Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
97 Kencan Malam


__ADS_3

Selesai mandi terlihat wajah Rafael yang berseri-seri, senyumannya pun dari tadi tidak luntur di bibirnya. Ya siapa juga yang tidak senang sudah mendapatkan jatah, kepalanya yang berdenyut pusing pun dalam sekejap bisa hilang begitu saja. Rafael bahkan dengan manjanya lagi ingin memakai baju bersama di kamar Reva.


"Kayanya aku gak perlu deh punya sixpack biar bisa dapat hadiah itu," celetuk Rafael di tengah kerjaannya memakai celana.


"Kenapa? Jadi gak mau dapet hadiah itu ya?" tanya Reva menoleh sekilas, tapi kembali melanjutkan menatap ke cermin sedang menyisir rambutnya yang basah.


"Ya mau banget lah, tapi kayanya tanpa ada persyaratan pun aku bisa dapetin hadiah itu hehe." Rafael menyeringai baru memikirkan ini.


"Huh dasar, kamu aja yang suka nyari kesempatan," dengus Reva.


Rafael pun mendekat lalu berdiri di belakang Reva yang duduk di meja rias nya. Ia mengambil alih sisir yang sedang perempuan itu gunakan, Rafael kini yang menyisirkan rambut panjang perempuan itu. Reva pun hanya membiarkan saja.


"Tapi kamu juga suka, kan?" tanya Rafael.


"Hah?" Perlahan semburat merah terlihat di pipi Reva, malu-malu digoda seperti itu.


"Tadi aja ******* kamu itu menggema di kamar mandi, sampai-aww!" Rafael tidak melanjutkan perkataannya saat mendapatkan cubitan pedas di perutnya, tentu saja siapa lagi kalau bukan ulah Reva.


"Ish udah ah, jangan bahas itu," kesal Reva. Ia kan jadi malu sendiri kalau mengingatnya, Rafael ini memang hobi sekali menggodanya.


"Ya gak papa dong, kan kita sudah menikah, terus cuman berdua aja. Malu sama siapa?"


"Terserah lah, tapi jangan bahas itu!"


"Huft iya-iya, dasar."


Setelah merasa dirinya sudah rapih, Reva pun berdiri dan baru menyadari jika Rafael belum memakai baju alias hanya telanjang dada. Reva menggelengkan kepala lalu menyuruh pria itu cepat memakai pakaiannya, karena mereka akan makan di luar. Reva yang meminta, anggap saja sebagai bayaran tadi.


"Pakain aku dong bajunya," pinta Rafael manja.


"Huh dasar bayi besar." Tetapi Reva tetap memakaikan baju kaos warna putih itu pada Rafael, setelahnya dibaluti lagi dengan jaket coach warna coklat.


"Kamu emangnya mau makan dimana?" tanya Rafael.


"Lagi pengen makan nasi gila, ituloh yang lagi viral itu," jawab Reva dengan mata berbinar nya.

__ADS_1


"Tumben kamu mau makan yang kaya gitu," celetuk Rafael.


"Hei emangnya kenapa sama makanan itu? Aku tuh penasaran karena katanya enak." Reva bisa makan apa saja kok, Ia kan bukan pemilih.


"Iya emang enak, cuman kan biasanya dijualnya di pinggir jalan gitu."


"Ya gak papa lah, malahan aku pengen makannya di trotoar juga sambil lihat jalan."


Kernyitan terlihat di kening Rafael, kepalanya pun menunduk memperhatikan wajah Reva dari dekat, "Kamu lagi ngidam ya?"


"Hush terus aja bilang gitu, emang salah ya kalau lagi pengen makan sesuatu? Selalu aja di bilang lagi ngidam." Reva memutar bola matanya malas merasa bosan sendiri dituduh seperti itu. Bukannya normal ya seseorang sedang menginginkan sesuatu?


"Ya sudah deh, yuk kita berangkat sekarang."


Mereka memutuskan menaiki satu mobil saja, yaitu mobil Rafael. Reva juga sempat mengatakan ingin sekali menaiki motor agar lebih seru jalan-jalannya, tapi kan mereka tidak punya motor jadi memakai kendaraan yang ada saja. Rafael yang melihat istrinya itu malam ini sangat random hanya tersenyum saja.


Menuju alun-alun yang biasanya banyak pedagang kaki lima jaraknya tidak terlalu jauh. Seperti biasa di sana selalu ramai, kebanyakan anak-anak muda yang sepertinya sedang main atau nongkrong. Saat turun dari mobil Rafael dan Reva langsung bergenggaman tangan, berjalan kaki menelusuri sekitar mencari tempat penjual makanan itu.


"Wah antri banget, kita bakalan nunggu lama," ucap Rafael melihat salah satu pedagang yang banyak dikerubuni orang-orang, "Gimana kalau nyari tempat yang lain?" tanyanya pada Reva.


"Tapi kalau nunggu pasti lama, keburu kelaparan. Kamu mungkin mau makan yang lain?"


Reva menggeleng, Ia tetap kekeuh ingin makan-makanan itu, "Gak mau, aku pengennya makan nasi gila," tegasnya.


"Hm ya sudah, kita tunggu aja."


Saat Rafael menanyakan pada si penjual, katanya mereka harus menunggu kira-kira setengah jam an sampai pesanan datang. Tetapi ternyata Reva setuju-setuju saja, tumben sekali perempuan itu mau repot menunggu. Khawatir keduanya kelaparan, Rafael pun berinisiatif membeli cemilan pukis yang kebetulan di sebelah pedagang itu.


"Gak tahu kapan kita nanti bisa begini lagi," ucap Reva di sela makannya.


Rafael menatap perempuan itu, langsung mengangguk menyetujui, "Iya bener, setelah aku ke Amerika entah kapan kita bisa jalan-jalan malam berdua kaya gini lagi."


"Kalau aku sih mungkin bisa sama temen-temen, kalau kamu di Amerika kan gak ada yang kaya begini," sahut Reva.


"Iya bener, terus di sana makanannya mahal-mahal."

__ADS_1


"Tinggal beberapa hari lagi ya?"


"Iya."


Rasanya waktu cepat sekali berjalan, keduanya merasa galau karena akan dipisahkan dalam jangka waktu yang lama. Tetapi ini juga demi masa depan mereka, dan memang harus ada satu yang di korbankan. Berharap walaupun berpisah jarak, tapi hati keduanya tetap menyati dan tidak ikut berpisah juga.


"Permisi ini pesanan ya sudah jadi, maaf ya menunggu lama," ucap seorang anak laki-laki yang bertugas di sana sebagai pengantar pesanan.


Rafael dan Reva pun segera menerima pesanan mereka, tidak lupa mengucapkan terima kasih. Dari wanginya saja sudah enak, apalagi asapnya masih mengepul. Makan-makanan hangat di malam yang dingin begini pasti akan menambah nafsu makan.


"Pelan-pelan makannya ya ampun, nanti keselek," tegur Rafael yang melihat Reva makan dengan lagap, baru pertama kali.


Reva terkekeh kecil, "Hehe habisnya enak, ternyata gak salah nasi gila ini beneran enak."


"Kamu seneng?"


"Iya lah, makasih ya udah ajak kesini."


"Iya sama-sama, aku juga seneng kita jalan-jalan malam begini."


Mereka duduk di sebuah bangku panjang yang menghadap ke jalanan yang lumayan ramai. Tidak ada malunya sedikit pun, lagi pula di sana juga banyak orang-orang. Mereka memang orang yang cukup berada, tapi tidak malu jika terlihat sederhana.


"Mau apalagi sebelum pulang?" tanya Rafael memastikan. Sekarang keduanya sudah kekenyangan, apalagi porsi nasi gila kan sangat banyak.


"Pengen es tebu dong," jawab Reva sambil menunjuk salah satu stand makanan.


"Kamu tunggu di mobil aja, biar aku yang beliin, biar cepet."


"Beneran nih?"


"Iya."


"Oke makasih."


Reva pun berjalan dengan riang kembali ke mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari sana. Malam ini sangat menyenangkan, Ia dan Rafael bisa kencan bersama sebelum mereka berpisah tempat yang jauh.

__ADS_1


__ADS_2