
"Ke kantin bareng yuk," ajak Lucas menghampiri bangkunya.
Reva lalu melirik kedua sahabatnya, "Bareng aja sama kita."
"Oh oke." Padahal Lucas inginnya hanya berdua dengan Reva.
Di jam istirahat seperti ini suasana sekolah selalu ramai, kebanyakan para murid di kantin membeli makanan untuk mengisi perut yang lapar. Setelah memesan makanan, mereka berempat duduk di sebuah bangku.
"Nanti pulang sekolah jadi, kan?" tanya Lucas yang duduk di depannya.
"Apaan?"
"Tuh kan udah lupa lagi, pulang bareng lah."
"Oh itu, hm."
"Kita main dulu yuk, kemana gitu."
"Enggak ah males, gue pengen langsung pulang."
"Ke Kafe mungkin? Atau Starbucks?"
"Enggak."
Lucas menghembuskan nafasnya berat karena cukup sulit meluluhkan hati Reva. Tetapi bukan berarti Lucas menyerah, malahan melihat Reva yang bersikap dingin begitu semakin membuatnya tertantang untuk bisa meluluhkan.
"Reva mah emang gak asik orangnya, kalau gitu gimana sama aku aja?" tanya Ica yang kebetulan duduk di sebelah Lucas.
"Hah? Em gimana ya, soalnya nanti sore aku nganterin Reva."
"Iya aku tahu, tapi kalau besok gimana?"
"Tergantung nanti aja ya."
"Besok Lucas bisa gak jemput aku? Mobil aku kayanya bakal dipakai Mama deh," tanya Ica penuh harap.
Lucas sempat melirik Reva, tapi perempuan itu terlihat tidak peduli dan tetap fokus pada makanannya, "Bo-boleh sih."
"Asik, beneran ya? Pokoknya besok aku tunggu jemputan Lucas deh, nanti alamat rumahnya aku kirimin."
"Iya."
Reva yang mendapat senggolan pelan dari Tata, membuatnya menoleh. Melihat sahabatnya itu tersenyum-senyum sambil memberi kode ke arah Ica, membuatnya ikut tersenyum. Memang Ica itu kalau sudah suka pada orang sangat gercep sekali, terus berusaha sampai orangnya pun menyukainya.
"Reva mau kemana?" tanya Lucas melihat perempuan itu berdiri.
"Mau ke toilet sakit perut, kalian lanjut aja makannya."
Saat Reva berbelok, Ia malah bertabrakan dengan seseorang. Makanan yang sedang dibawa itu sampai tumpah ke seragamnya, membuatnya menjerit merasakan panas dari kuah makanannya.
"Reva," panggil Rafael panik menghampiri, "Astaga bagaimana ini?"
__ADS_1
Reva menatap Rafael, bukan pria itu pelakunya, melainkan Dinda. Saat Reva akan berhambur memarahi Dinda, Rafael langsung menahan tangannya sambil menggeleng pelan. Tetapi Reva tidak menyerah dan berusaha melepaskan diri.
"Lepasin!" sentak Reva.
"Jangan Reva, jangan ribut lagi," tegur Rafael memohon.
"Ck tapi dia pasti sengaja, lihat sekarang seragam gue jadi kotor."
"Dia gak sengaja, kan tadi kamu sama Dinda tabrakan. Makanya kamu juga kalau jalan itu lihat-lihat, kenapa buru-buru banget?"
Kenapa Rafael jadi terkesan membela Dinda dan mengalahkan nya ya? Reva sih mengaku memang sedang buru-buru, tapi Ia tidak terima karena suaminya itu bukannya membelanya, malah perempuan lain. Malahan Rafael juga terkesan ingin melindungi Dinda dari amukannya.
"Heh Dinda, lihat si Rafael, dia bener-bener tulus sama lo. Kalau lo masih punya hati, jangan deketin dia cuma karena mau manfaatin doang," ucap Reva sinis.
"Apaan sih Reva? Masih aja nuduh aku begitu, belum puas kemarin?" balas Dinda.
"Ternyata lo munafik banget ya, benar-benar menjijikan."
Rafael menghembuskan nafasnya kasar, "Dinda maaf, kamu makan sendiri aja ya."
"Loh emangnya kamu mau kemana?" tanya Dinda.
"Em aku mau jauhin Reva dari kamu, gak aman."
Sialan, batin Reva. Memangnya Ia penjahat apa?
"Huft ya sudah deh, makasih ya Rafael udah belain aku lagi."
Sebenarnya bukan membela juga, Rafael hanya tidak suka jika Reva itu membuat keributan atau masalah di sekolah. Ia kan sebagai suami harus memberikan sikap yang baik, dan menegur apabila ada yang salah.
"Buka bajunya."
Kedua mata Reva terbelak, Ia pun langsung memeluk tubuhnya, "Hei lo mau ngapain? Jangan aneh-aneh, ini kan di sekolah."
"Pikiran kamu itu," dengus Rafael lalu menyentil kening Reva.
Reva mengerucutkan bibirnya sambil mengusap kening nya, "Kan lo nyuruh gue buka baju, kalau mau begituan inget tempat dong."
"Siapa juga yang mau begituan sih Reva? Aku juga masih tahu diri. Aku nyuruh kamu buka baju karena baju kamu kotor, tuh ada kuah bakso."
Reva menundukan kepala dan bisa melihat noda nya yang mulai menyebar, wangi parfume nya sampai kalah oleh wangi bakso. Memang kurang ajar sekali si Dinda itu, pasti sekarang sedang menertawai dirinya.
"Terus gimana dong?" tanya Reva.
"Kamu gak bawa jasnya?"
"Enggak, males pakai jas gerah."
"Gimana kalau pakai punyaku aja?"
"Jadi maksudnya nanti gue buka seragam ini, terus cuma ditutupin pakai jas?"
__ADS_1
"Iya, dari pada gak pakai apa-apa," gurau Rafael.
Setelah dipikir-pikir sepertinya ide itu cukup masuk akal, Reva juga tidak mau memakai seragam yang sudah bau kuah bakso ini. Kalau ditutupi pakai jas juga mungkin bisa, tidak akan terlalu kelihatan jika di baliknya Ia hanya pakai dalaman.
"Nih jasnya," ucap Rafael memberikan.
"Kenapa lo baik banget, tumben kali ini bantuin gue duluan," sindir Reva.
"Masa aku bantuin Dinda, dia kan gak kenapa-napa."
"Masa?"
"Sudah ah, aku keluar dulu ya biar kamu bisa ganti baju."
"Beliin kantong kresek dong, buat seragam gue."
"Iya, nanti aku bawain."
Setelah Rafael keluar, Reva pun membuka seragamnya. Ternyata jas milik Rafael lumayan besar dipakainya, aneh sekali, padahal tinggi mereka hampir sepantaran. Memang namanya juga laki-laki, tetap saja selalu lebih besar dari perempuan.
"Reva," panggil Lucas berlari kecil ke arahnya.
Reva mengernyitkan kening melihat pria itu, Ia pikir Rafael, "Apa?"
"Lo gak papa?"
"Gak kok, emangnya gue kenapa?"
"Tadi katanya lo tabrakan sama seseorang, sampai seragam lo kotor karena makanan."
"Oh itu, gak papa kok." Ya walau memang sebenarnya Reva masih kesal pada si Dinda.
"Nih."
Reva menerima kantong kresek putih itu, kenapa jadi Lucas yang membawakan?
"Tadi si Rafael minta gue ngasih ini ke lo, buat seragam kotor ya?"
"Terus dia kemana?"
"Dipanggil guru."
Reva mengangguk mengerti, Ia pikir pria itu malah sibuk dengan Dinda. Reva pun memasukan seragamnya ke kantor kresek itu, tidak lupa mengikatnya. Nanti sepulang sekolah akan langsung diberikan ke laundry.
"Terus ini jas siapa?" tanya Lucas yang baru sadar.
"Ini--"
"Baunya parfume cowok, Jangan-jangan ini punya si Rafael?"
Cepat sekali Lucas sadar, membuat Reva jadi gugup sendiri bagaimana tanggapan pria itu.
__ADS_1
"Gue gak bawa jas, makanya dia minjemin. Masa aja gue gak pakai apa-apa, pulang juga kayanya gak bakal diizinin," ucap Reva beralasan.
Lucas lalu membatin, merasa menyesal karena datang terlambat. Mungkin kalau tadi menolong Reva lebih dulu, yang sekarang perempuan itu pakai jas miliknya. Kan Lucas akan lebih senang.