
Selesai makan malam, keduanya langsung ke kamar untuk istirahat. Reva duduk dengan tidak nyaman di ranjangnya, memperhatikan Rafael yang sedang ber telepon entah dengan siapa, tapi terlihat serius. Entah kenapa, Reva merasa gugup dengan suasana yang berbeda ini. Malam ini tidak akan terjadi hal aneh-aneh, kan?
Tuk!
"Ngelamun aja, kenapa?" tanya Rafael setelah mencolek dagu Reva, membuat perempuan itu pun menatapnya.
"Gak papa," bantah Reva sambil berusaha tersenyum. Sepertinya dirinya terlalu berlebihan, sampai memikirkan terlalu jauh.
"Nah kan bohong lagi, baru aja tadi sore aku bilang untuk jangan nyembunyiin sesuatu dari aku." Rafael tahu kalau Reva sudah melamun, pasti sedang ada yang dipikirkannya. Pria itu pun duduk di sebelahnya, sambil menyimpan ponselnya di meja.
"Enggak ih, lagian ngelamun itu enak," bantah Reva sambil mencari alasan.
"Emang sih enak, tapi katanya jangan terlalu lama nanti kesurupan," sahut Rafael.
Reva tertawa kecil, "Lo percaya itu?"
"Gak tahu, tapi bisa aja, kan?"
"Kalau gue sih gak percaya," acuh Reva sambil mengedikkan bahunya.
"Ya setiap orang berhak percaya atau enggak, gak terlalu penting juga sih." Setelah itu hening, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Reva memainkan jari tangannya kembali dilanda gugup, apalagi Rafael duduk di sebelahnya dan cukup dekat. Reva merutuki dirinya sendiri yang terlalu berpikiran jauh, sampai menganggap akan terjadi suatu hal di antara mereka. Memang kadang otaknya ini jorok sekali.
"Besok kita berangkat subuh-subuh, gak papa?" tanya Rafael meminta pendapat.
"Terserah sih mau jam berapa aja, tapi emangnya kalau pagi gitu gak bakalan macet?"
"Pasti macet, cuman menurut aku di perjalanan pagi sampai siang lebih aman dan tenang dari pada malam." Apalagi Rafael sudah merasakannya, dan itu benar-benar sangat tidak nyaman.
__ADS_1
"Lo sih nekad, untung aja gak kenapa-napa," ucap Reva. Antara kesal sendiri dengan sikap nekad suaminya itu, tapi terharu juga karena Rafael berjuang sampai sebegitunya hanya untuk bertemu dengannya.
"Reva sih nakal, makanya aku sampai nekad gitu nyusul kamu." Rafael lalu membawa sebelah tangan Reva ke genggamannya, "Tapi syukur deh kamu gak hilang dan baik-baik aja di sini."
"Kalau semisal gue beneran hilang gimana?" tanya Reva menantang.
"Ya jangan lah, bukan cuman aku yang khawatir, tapi semua orang. Mungkin mereka semua juga bakalan nyalahin aku, dianggap gak becus jagain kamu."
Mendengar itu membuat Reva terdiam dengan perasaan tertohok, Tiba-tiba merasa bersalah sendiri. Padahal jika pun semisal Ia melarikan diri, itukan bukan salah Rafael sepenuhnya karena dirinya juga yang nekad pergi. Tetapi karena pria itu adalah suaminya, jadi dianggap yang paling bertanggung jawab di sini.
"Maaf ya sempet buat lo cemas," gumam Reva pelan.
"Gak papa, Reva kan lagi ngambek. Sekarang sudah enggak, kan?"
"Enggak, hilang gitu aja pas lihat lo tiba-tiba tidur di sebelah gue."
Kini giliran Rafael yang tertawa, "Subuh itu aku capek banget, jadi tidur aja di sana. Lagian gak papa lah ya, kita kan suami istri."
"Jadi malam ini bolehkan tidur bareng lagi?" tanya Rafael sambil tersenyum-senyum.
Reva tidak langsung menjawab, "Hm gimana yah?" Ia akan sedikit menggoda suaminya itu.
"Masa aku tidur di kamar lain, nanti Oma curiga lagi," ucap Rafael seolah memberi alasan lain padahal sedang membujuk.
"Tapi Rafael, gue sempet cerita loh sama Oma kalau sebenarnya kita gak terlalu akur."
"Aku tahu, aku juga kaget pas Oma bilang kita lagi berantem makanya kamu kesini gak bilang-bilang. Terus cerita apa saja kamu sama Oma?" Rafael jadi sedikit khawatir jika istrinya itu mengatakan hal buruk tentangnya, tapi tidak mungkin, kan?
"Gak bilang inti masalahnya sih, tapi Oma juga ngerti kalau suami istri itu katanya ribut dan cekcok hal biasa. Oma cuman nyuruh aku bicara sama lo dan nyelesain ini."
__ADS_1
Rafael mengangguk lalu duduk dengan menghadapkan tubuhnya ke Reva, "Sekarang aku yang tanya, kalau semisal aku gak nyusul kesini dan pura-pura gak tahu. Sampai kapan Reva akan sembunyi?"
Reva mengusap dagunya seperti sedang berpikir keras, "Sampai ngerasa puas hukum lo," celetuknya sambil tersenyum puas seolah tidak merasa bersalah.
Mendengar itu membuat Rafael jadi kesal, tidak tahukah kalau sampai seperti itu mungkin dirinya bisa-bisa Insomnia karena terus memikirkan Reva. Rafael lalu menggeletiki pinggang Reva untuk menghukumnya, membuat perempuan itu menggeliat kegelian dan minta ampun.
"Aduh Rafael, geli ih!" protes Reva tapi tidak didengar. Perempuan itu tertawa karena merasa kegelian dengan gelitikan di pinggangnya, Reva pun sampai bernaring layaknya ulat bulu di ranjang. Seprai pun sampai berantakan karena dirinya yang tidak bisa diam.
"Sekarang puas udah ngasih aku hukuman?" tanya Rafael yang baru menghentikan gelitikan nya. Posisi pria itu duduk di sebelah Reva yang berbaring, tapi kedua tangannya masih bertengger di pinggang perempuan itu.
"Hah hah harusnya gue yang nanya itu," ucap Reva danbil mengatur nafasnya yang memburu. Ia kelelahan karena sudah dikerjai Rafael, yakin jika pria itu memberinya pelajaran karena sudah mengerjainya.
"Awas aja kalau nanti Reva hilang lagi dan gak bilang apapun ke aku, bisa-bisa hukumannya lebih parah dari ini," ancam Rafael yang sama sekali tidak mengerikan di mata Reva.
"Emangnya hukumannya kalau sampai gue nakal lagi apa?" tanya Reva seolah menantang.
Rafael menatap ke balik matanya, perlahan kepalanya turun dan tanpa diduga mengecup sekilas sudut bibir Reva. Perempuan itu yang terlalu terkejut mendapatkannya tiba-tiba terdiam dengan kedua mata terbelak. Reva lalu membalas tatapan Rafael, pria itu malah tersenyum lebar seperti anak polos.
"Mungkin kaya gitu," ucap Rafael setelah mencontohkannya.
Reva memukul pelan tangan Rafael, "Apaan sih? Kan belum kejadian juga ke dua kalinya," dengusnya. Memang dasar Rafael itu tukang cari kesempatan.
"Hehe ya gak papa, anggap aja latihan dulu. Kan biar Reva juga tahu biar mikir-mikir lagi kalau mau nakal kedua kalinya, Reva juga sudah tahu gimana hukumannya."
"Ck dasar, jadi menurut lo itu hukuman?" tanya Reva sambil berusaha menahan senyumamnya.
"Mungkin?"
"Kalau hukumannya kaya gitu, mungkin gue bakalan ngulang minggat dari apartemen berkali-kali aja," celetuk Reva seperti mengkode.
__ADS_1
Rafael terbelak tidak menyangka, tapi tidak bisa ditahan senyuman kebahagiaan terukir di bibirnya. Jadi maksudnya Reva suka Ia beri hukuman manis seperti itu? Merasa tidak bisa membendung bahagianya lagi, Rafael lalu memeluk Reva dan ikut membaringkan tubuhnya di sana. Mereka pun saling berpelukan dan tertawa.
"Gak usah minggat juga kayanya Reva bakalan tetep dapat," ucap Rafael membuat Reva semakin tertawa tapi sebenarnya sedang menutupi perasaan salah tingkahnya.