Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
7 Selalu Mengalah


__ADS_3

"Huwek!"


"Eh Rafael kenapa?" tanya Samuel terkejut.


Rafael tersenyum kikuk sambil mengusap lehernya. Ia bukan mual, tapi efek di cekik kan selalu seperti itu. Memang Reva itu bar-bar sekali, selalu saja menjahili nya. Kalau ketahuan Samuel kan tadi bisa bahaya.


"Hehe gak papa kok Pah," jawab Rafael.


"Atau jangan-jangan Reva hamil?"


Kedua remaja itu langsung membelakan matanya terkejut, mereka pun langsung membantah secara bersamaan dengan suara keras. Samuel yang melihat reaksi panik anak-anaknya, dibuat tertawa.


"Ya ampun, santai saja dong," ucapnya.


Reva mengerucutkan bibirnya, "Habisnya Papa aneh-aneh aja, masa aku hamil sih?"


"Loh ya gak papa dong, kan kalian sudah menikah."


"Tapi kan aku masih muda, masih sekolah juga."


"Jadi kamu maunya nanti punya anaknya pas lulus sekolah?"


Tidak tahu juga, keputusan ini membuat pasangan itu bingung sendiri. Lagi pula hubungan mereka ini rumit, dijodohkan saat usia masih muda. Memikirkan memiliki anak, terasa menggelikan saja karena belum memikirkan itu.


"Ya sudah lah, menurut Papa juga memang nanti saja saat kalian sudah mapan dan siap. Jangan terlalu buru-buru."


"Ih apaan sih Pah, buru-buru apaan," dengus Reva.


"Ya biasanya kan pengantin baru itu masih semangat-semangat banget begituan."


"Memangnya Papa sama Mama dulu juga gitu?"


"Iya lah," jawab Samuel tanpa malu, "Kalian juga, kan?"


Rafael dan Reva pun saling bertatapan dan langsung tersenyum tidak ikhlas satu-sama lain. Mereka bahkan belum pernah berhubungan badan sama sekali, tapi tidak mungkin juga menjawab jujur karena akan mengungkap rahasia keduanya yang tidak akur.


"Ekhem Pah, kayanya kita mau pulang sekarang," pamit Reva.


"Loh kok buru-buru? Papa kira kalian mau nginep di sini. "


"Besok kan kita sekolah Pah."


"Iya juga ya, tapi kalau kalian bawa seragam bisa kali menginap."


"Iya lain kali saja nginepnya."


"Ya sudah."


Samuel lalu mengantar anak-anaknya itu sampai ke depan rumah. Padahal saat ada mereka, Samuel merasa tidak kesepian. Sedih sebenarnya harus berjauhan dengan putrinya, tapi sekarang pun Reva sudah menjadi milik orang lain.


"Papa pasti kesepian ya di rumah sendirian?" tanya Reva.


"Iya, makanya kamu dan Rafael tinggal di sini aja. Temani Papa."


"Enggak, kita kan harus hidup mandiri karena sudah menikah."

__ADS_1


"Tapi Papa masih merasa kamu anak kecil, gak nyangka aja sekarang ada yang menanggung jawab hidup kamu."


Reva membalas pelukan Papanya itu, Ia juga tidak menyangka di usianya yang masih delapan belas tahun sudah menikah. Padahal dulu sempat memikirkan berbagai rencana untuk hidupnya di masa depan.


"Jadilah istri yang baik dan berbakti pada suami kamu, mengerti?"


"Iya Pah."


Samuel beralih menatap Rafael, "Rafael, Papa titip Reva ya. Jaga dia, sekarang kan Reva tanggung jawab kamu."


"Pasti Pah, aku akan selalu menjaga dia."


"Papa percaya, ya sudah kalian pulang gih. Takut terlalu malam, besok kan harus sekolah."


"Iya kami pergi dulu."


"Hati-hati."


Sebelum melajukan mobilnya pergi, Rafael sempat menekan klakson mobilnya tanda perpisahan. Setelahnya pria itu pun menjalankan kendaraannya pergi dari sana dengan kecepatan sedang.


"Hahahaha!"


Rafael terkejut mendengar Reva yang duduk di sebelahnya tiba-tiba tertawa keras. Perasaan khawatir pun hinggap di dadanya, jangan-jangan perempuan itu kesurupan lagi?


"Heh Reva, kamu kesurupan ya? Masih sadar gak? Jangan nakut-nakutin dong."


Plak!


"Sialan lo, gue gak kesurupan," bantah Reva.


"Terus kenapa ketawa terus?" tanya Rafael bingung.


"Lucu aja pas tadi Papa bilang ke elo buat jagain gue."


"Lucu dari mananya?"


Dengan sekuat tenaga, Reva menghentikan tawanya itu. Perutnya sampai keram karena terus tertawa, merasa lucu saja dan terus teringat pada kejadian tadi.


"Iya lucu, masa lo mau jagain gue sih?"


"Aku kan suami kamu, ya emang sudah kewajiban dong harus jagain."


"Kebalik kali, yang ada gue yang jagain lo."


"Hah?"


"Iya lah, lo kan cowok lemah lembut, mana bisa jagain gue."


Rafael mendengus karena lagi-lagi diledek, "Reva itu cewek, mana mungkin jagain cowok."


"Inget ya, gue cewek juga kuat dan gak lemah. Tenang aja, biar gue aja yang jagain lo."


"Hah ya sudahlah, terserah Reva mau gimana."


Reva hanya mengedikkan bahu melihat Rafael yang kalah berdebat dengannya. Memang sepertinya benar perkataannya, jika Rafael tidak akan bisa menjaganya. Pria itu terlalu lemah dan culun, dengannya saja selalu kalah.

__ADS_1


"Gue pengen sate dong," celetuk Reva.


"Tadi kan sudah makan malam, emangnya masih laper?"


"Iya, cari tempat sate di sekitar trotoar dong."


"Dasar rakus."


"Apa?!"


"Kamu itu emang suka makan banyak ya Reva, tapi anehnya badan kamu tetap langsing. Kayanya semua makanan kamu diemnya di beberapa tempat aja."


"Oh ya? Dimana emangnya?"


"Di dada sama bokong kamu."


Mendengar itu membuat Reva langsung menyeringai, Ia pun duduk bergeser mendekati Rafael, "Ternyata lo diam-diam suka merhatiin badan gue ya. Jadi gue montok, kan?"


"Iya montok, tapi aku gak terlalu suka."


"Loh kenapa? Bukannya cowok-cowok pada suka cewek montok ya?" tanya Reva tersinggung.


"Kayanya itu mah cowok kurang ajar aja, beda lagi sama cowok baik-baik kaya aku. Kalau aku lebih suka cewek yang badannya biasa aja, kurus gitu."


"Huh dasar, emang aneh lo ini. Iyalah lo suka cewek kurus, lo aja kurus kerempeng begitu!"


Rafael hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak terlalu peduli diledeki seperti itu. Ia menerima fakta jika badannya ini memang terbilang cukup kurus, bahkan tingginya pun dengan Reva hampir sepantaran. Untung saja wajah tampannya ini mendukung.


"Tuh ada tukang sate, kamu aja gih yang turun, aku tunggu di sini ya."


"Kok lo gak gentle banget sih jadi cowok," ketus Reva.


"Tapi kan Reva yang mau satenya, aku enggak."


"Enggak-enggak, pokoknya lo yang turun buat beli. Jangan gitu sama cewek, tadi aja bilang sama Papa bakal jagain gue!"


"Hah ya sudah," desah Rafael mengalah.


Dengan malas pria itu turun, langsung menggigil merasakan angin malam yang dingin. Demi istri jadi harus berkorban, lagi pula memang sudah seharusnya memanjakan begini. Rafael juga malas jika berdebat dengan Reva, lagi-lagi selalu mengalah.


"Pak pesan satu porsi untuk sate sapinya ya," ucap Rafael.


"Oh iya dek, siap."


"Berapa ya?"


"Cuma dua puluh empat ribut."


"Ini uangnya, kembaliannya ambil aja."


"Wah beneran nih? Makasih ya dek, sudah ganteng baik lagi."


"Sama-sama."


Karena jarak ke mobil lumayan jauh, jadi Rafael memutuskan menunggu di bangku panjang di sana saja. Enak sekali Reva itu menunggu di mobil, padahal yang ingin makan bukan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2