
Di tengah lelapnya tidur, Reva bisa merasakan seseorang yang ikut naik ke atas ranjang dengan pelan. Perlahan kedua matanya terbuka untuk melihat, tapi sayangnya tidak jelas karena suasana kamar yang temaram. Tetapi dari bau parfume nya, Reva seperti mengenali.
"Rafael?" panggilnya memastikan.
"Hai sayang, maaf ya sudah bangunin kamu."
Mendengar itu membuat kesadaran Reva langsung terkumpul, ternyata benar dugaannya jika itu suaminya. Reva pun ingin bangun dan Rafael yang peka dengan sigap membantu nya. Saat pandangan keduanya bertemu, langsung melengkungkan senyuman.
"Jam berapa sekarang?" tanya Reva dengan suara serak khas bangun tidur.
"Masih jam satu pagi," jawab Rafael.
"Kok kamu pulang malam-malam gini? Katanya mau besok pulang nya." Apalagi ini dini hari, itu berarti suaminya di perjalanan saat malam hari.
"Soalnya kerjaan aku di sana sudah beres, jadi aku mutusin langsung pulang aja," jawab Rafael.
Sebelah tangan Reva terulur mengusap pipi Rafael, bisa merasakan sedikit jambang kecilnya yang menusuk telapak tangan, "Kenapa? Kamu kangen ya sama Rosalind?" tanyanya.
Rafael membawa tangan Reva lalu mengecupnya, "Bukan cuman sama Rosalind, tapi juga sama kamu dan dedek bayi."
Memang sebenarnya melelahkan sekali karena proyek yang Rafael tangani baru selesai di bicarakan pukul sepuluh malaman, di waktu itu juga Ia memutuskan langsung pulang. Untung saja Rafael di antar supir, jadi selamat di perjalanan dan tidak terlalu kelelahan.
"Dasar lebay, padahal baru juga tiga harian," ledek Reva.
"Gak papa, tapi tetep aja kan tiga hari juga kamu kangen sama aku?" goda Rafael sambil menaik turunkan alisnya.
"Hm kangen gak yah?"
Rafael pun memeluk perempuan itu erat membuat Reva pun tertawa kecil karena berhasil menggodanya. Padahal tadi Reva sedang mengantuk, tapi karena Rafael langsung tidak sanking senangnya suaminya itu pulang.
"Dedek gak nakal kan selama Papa gak ada?" tanya Rafael pada bayi di dalam perut Reva. Tubuhnya sekarang lebih rendah untuk bisa mengobrol.
"Aku sempet ngidam mangga muda tengah malam kemarin, tapi belum kesampaian soalnya gak bisa minta sama siapa-siapa," ujar Reva.
Rafael pun mengangkat kepalanya, "Serius? Ya ampun kasihan. Terus sekarang masih mau gak?"
__ADS_1
"Gak terlalu," geleng Reva. Ya namanya juga ngidam, hanya ingin dalam waktu tertentu saja.
"Beneran gak mau? Aku mungkin bisa cari sekarang, semoga aja nemu."
Reva menggeleng sambil menahan tangan suaminya itu, "Gak usah ih, kamu kan capek baru pulang," ucapnya.
"Tapi kamu kan lagi ngidam, aku selalu berusaha kasih yang kamu mau."
Sifat Rafael dari dulu sampai sekarang memang tidak berubah, masih perhatian dan romantis. Mereka memang tidak selalu akur, tapi bertengkar pun tidak pernah lama atau sampai parah. Apalagi usia mereka sudah dewasa, sekarang sudah tidak meninggikan ego masing-masing.
"Sudah gak usah, lagian aku juga sudah gak mau lagi. Mending sekarang kamu tidur, pasti capek banget, kan?" tanya Reva perhatian.
"Iya sih capek, padahal tadi di jalan aku tidur," sahut Rafael jujur.
"Ya sudah ayo kita tidur, aku juga masih ngantuk."
Saat keduanya berbaring, Rafael pun langsung membawa istrinya itu ke pelukan. Sekarang di kasur itu kembali hangat, setelah beberapa hari terasa dingin di sebelah sisi. Dan tanpa waktu lama, mereka pun terlelap tidur.
Kali ini Reva lah yang bangun lebih awal, saat Reva menatap suaminya yang masih terlelap membuatnya tersenyum tipis. Sebelum turun Reva menyempatkan mengecup kening Rafael, setelahnya turun untuk mandi dan bersiap.
"Rahma, apa Rosalind sudah bangun?" tanya Reva saat berpapasan dengan babysitter itu di bawah tangga.
Reva mengangguk, "Hari ini dia sekolah, kan?"
"Iya Nyonya sekolah."
Reva lalu terpikirkan sesuatu untuk lebih cepat membangunkan putrinya itu. Ia pun berjalan dengan riang menuju kamar Rosalind, kamar putrinya itu sangat manis dengan hiasan serba pink muda khas anak perempuan.
Melihat posisi tidur Rosalind yang terbalik membuat Reva menggelengkan kepala. Kenapa anak ini terlihat sangat mirip dengannya dari segi apapun ya? Bukankah biasanya kalau sifat itu menurun dari Papanya? Reva tidak tahu ah.
"Puspa ayo bangun, nanti kamu terlambat sekolah," ucap Reva setelah membukakan semua gorden.
"Enggh." Rosalind hanya mengerang, mungkin kesal karena tidur nyamannya di bangunkan.
Reva pun duduk di sisi ranjang sambil menoel-noel pipi gembul Rosalind, "Puspa bangun, kamu hari ini kan sekolah."
__ADS_1
Perlahan mata bulat yang memiliki bulu mata lentik itu terbuka, tapi tatapannya terlihat tajam pada sang Ibu, "Mama ih jangan panggil aku Puspa!" protes nya dengan suara melengking.
Reva berusaha menahan tawanya, "Kenapa? Kan nama kamu ada Puspa nya. "
"Bukan, nama aku Rosalind, panggilannya itu, bukan Puspa."
"Emangnya kenapa kalau dipanggil Puspa? Kan arti namanya bunga." Sebenarnya Reva sudah tahu alasannya, tapi senang saja menggoda putrinya ini.
"Kaya nama kampungan," celetuk Rosalind. Berbeda lagi dengan nama Rosalind, bagi anak itu seperti nama orang luar negeri dan bagus.
"Dasar," gumam Reva dibuat menggeleng-geleng.
Melihat anaknya itu akan menarik selimut untuk melanjutkan tidur, membuat Reva segera membuangnya jatuh ke lantai. Dan tidak butuh waktu lama Rosalind pun langsung merengek dan berguling-guling di ranjang.
"Hei ayo bangun, jangan gitu ah," tegur Reva.
"Belum jam enam Mama," rengek Rosalind.
"Ya sudah kalau gak mau bangun, Mama gak akan kasih kamu kejutan."
Tubuh kecil itu pun berhenti memberontak, menatap bingung Mamanya yang berdiri di sisi ranjang, "Kejutan apa?" tanyanya.
"Papa sudah pulang loh, dia sekarang masih tidur di kamar Mama."
Melihat Rosalind yang langsung terduduk dengan ekspresi wajah bahagianya, membuat Reva terkekeh kecil merasa lucu saja. Ternyata bujukan nya berhasil, dan anaknya itu sekarang pasti tidak akan tidur lagi.
"Papa sudah pulang?" tanya Rosalind keras.
"Iya sudah semalam, ayo bangun."
Rosalind segera turun dari ranjangnya, lalu berlari kecil keluar kamar. Reva yang melihat itu sudah tahu jika anaknya itu pasti akan ke kamar atas untuk menemui Rafael, Reva pun mengikuti saja di belakang.
Saat Reva masuk ke kamarnya, terlihat Rosalind duduk di atas perut Rafael sambil memeluknya erat. Rafael hanya bergumam tidak jelas sambil mengulurkan tangan ke arah Reva seperti kode meminta tolong.
"Papa aku kangen banget sama Papa, kenapa Papa gak bobo di kamar aku? Papa bawa oleh-oleh gak buat aku? Pokoknya Papa jangan pergi-pergi lagi ya, nanti aku nangis lagi," ucap Rosalind cerewet.
__ADS_1
"Aduh sayang Papa gak bisa nafas, kamu meluk leher Papa terlalu erat." Rafael bahkan mengatakan itu dengan susah payah.
Rosalind pun melepaskan pelukannya, walau begitu Ia tidak turun dari atas tubuh Rafael dan malah tersenyum kuda menunjukan wajah polosnya.