Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
20 Selalu Membuat Masalah


__ADS_3

"Sekarang Bastian mau kemana lagi?" tanya Rafael yang menggandeng tangannya.


"Mau main di Timezone, Om," jawab Bastian semangat.


"Oke, tapi jangan terlalu lama ya."


"Iya."


Sebelum bermain, Rafael membeli dulu beberapa koin. Ia tidak membawa kartu khususnya karena tertinggal di apartemen, Reva juga jarang main ke tempat ini. Kedua remaja itu kan tugasnya hari ini adalah mengurus Bastian, jadi harus menyenangkannya.


"Kamu temenin Bastian dulu ya," ucap Rafael.


"Emangnya lo mau kemana?" tanya Reva.


"Ke toilet, sakit perut."


"Jangan lama."


"Iya." Rafael pun segera pergi dari sana.


Reva kembali menatap ke depan, tapi langsung terbelak karena tidak menemukan keberadaan Bastian. Ia pun segera mencari anak kecil itu, sialnya lagi pengunjung di sana lumayan ramai. Tetapi untungnya Reva menemukan Bastian, anak itu berdiri di depan sebuah mainan bola.


"Hei bocah, jangan kabur dong," ucap Reva di sebelahnya.


"Kabur kemana? Aku di sini, mau main."


"Iya, tapi jangan jauh-jauh. Kan nanti kalau hilang, aku sama Rafael juga yang repot."


"Aku gak akan diculik, aku kan anak berani."


"Iya deh iya terserah."


Reva memperhatikan Bastian yang sedang bermain sambil tertawa cekikikan, membuatnya tanpa sadar ikut tersenyum. Maklum saja anak kecil, jadi tidak menang banyak. Selanjutnya Bastian pun beralih ke permainan lain.


"Tante mau main juga gak?" tanya Bastian, "Jangan ikutin aku terus ih."


"Ck jaga-jaga aja."


"Gak papa, aku gak akan jauh-jauh. "


"Ya sudah, sini minta koinnya."


"Tante mau main apa emangnya?"

__ADS_1


"Basket."


"Oh yang masukin bola ke ring itu ya. Kalau aja aku sudah tinggi, pasti bisa ngalahin Tante."


"Ya makanya cepetan gede, jangan cebol terus."


"Tunggu aja nanti." Bastian pun memberikan dua koin pada Reva, setelahnya melenggang pergi mencari permainan lain.


Reva beberapa saat memperhatikan sampai anak itu menemukan permainannya, setelah dirasa baik-baik saja Ia pun baru bermain. Sudah lama tidak bermain seperti ini, Reva lebih sering pergi ke tempat lain bersama teman-temannya. Ini kan tempat bermain anak kecil.


"Huwaa!"


Deg!


Bola yang sedang Reva pegang sampai Ia buang saat mendengar suara tangisan familiar itu. Ia pun segera pergi untuk melihat nya, kedua matanya terbelak melihat Bastian yang sudah dalam posisi terduduk sambil menangis keras. Reva pun langsung mendekatinya.


"Bastian, kamu kenapa?" tanyanya panik.


"Huwaa itu, dia dorong aku."


Reva melihat ke arah seorang anak laki-laki yang ditunjuk Bastian. Melihat badannya yang lebih tinggi, sepertinya lebih besar dari Bastian. Reva terlebih dahulu membantu keponakannya itu berdiri.


"Hei jangan gitu dong!" omelnya sambil berkacak pinggang.


"Tapi aku juga mau main," alasan anak itu.


Tidak lama seorang wanita paruh baya mendekat dan merangkul anak itu, sepertinya Ibunya. Melihat tatapannya yang tidak suka ke arahnya, membuat Reva meninggikan dagu tidak mau kalah. Sepertinya sebentar lagi akan ada keributan.


"Kenapa ya marah-marahin anak saya?" tanya Ibu itu ketus.


"Anak Ibu duluan yang dorong ponakan saya sampai jatuh, lihat sekarang dia nangis."


"Tapi kayanya dorong nya juga gak kenceng, keponakan kamu aja yang cengeng."


"Mau kenceng atau enggak, sama aja didorong dan itu pasti sakit. Apalagi dia masih kecil, pasti anaknya tukang bully ya?"


"Hei jaga bicara kamu!"


"Dilihat dari ekspresi wajahnya aja kaya yang gak merasa bersalah gitu, datar-datar aja. Ibu harus didik anak Ibu itu biar jadi anak yang gak sombong. Tapi kayanya sifatnya turunan, maklum deh."


"Apa?!"


Sebelum tangan wanita itu menampar nya, seseorang langsung menahan di udara. Reva yang tidak merasakan tamparan di pipinya, kembali membuka mata. Ia langsung tersenyum melihat Rafael yang datang tepat waktu.

__ADS_1


"Lepaskan!" sentak Ibu itu.


Rafael pun melepaskannya dan berdiri di depan Reva menghalangi, "Maaf, ada apa ya?"


"Perempuan itu sudah ejek dan hina anak saya, saya gak terima dong!"


"Saya bukan ngejek, tapi emang beneran gitu, kan?" balas Reva tidak mau kalah.


"Dasar anak kurang ajar, masih muda gak punya sopan santun sama orang tua."


"Ibu yang salah duluan. Bukannya ngajarin anaknya yang salah untuk minta maaf, malah nyolot ngerasa paling benar!"


Rafael menghela nafasnya berat mendengar keributan itu yang tidak ada akhir, "Sudah, cukup."


"Bu saya minta maaf dengan sikap Reva kalau menyinggung anda."


Reva berdecak, "Kok kamu sih yang minta maaf? Aku gak salah kok," ucapnya tidak terima.


Tetapi Rafael berusaha mengabaikan, Ia terus berbicara baik-baik dan lembut pada wanita paruh baya itu. Untung saja Ibu itu pun tidak mau memperumit, setelahnya pergi sambil menarik tangan anaknya. Beberapa orang yang dari tadi memperhatikan pun, langsung bubar dan melanjutkan kegiatannya.


"Kita pulang sekarang," perintah Rafael dengan suara tegasnya.


Reva tidak mampu membantah, Ia pun mengikuti Rafael sambil menarik tangan Bastian yang berjalan di sebelahnya. Sepertinya Rafael sedang mode serius sekarang, dari suaranya saja sudah beda.


"Rafael, bukan aku yang salah. Tadi aku cuma mau belain Bastian aja, dia di dorong anak itu sampai jatuh dan nangis," ucap Reva membela diri saat masuk ke mobil.


"Kenapa sih sampai harus ribut gitu? Kan bisa di bicarain baik-baik."


"Mau bicarain baik-baik gimana? Orang dia juga malah bersikap biasa aja gak merasa bersalah."


"Kamu yang terlalu emosional Reva, tidak bisakah lebih sabar?"


"Kamu gak percaya sama aku?"


"Aku percaya kejadiannya begitu, tapi kalau aja kamu gak nyolot, gak akan ribut kaya tadi." Rafael mengusap wajahnya kasar, "Kamu memangnya gak malu dilihat banyak orang di sana?"


"Tapi kan bukan aku yang salah."


"Lihat, kamu masih nyolot sekarang. Mau kamu belain Bastian, tetap saja kamu juga salah. Untung aja tadi aku datang tepat waktu, kalau enggak masalahnya bakalan makin rumit. Selalu saja kamu membuat masalah."


Reva sampai tersentak mendengar perkataan akhir dari Rafael, tatapannya pun menjadi getir. Inginnya Ia membalas ucapannya, tapi merasa percuma karena Rafael yang tidak percaya. Reva memilih melihat keluar jendela sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Padahal aku pergi gak lama, tapi kamu gak bisa buat jagain Bastian sebentar aja. Memangnya tadi kamu dimana sih? Sampai kecolongan gitu."

__ADS_1


"Gak tahu!" ketus Reva. Percuma dijelaskan pun, Reva merasa lelah sendiri.


Acara jalan-jalan ini menjadi berantakan karena masalah tadi, padahal belum lama pergi juga. Jadi apakah ini memang salah Reva? Tetapi yang dilakukannya merasa benar membela Bastian, tapi kenapa di mata Rafael salah ya?


__ADS_2