Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
93 Puas-puas Bermesraan


__ADS_3

"Ya sudah deh gak papa, masih bisa peluk juga tidurnya." Tampaknya Rafael belum menyerah merayu istrinya itu, sekarang sedang ingin bermesraan walau tidak bisa lebih.


Pria itu pun melompat dengan riangnya ke atas ranjang, setelahnya melirik Reva sambil melambaikan tangan meminta mendekat. Saat Reva baru naik, Rafael pun langsung menarik tangannya hingga perempuan itu pun jatuh ke atas tubuhnya.


"Ih Rafael, sakit tahu," kesal Reva sambil memukul pelan tangannya. Wajahnya sampai terbentur dengan dada pria itu, hidungnya yang mancung jadi agak sakit.


"Ututu mana yang sakit hm? Sini biar aku obatin." Rafael pun merangkum wajah Reva dan mengecup puncak hidungnya, memang dasar cari kesempatan sekali pria itu.


"Dasar," dengus Reva lalu berbaring dengan benar di sebelah Rafael. Tubuhnya yang dipeluk pria itu dari samping tidak membuat Reva protes, Ia perlahan sudah biasa mendapatkan tingkah berani suaminya itu.


"Sebenarnya aku juga mikirin ini, pasti nanti kalau kita berjauhan aku bakalan kangen kalau kita lagi berduaan kaya begini," celetuk Rafael tanpa bergerak dengan masih menelusup kan kepalanya di ketek Reva, kedua tangannya pun memeluk pinggang perempuan itu.


"Awas aja ya nanti kalau kamu malah beginian sama cewek lain," ancam Reva dengan nada suara tertahannya.


"Aku gak berani, cuman berani nakalnya sama kamu aja." Rafael kan laki-laki yang baik dan tidak suka aneh-aneh.


"Kan siapa yang tahu, pokoknya nanti harus cari temen yang baik-baik juga."


"Ya iyalah Reva, lagian aku yakin semua mahasiswa di sana itu anak yang baik-baik," celetuk Rafael memberitahu, apalagi yang masuk ke Harvard kan hanya orang terpilih yang terbaik saja.


"Benar juga." Batin Reva merasa tertohok.


"Malahan seharusnya aku yang khawatir sama kamu, apalagi aku gak bisa perhatiin kamu terus karena kita akan berjauhan," ucap Rafael, "Apa dua temen deket kamu itu kuliah di sana juga?"


"Enggak, Tata di Yogyakarta kalau Ica katanya mau kerja dulu," jawab Reva.


"Itu berarti kamu bakalan ketemu orang-orang baru, harus biasain sifat sama mereka lagi. Kamu harus cari temen yang baik dan kalau bisa mending sama cewek-cewek pendiem aja," usul Rafael.


"Nanti kalau gue gabungnya sama yang pendiem, gak bakal seru dong," celetuk Reva. Sifatnya ini kan sangat ekstrovert sekali, Ia juga anak gaul.


"Ya sudah deh terserah Reva, yang pasti jaga sikap dan jangan aneh-aneh aja." Rafael hanya khawatir Reva membuat ulah, apalagi dirinya tidak akan ada di sini dan tidak bisa memperhatikannya terus.

__ADS_1


"Gimana kalau pas aku pindah, Reva tinggal di rumah Bunda sama Ayah aja? Atau kamu mau tinggal sama Papa lagi?" tanya Rafael terpikirkan ini.


Reva menurunkan pandangannya, membuat mereka bertatapan, "Kenapa harus tinggal sama mereka? Terus apartemen ini gimana?"


"Biar Reva ada yang jaga aja, aku khawatir kalau Reva tinggal sendirian kenapa-napa."


"Ck aku gak akan kenapa-napa, lagian udah besar." Rafael itu terlalu berlebihan.


"Bukan cuman itu, tapi aku takutnya Reva malah bawa cowok lain ke sini." Rafael langsung mengatupkan bibirnya karena terlalu jujur dengan prasangka nya itu.


Tatapan Reva memicing, perempuan itu lalu menyentil kening Rafael, "Emangnya aku cewek apaan?!" tanyanya sewot.


"Bu-bukan gitu, tapi kan cuman jaga-jaga aja. Kaya waktu kamu bawa Lucas kesini." Rafael berubah mencari pembelaan dan merasa dugaannya itu tidak salah karena sedang ber hati-hati.


"Kalau itu kan beda, sebenarnya waktu itu cuman gak mau kalah aja dari kamu." Sebenarnya Reva malu mengatakan ini, tapi lebih baik diungkapkan saja.


"Gak mau kalah gimana?"


"Oh jadi kamu mau buat aku cemburu gitu?" Rafael menyeringai menebaknya.


"Ya bisa dibilang begitu, tapi emangnya kamu cemburu waktu itu?"


"Iyalah," jawab Rafael cepat, "Tapi aku pura-pura biasa aja, soalnya gak mau ketahuan."


"Huh dasar tukang jaga image," ledek Reva.


"Hei kamu juga begitu, gengsian," balas Rafael dan mereka pun tertawa bersama.


Tidak terasa keduanya sudah mengobrol lumayan lama, di pukul sepuluh malamnya pun baru tidur. Sesekali Rafael selalu terjaga dari tidurnya, dan Ia selalu melirik Reva di sebelahnya. Rafael yang merasa pelukannya terlepas pun kembali memeluk Reva. Hanya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas.


Besok paginya Rafael bangun lebih dahulu, Ia pun membangunkan Reva untuk mengajaknya nge gym bersama. Istrinya itu sempat menolak karena beralasan masih ngantuk dan malas, tapi karena terus Rafael ganggu akhirnya terpaksa menurut juga. Tetapi tentu saja dengan imbalan sesuatu yang akan diberikan.

__ADS_1


"Hei sudah jam enam loh, kok lemes gitu sih?" tanya Rafael yang sedang mengangkat barbel kecil di kedua tangannya. Posisi Reva duduk ber selonjoran di sebelahnya.


"Siapa juga yang gak lemes kalau dipaksa olahraga pas lagi enak-enaknya tidur?" ketus Reva masih kesal.


"Ayolah jangan malas gitu, kamu juga harus rajin olahraga biar sehat." Rafael selalu nge gym sendirian, melihat orang lain yang datang dengan pasangannya membuatnya iri jadi ingin pergi bersama Reva juga.


"Tapi aku jarang sakit kok," sahut Reva membela diri.


"Ya siapa yang tahu, tapi kan kalau olahraga makin bagus dan buat sehat."


Rafael pun menyimpan barbel kecil itu di bawah, nafasnya memburu merasa lelah dengan keringat kecil terlihat di kening dan lehernya. Saat Rafael berkaca di cermin besar, pria itu menyadari tubuhnya mulai berubah dan menjadi lebih bagus walau belum berotot.


"Nanti kalau aku punya sixpack di perut, bakalan kamu kasih apa?" tanya Rafael sambil melirik Reva.


"Gak mungkin sih." Reva terlihat meremehkan, harapan Rafael itu terlalu tinggi. Untuk mendapatkan otot indah di perut itu kan tidak mudah.


"Ya bisa aja, nanti pasti Reva bakalan klepek-klepek," celetuk Rafael tertawa sendiri merasa konyol.


"Oke gimana kalau sebelum pergi ke Amerika kamu udah punya sixpack, aku bakal kasih sesuatu," tantang Reva.


"Hadiahnya apa emangnya?"


Reva pun berdiri dari duduknya mendekati Rafael, Ia lalu berbisik di telinganya, "Kamu bisa minta lebih dari satu ronde."


Mendengar jika hadiahnya adalah hal luar biasa itu, membuat Rafael menelan ludahnya kasar dengan kedua mata berkedip pelan menatap Reva yang sedang menyeringai ke arahnya. Ah istrinya itu memang paling bisa sekali menggodanya, Rafael kan jadi merasa tertantang dan sudah pasti akan menerima penawaran itu.


"Oke aku akan usaha, tapi awas aja kalau Reva inkar janji lagi." Rafael kan patah hati semalam karena tidak diberikan jatah, padahal Ia sudah memintanya.


"Ya enggak lah, kan bulan ini haid nya minggu ini."


"Deal ya?"

__ADS_1


Reva pun menerima jawaban tangan itu, "Iya, tapi lihat aja nanti." Karena Reva yakin Rafael tidak akan semudah itu mendapatkan sixpack di perutnya.


__ADS_2