menyambut mertuanya.
"Gak papa Bunda ngerti kok kenapa kamu bisa bangun kesiangan, pasti semalam habis gitu, kan?" Alisa kembali menyeringai sambil menaik turunkan alisnya menggoda.
Perlahan semburat merah terlihat di pipi Reva, "Hah? Em i-iya," jawabnya pelan.
Rafael lalu merangkul bahu Reva, "Sudah Bunda jangan godain Reva terus, kasihan dia malu."
"Ih apaan sih? Baru juga nanya," dengus Alisa melihat putranya yang protektif, memangnya apa salahnya?
"Kamu mau mandi duluan?" tanya Rafael.
"Kayanya iya." Reva merasa badannya sangat lengket, mungkin karena habis berkeringat semalam.
"Ya sudah kamu duluan, nanti aku setelahnya."
"Iya." Reva pun beranjak dari duduknya, tidak lupa berpamitan pada Alisa untuk mandi lebih dahulu. Cara jalannya itu pun kembali di perhatikan oleh dua orang itu.
"Hm Bunda jadi inget pas awal menikah sama Ayah," celetuk Alisa.
Rafael memfokuskan pandangan pada Bundanya itu, "Inget apa?"
__ADS_1
"Pas selesai malam pertama sama Ayah, besok paginya Bunda juga jalan pincang kaya Reva." Alisa menatap Rafael dalam seolah sedang mengintimidasi dan meminta penjelasan lebih pada putranya itu.