
"Jadi Ivana yang melakukannya?!" tanya Reva keras.
Mendengar satu nama itu, membuat amarah Reva naik. Ia memang sudah tahu jika Ivana yang sering bersikap kasar kepada Vanessa. Mentang-mentang atasannya, jadi bersikap seenaknya begitu. Perasaan Reva sebenarnya sudah tidak enak dari waktu hanya membiarkan.
"Lalu dimana sekarang dia?" Reva memperhatikan sekitar berusaha mencari Ivana itu.
"Nona tidak disini, terakhir bibi ketemu saat di rumah saja. Nona Ivana keluar kamar, saat bibi masuk Vanessa sudah pingsan," jawab Citra menjelaskan. Terlihat kedua matanya merah seperti habis menangis.
"Dasar kurang ajar," desis Reva.
Merasakan usapan di bahunya, membuat Reva menoleh. Astaga perempuan itu sampai tidak sadar ada Rafael dari tadi, Reva terbawa emosi sampai melupakan. Melihat pria itu yang tersenyum, membuatnya pun ikut tersenyum.
"Bibi sudah tahu ini dari lama, kan?" tanya Reva.
"Tahu bagaimana?"
"Tahu kalau Ivana itu sering bersikap kasar pada Vanessa. Kenapa bibi tidak berhenti kerja di sana saja? Apa bibi terlalu sayang sampai mengorbankan keponakan bibi itu?"
Citra langsung tertunduk, mungkin merasa tertohok mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Vanessa itu sayang sama bibi, dia bilang akan baik-baik saja dan bertahan di sana karena tidak mau membuat bibi dipecat. Tetapi bibi tidak memikirkan perasaan dia, apa bibi memang tidak menyayangi keponakan bibi itu? "
"Saya sayang sama Vanessa, dia satu-satunya keluarga yang saya punya," jawab Citra cepat. Kedua matanya kembali berkaca-kaca seperti akan menangis.
"Lalu kenapa tidak mencegah? Apa menunggu Vanessa sampai tidak sadarkan diri begini?" tanya Reva tajam.
"Bukan begitu, tapi--"
"Bibi ini lebih sayang pekerjaan bibi atau keponakan bibi itu?" sela Reva. Rasanya gemas sekali ingin menyadarkan wanita itu.
"Saya lebih sayang Vanessa," cicit Citra.
"Kalau sayang bibi akan berhenti bekerja di sana karena tidak tega melihat keponakan bibi itu dikasari. Masih banyak kok pekerjaan di luar sana, aku yakin akan dapat yang lebih baik juga." Nafas Reva sampai naik turun setelah mengatakan itu.
"Maafkan saya hiks!" Citra merasa tersadarkan, membuatnya menangis juga.
__ADS_1
Rafael menepuk bahu Reva, membuat perempuan itu berhenti dan menatapnya, "Sudah Reva," tegur nya.
Dari tadi Rafael memperhatikan dan diam saja, pria itu hanya merasa bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi. Tetapi melihat Reva yang bersikap tegas dan dewasa begitu, tidak bisa berbohong jika Rafael sangat bangga. Istrinya benar-benar banyak berubah.
"Aku hanya kasihan pada Vanessa," ujar Reva membela diri.
Memang rasanya tidak sopan berbicara dengan suara agak tinggi kepada Citra yang pasti usianya lebih tua darinya. Tetapi Reva juga merasa gemas ingin menyadarkan wanita itu, karena Reva ingin menyelamatkan Vanessa.
"Bibi jangan minta maaf pada aku, minta maaflah pada Vanessa," ucap Reva memberi tahu. Di sini Ia hanya bertugas sebagai penengah.
"Iya, saya akan minta maaf pada Vanessa. Terima kasih sudah menyadarkan saya, selama ini saya terlalu tutup mata." Citra berusaha menghentikan tangisannya, tapi ternyata agak sulit.
Rafael lalu menarik istrinya itu untuk duduk di bangku panjang yang ada di sana. Ia lalu minta izin untuk membeli minuman, meninggalkan dua perempuan itu.
"Vanessa sudah sadar belum?" tanya Reva.
"Belum, dokter bilang tidak pasti kapan sadarnya."
"Memangnya luka apa yang Vanessa terima sampai dia tidak sadarkan diri begitu?"
"Bibi tidak tahu pasti, tapi dokter bilang ada pukulan keras di tengkuknya. Untung saja tidak ada luka berat, tapi tetap saja bahaya."
"Apa?" Citra terlihat terkejut mendengar itu.
Reva pun balas menatap wanita itu, "Dia sudah keterlaluan, sudah dari lama juga dia melakukan kekerasan pada Vanessa. Kalau terus di biarkan, dia tidak akan kapok dan akan terus melakukannya."
"Tapi--"
"Bibi jangan khawatir, anda juga tidak perlu takut." Ternyata Citra dan Vanessa itu sama saja, mereka takut melaporkan Ivana.
"Sebenarnya bibi juga ingin melaporkan Nona Ivana, tapi bibi tidak punya apapun dan pasti akan kalah," gumam Citra. Hatinya selalu sakit melihat keponakannya itu di kasari.
"Biar aku yang mengurus semuanya, buktinya juga sudah kuat. Aku yakin Ivana tidak akan lolos, dia sudah benar-benar keterlaluan," desis Reva.
Untuk apa takut pada Ivana? Keluarga wanita itu memang kaya, tapi Reva juga sama kayanya. Apalagi Papanya punya banyak kenalan polisi yang punya jabatan tinggi, Reva yakin semuanya akan berjalan dengan lancar.
__ADS_1
"Reva nih minum dulu," ucap Rafael yang sudah kembali. Tidak lupa juga pria itu memberikan sebotol lagi untuk Citra.
Suasana koridor rumah sakit malam itu lumayan sepi, tidak terasa waktu pun sudah berjalan dengan cepat. Mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing, tapi sama-sama mengkhawatirkan keadaan Vanessa di dalam.
"Nak Reva sama nak Rafael pulang saja, sudah malam," ujar Citra. Merasa kasihan sendiri dengan pasangan muda itu.
"Lalu Vanessa?" tanya Reva.
"Ada bibi, bibi akan jagain Vanessa di sini. Nanti bibi akan kabari lagi kalau Vanessa sudah sadar ya?"
Reva pun mengangguk, "Iya bi, semoga Vanessa cepat sadar."
"Aamiin, terima kasih banyak ya nak Reva sudah menyempatkan waktu kesini. Terima kasih juga untuk semuanya. Vanessa sangat beruntung punya teman sebaik anda."
"Aku juga sama kok," balas Reva.
Setelah berpamitan, pasangan suami istri itu pun memutuskan pulang. Rafael dari tadi tidak banyak bicara, memberikan waktu istrinya ini untuk menenangkan diri dahulu. Rafael pun dengan perhatiannya juga membukakan pintu mobil, setelahnya menyusul masuk lalu mengendarai pergi dari sana.
"Kamu gak papa?" Rafael baru membuka suara.
"Gak papa kok, makasih ya sudah nemenin," jawab Reva sambil berusaha tersenyum.
"Aku benar-benar bingung dengan kejadiannya, aku tidak bisa menyimpulkan ceritanya," ungkap Rafael jujur. Ya walau ada sedikit yang Ia pahami, tapi tetap saja harus mendengar penjelasan yang sebenarnya.
Dan akhirnya Reva pun mulai bercerita, tentang siapa Vanessa dan Ivana itu. Ia memang teman Vanessa tapi merasa sudah ikut campur dan ingin menyelamatkan temannya itu. Dulu sempat akan dibantu, tapi Vanessa yang terlalu takut dan tidak mau membuat masalah menahannya.
"Ya ampun, padahal kalau waktu itu kamu bantu mungkin kejadian ini tidak akan terjadi," ucap Rafael. Walaupun Ia tetap fokus menyetir, tapi telinganya mendengarkan dengan baik.
"Iya memang, aku jadi kesal sendiri."
"Terus selanjutnya bagaimana?"
"Kayanya aku akan laporkan Ivana itu ke polisi, dia sudah benar-benar keterlaluan."
Rafael yang mendengar itu menoleh sekilas, "Wah Reva sekarang jadi beda ya."
__ADS_1
"Ck beda gimana sih?"
"Gak nyangka aja mau bantu masalah orang lain, dulu kan selalu gak mau repot." Rafael bukan sedang meledek, jangan salah paham. Malahan Ia merasa bangga.