
Ujian Nasional sudah dimulai, terlihat sekali keadaan sekolah sepi karena sedang fokus mengerjakan soal. Kelas sepuluh dan sebelas sengaja diliburkan agar Ujian berlangsung dengan tenang dan fokus. Para guru pun mengawasi dengan baik.
Ting!
Suara bel berbunyi menandakan waktunya istirahat sekaligus berakhirnya Ujian kedua membuat para siswa bernafas lega tapi juga merasa harap-harap cemas. Semuanya beranjak keluar kelas untuk beristirahat sejenak sebelum Ujian ketiga berlangsung di hari itu.
"Kamu lapar?" tanya Lucas menghampiri Reva, sayang sekali mereka tidak di satu kelaskan.
"Lumayan," jawab Reva.
"Yuk ke kantin, kita makan dulu." Dengan santainya Lucas menggandeng tangan Reva, tidak malu sedikit pun bisa bermesraan dengan kekasihnya itu walaupun di perhatikan banyak murid lain. Malahan Lucas merasa bangga bisa memamerkannya.
"Kamu duduk dulu di sini, biar aku yang pesenin ya?" Lucas bersikap gentle seperti biasa.
Reva hanya berdehem saja lalu menyebutkan makanan dan minuman yang ingin dicoba nya. Setelahnya Ia sendirian di sana, menunggu sambil memainkan ponselnya. Mendengar deritan kursi di sebrang nya, membuat Reva sempat melirik. Ternyata itu Rafael dan Dinda, kenapa juga posisi duduknya berdekatan sih?
"Nih makanan kamu, habiskan," ucap Lucas yang sudah kembali. Tetapi baru saja duduk, Lucas melihat sesuatu yang menarik di sebrang nya. Itu Rafael, entah kenapa ingin sedikit bermain-main.
"Kenapa pedesnya sedikit?" tanya Reva melihat kuah bakso nya. Padahal Ia sedang pusing karena mengerjakan soal, mungkin makan yang pedas-pedas bisa membuatnya lebih baik.
"Jangan makan terlalu pedes, nanti kamu sakit perut lagi," tegur Lucas.
"Tapi--"
"Aku tuh khawatir sama kamu, takut kenapa-napa."
Reva mendengus, "Berlebihan, aku baik-baik aja." Lagi pula hanya makan pedas biasa tidak akan sampai membawanya masuk ke rumah sakit, memang si Lucas itu alay sekali.
"Gak kerasa ya besok ujian terakhir, akhirnya selesai juga," desah Lucas penuh kelegaan.
"Hm kaya baru kemarin dimulai," angguk Reva setuju. Lega pastinya karena jika selesai Ujian Nasional, mereka bisa bebas. Tetapi juga khawatir memikirkan nilai, semoga saja sesuai harapan.
__ADS_1
"Kamu sudah nentuin bakal kuliah dimana, kan?" tanya Lucas.
"Sudah kok, gak akan jauh-jauh."
"Aku juga kayanya bakal kuliah di sini aja," ucap Lucas memutuskan.
"Kenapa?"
Lucas lalu membawa sebelah tangan Reva yang kebetulan ada di atas meja, "Aku gak mau pergi jauh ninggalin kamu, aku gak bisa kalau kita LDR an." Papa Lucas memang menyuruhnya kuliah di Amerika, tapi setelah memiliki Reva rasanya enggan sekali untuk pergi.
Reva melepaskan tangannya, "Jangan gitu, kamu gak bisa bersikap egois begitu. Papa kamu itu sudah nentuin masa depan yang terbaik untuk kamu, nanti kamu nyesel sendiri loh."
"Malahan aku bakalan lebih nyesel kalau ninggalin kamu," sahut Lucas penuh cinta.
Reva hanya menghela nafas melihat kesungguhan yang terlihat dari mata Lucas itu, terlihat serius juga membuatnya gugup. Bukan gugup karena tersentuh hati, tapi jika Lucas menetap di sini apakah hubungan mereka pun tetap akan berjalan? Sungguh, Reva merasa sudah muak berpura-pura begini dan ingin menghentikannya.
"Lucas, kamu jangan terlalu berharap sama aku," ucap Reva dengan suara pelan nya khawatir di dengar orang.
"Ingat ya, aku juga terpaksa jadi pacar kamu karena waktu itu kamu ngancam aku. Jangan bersikap berlebihan, karena aku tidak akan tersanjung." Reva memilih berterus terang karena tidak mau Lucas semakin berharap, Reva akan merasa semakin terbebani.
"Sampai sekarang kamu belum ada perasaan sedikit pun untuk aku?" tanya Lucas sedih tapi masih bisa tersenyum. Kalau dihitung, hubungannya dengan Reva sudah mau satu bulan.
"Tidak, maaf," geleng Reva.
Reva tahu mungkin ini akan menyakiti perasaan Lucas, tapi itulah yang Reva rasakan. Lucas selama menjadi pacarnya memang baik, perhatian juga. Tetapi Reva sulit sekali membuka hati, karena Ia tahu dirinya sudah menjadi milik Rafael sepenuhnya. Pria itu lah pemiliknya yang sah.
"Tidak apa, aku akan menunggu," ucap Lucas, Lagi-lagi Ia hanya bisa berharap.
Melihat ada noda saus di sudut bibir Reva, membuat Lucas dengan berani mengusapnya dengan jari tangannya langsung. Lucas lalu tidak sengaja melirik Rafael dan memberikan seringai nya, sudah pasti Rafael itu melihat. Lucas bisa melihat tatapan Rafael yang seperti tidak suka mengetahui dirinya seberani ini.
"Ada apa?" tanya Reva sambil menjauhkan wajahnya dan mengusap bekas Lucas tadi.
__ADS_1
"Ada saus, kamu kalau makan kebiasaan belepotan. Tapi gak papa, kamu lucu kalau gitu," jawab Lucas sambil tersenyum lembut.
Reva ikut melirik ke arah Rafael, apa suaminya itu tadi melihat? Semoga saja tidak, karena Reva entah kenapa akan merasa tidak enak. Reva lalu mengusap bibirnya dengan tisu khawatir masih ada kotoran, nanti Lucas itu semakin berani lagi.
"Sebentar lagi jam ketiga dimulai, yuk ke kelas," ajak Lucas sambil berdiri dari duduknya, keadaan kantin pun sudah sepi.
Reva hanya mengangguk lalu melenggang pergi begitu saja, perempuan itu bahkan tidak menerima uluran tangan Lucas tadi. Lucas yang melihatnya hanya tersenyum kecut, sambil berusaha menguatkan hatinya karena sudah terbiasa dicueki Reva. Lucas juga sadar diri jika perempuan itu memang terpaksa menjalin hubungan dengannya, hanya saja tetap Lucas bahagia.
Di pukul satu siangnya, para murid baru pulang. Terlihat senyuman merekah di semua orang, merasa senang karena besok adalah Ujian terakhir dan rasanya tidak sabar untuk menyelesaikan. Seperti biasa Reva akan di antar Lucas pulang, Reva sudah tidak bawa kendaraannya sendiri karena dilarang Lucas. Katanya pria itu ingin banyak menghabiskan waktu bersamanya.
"Aku pulang dulu, sampai jumpa besok," ucap Lucas sambil mengusap kepalanya sekilas.
"Hm, hati-hati."
Setelah motor yang dikendadai Lucas pergi, Reva pun berbalik untuk masuk ke bangunan apartemennya. Tetapi langkahnya terhenti melihat ada Rafael di sana, sepertinya memperhatikan dari tadi. Reva dengan perasaan sedikit gugupnya berjalan mendekat.
"Di antar dia lagi?" tanya Rafael lebih dulu membuka suara.
"Iya, kan gak bawa mobil." Bukankah Rafael pun tahu? Apa hanya ingin basa-basi saja?
"Sekarang kalian terlihat seperti pasangan sungguhan," ucap Rafael setengah meledek, "Apa yang aku katakan? Kalian kan memang pasangan."
Reva hanya diam dengan perasaan berkecamuknya mendengar Rafael yang terlihat pura-pura kuat itu, padahal hanya dari ekspresi wajahnya saja sudah bisa Reva baca jika Rafael tidak baik-baik saja.
"Kau sudah membuka hati untuk dia?" tanya Rafael penasaran, menunggunya dengan harap-harap cemas.
"Apa?"
"Sepertinya sudah ya, dia hebat juga bisa membuat kamu jatuh cinta. Selamat, semoga kalian langgeng." Rafael mengatakannya dengan pahit, lalu setelah itu berbalik dan masuk lebih dahulu.
Reva memperhatikannya dengan kernyitan di kening, kenapa Rafael berkata seperti itu? Reva tidak suka saat Rafael mendoakan hubungannya dengan Lucas langgeng, memangnya Rafael tidak memikirkan perasaannya sendiri bagaimana?
__ADS_1