
Ternyata benar Rafael menepati janjinya pada Reva untuk menemaninya sampai melahirkan. Pria itu mengambil cuti selama satu tahun dari Kampusnya, lebih mementingkan sang istri yang sedang membutuhkannya.
Tidak terasa waktu pun berjalan dengan cepat, kini kandungan Reva sudah berada di akhir bulan. Perutnya pun terlihat semakin membesar, berat badannya pun sudah pasti makin bertambah. Bukan hanya Rafael yang semakin siaga, tapi juga keluarganya.
"Rafael, aku lagi pengen sesuatu," ucap Reva.
"Kamu mau apa?" tanya Rafael tanpa menatap. Pria itu sedang memijati kaki Reva yang berada di atas pangkuannya.
"Aku pengen es selendang mayang, kayanya siang-siang gini pasti enak makan itu."
Mengetahui sang istri sedang ngidam, mau tidak mau Rafael pun harus mengabulkannya. Sudah ke sekian kalinya Reva meminta ini itu, dan Rafael tidak pernah sekali pun mengeluh atau merasa terbebani, malahan senang bisa mengabulkan keinginan bayinya.
"Tapi kayanya udah jarang yang jualan itu ya?" tanya Rafael.
"Mungkin, udah jarang juga sih ketemu penjualnya. Aku terakhir nyobain pas SMA, itu udah lama banget. Sebenarnya bukan selera aku, tapi tiba-tiba pengen itu," jawab Reva sambil tersenyum kikuk.
Rafael lalu merendahkan badannya untuk mengecup perut besar Reva, "Sayang kamu pasti ya yang pengen es selendang mayang, memang kamu kayanya bisa makan apa aja," ujarnya.
Setiap melihat Rafael yang mengobrol dengan bayinya, selalu membuat Reva senang sendiri. Mereka sekarang sudah tidak malu-malu lagi saling menunjukan keromantisan, toh title pengantin baru sudah hilang karena kini pernikahan mereka sudah mau dua tahun.
"Kamu mau apalagi? Biar nanti sekalian aku beliin," tanya Rafael sambil memakai jaketnya. Ia akan naik motor saja agar lebih cepat.
"Sama kerak telor deh boleh, tapi telornya yang bebek ya?" request Reva.
"Oke, nanti sekalian aku beliin." Rafael berharap semoga dua makanan itu tidak sulit Ia cari, karena tidak mau berlama-lama di luar dan ingin cepat pulang ke rumah.
"Aku berangkat dulu ya." Pamit Rafael, pria itu sempat mengecup kening Reva, lalu keluar kamar.
Reva tersenyum puas melihat suaminya itu pergi akan membelikan makanan yang diinginkannya. Melihat pintu balkon yang terbuka membuat Reva beranjak untuk menutup nya, tapi karena tidak hati-hati Reva malah terpeleset genangan air di dekat pintu sampai membuatnya terjatuh.
"Awww," ringis Reva menahan linu dan sakit.
Merasakan seperti ada air yang keluar dari inti tubuhnya, membuat perasaan panik pun hinggap di dadanya. Reva langsung meminta tolong dengan suara kerasnya, walau sesekali menahan sakit karena perutnya seperti mulas luar biasa.
Ceklek!
"Astaga Reva!" pekik Intan.
"Mama tolong," ucap Reva dengan suara seraknya.
__ADS_1
Intan pun berlari menghampirinya, berjongkok di sisi Reva sambil memperhatikan tubuh putrinya itu, "Sayang kamu.."
"Mah kayanya air ketuban aku pecah, aku akan melahirkan," ujar Reva.
Kedua mata Intan langsung terbelak, "Ya Tuhan, bagaimana ini?"
Intan menjadi panik sendiri dan sempat bingung harus bagaimana, tapi wanita itu mencoba mengatur nafasnya. Setelah Ia lumayan tenang, Intan pun keluar dari kamar itu untuk meminta bantuan pada pembantu dan supir di rumahnya.
Saat kembali mereka dengan bekerja sama membantu menggotong Reva keluar dan akan langsung membawanya ke rumah sakit. Untung saja tas khusus pakaian sudah disiapkan, karena jadwal lahiran Reva memang sudah diberitahu dalam waktu dekat ini.
"Pak kita langsung ke rumah sakit ya, tolong cepetan kasihan Reva," perintah Intan pada supirnya.
"Baik Nyonya."
Intan yang duduk bersebelahan dengan Reva terus berusaha menenangkan perempuan itu. Terlihat bulir keringat di kening putrinya, dan Intan pun dengan perhatian mengusapnya dengan tisu. Melihat Reva yang terlihat beberapa kali meringis kesakitan membuat Intan semakin cemas.
Sesampainya di rumah sakit para suster pun langsung dengan sigap membantu Reva dan memindahkannya ke ruang bersalin. Bidan yang sudah memeriksa Reva lalu memberitahu pada Intan jika masih harus menunggu tiga pembukaan lagi sampai Reva baru bisa melahirkan.
"Mah."
Panggilan lumayan keras itu membuat Intan menoleh, terlihat Rafael yang berlari kecil ke arahnya, "Rafael, kamu dari mana aja?" tanyanya.
"Mama lupa gak ngabarin kamu sanking terlalu panik," ucap Intan.
"Apa Reva mau melahirkan?" tanya Rafael dengan dada berdebar.
"Iya, tinggal nunggu tiga pembukaan lagi. Sepertinya tadi Reva kepeleset, karena seharusnya pembukaan mau melahirkan itu harus menunggu lama."
Mendengar itu membuat Rafael tersentak, "Reva jatuh dimana?" tanyanya cepat.
"Di dekat pintu balkon, Mama lihat ada genangan air di sana."
"Ya Tuhan, " desis Rafael sambil mengusap wajahnya kasar. Perasaan khawatirnya jadi semakin bertambah.
Intan lalu menepuk punggungnya, "Kamu yang tenang ya Rafael, mereka pasti akan baik-baik saja. Jangan lupa berdoa, semoga istri dan anak kamu selamat."
"Iya Mah."
Tidak lupa mereka mengabarkan Harry, lalu kedua orang tua Rafael. Tidak butuh waktu lama ketiga orang itu pun tiba di rumah sakit, ekspresi wajah mereka pun sama-sama menunjukan khawatir dan terus menanyakan Reva.
__ADS_1
"Permisi apa ada suami pasien?" tanya salah seorang suster melengokan kepalanya.
Rafael pun langsung mengacungkan tangannya, ternyata suster itu menawari dirinya untuk masuk dan menemani Reva di dalam, tentu saja Rafael langsung terima. Saat melihat istrinya itu terbaring di ranjang, membuat kedua mata Rafael tanpa bisa ditahan berkaca-kaca.
"Sayang," panggil Rafael lembut.
"Hai." Reva masih bisa menyapanya, padahal sekarang sedang menahan rasa sakit.
Rafael lalu menggenggam tangannya erat, "Aku di sini, aku gak akan tinggalin kamu. Yang kuat ya, kamu perempuan hebat. Aku sayang sama kamu," ucapnya tulus.
"Hm aku juga sayang sama kamu," angguk Reva sambil menahan tangisnya merasa terharu dengan suasana ini.
Selama proses melahirkan itu, Rafael terus menggenggam tangan Reva. Merasakan tangannya dipegang sangat erat, membuat Rafael tahu perempuan itu sedang berjuang dengan keras. Setiap mendengar deru nafasnya yang memburu itu dengan erangan kuat, membuat dada Rafael merasa sesak.
"Owekk!"
Kedua mata Rafael terbuka saat mendengar suara tangis bayi menggema di ruangan itu. Ia melihat bidan itu menggendong bayi mungilnya lalu membawanya ke pojok untuk membersihkannya. Rafael lalu mengecup beberapa kali kening Reva.
"Kamu berhasil Reva, kamu berhasil. Terima kasih sayang sudah berjuang, terima kasih," bisik Rafael. Pria itu sudah menangis dari tadi, kini air matanya semakin mengalir.
Saat suster itu memberikan bayi mungil yang sudah dibalut pakaian hangat itu kepadanya, Rafael sampai gemetar dan tidak bisa berkata-kata. Bayinya terlihat cantik dengan kulit kemerahan, bentuk wajahnya pun sempurna.
"Selamat ya Pak Rafael dan Bu Reva, bayinya perempuan," ucap bidan itu.
"Terima kasih dokter," kata Rafael.
Rafael lalu merendahkan sedikit berdirinya untuk memperlihatkan bayi itu kepada Reva. Keduanya pun kembali menangis saat menatap bayinya, merasa bangga saja karena sekarang sudah menjadi orang tua.
"Kamu mau namain dia siapa?" tanya Reva.
"Rosalind Puspa Hendery, artinya bunga mawar yang cantik. Gimana?" Rafael sudah mempersiapkan ini dari jauh, dan menurutnya sangat cocok.
"Bagus kok, Rosalind pasti akan tumbuh jadi perempuan secantik bunga itu," angguk Reva setuju.
Kedua orang tua mereka pun baru masuk, mereka semua menangis merasa bangga dan terharu di waktu bersamaan. Rosalind pun digendong bergantian, membuat pasangan muda itu yang melihatnya ikut senang sendiri. Sekarang Rosalind akan menjadi kesayangan semua orang.
SELESAI
***
__ADS_1
Terima kasih kepada semua teman yang sudah mampir baca sampai sejauh, jangan lupa mampir ke novel ku yang lain ya.