
Besok paginya saat sarapan, pasangan itu tidak banyak mengobrol. Rafael yang sedang mengunyah rotinya melirik Reva yang duduk di depannya. Bisa melihat bibir perempuan itu yang mengerucut, apakah masih ngambek?
"Jangan ngambek," ucapnya.
Reva melirik nya sinis, "Siapa juga yang ngambek?!" ketusnya.
"Tuh ketus gitu, pasti lah lagi ngambek."
"Enggak tuh, jangan kepedean deh jadi orang!"
"Ya sudah, hari ini TV buat kamu deh. Aku ngalah, gak bakalan nonton TV. "
Reva memakan rotinya yang tidak sedikit lagi dengan kesal, mudah sekali pria itu mengatakannya. Bisakah lebih romantis untuk membujuknya? Seperti memberinya uang banyak untuk shopping? Memang tidak romantis sekali.
"Maunya kemarin nonton TVnya, bukan hari ini."
"Sama aja, yang kemarin kan sinetron pasti masih tayang."
"Tapi--"
"Aku berangkat duluan ya, ada kumpulan dengan OSIS. Kamu habiskan saja dulu sarapannya, jangan terlalu buru-buru."
Dulu saat masih kelas sebelas, Rafael itu memang mantan anggota OSIS. Guru sebenarnya yang memaksanya karena Ia cukup pintar, jadi bisa membantu mengembangkan sekolah. Sekarang sudah kelas dua belas, jadi jabatannya sudah turun.
"Rafael!"
Langkah pria itu terhenti mendengar namanya dipanggil keras, "Ada apa lagi?"
"Lupa ya? Mana bekal gue hari ini."
"Oh iya hehe, tapi gak ada receh."
"Maksudnya?!"
"Nanti aja ya di sekolah, biasa kamu akting palak aku lagi. Oke?" Setelah mengatakan itu, Rafael pun pergi keluar.
Reva yang ditinggalkan sendirian langsung menghembuskan nafasnya berat. Jadi sekarang sudah tahukan kenapa Ia suka memalak Rafael di sekolah? Ya itu, jika belum diberikan uang jajan. Mungkin orang lain akan menganggapnya jahat, mereka tidak tahu saja kebenarannya.
"Ya elah hari ini ada pelajaran matematika lagi, bikin males aja," gerutunya.
Karena takut terlambat, Reva memutuskan segera berangkat. Ia dan Rafael ke sekolah selalu memakai mobil masing-masing, ya kalau satu mobil pasti akan membuat murid lain heboh dan curiga. Keduanya benar-benar tidak mau ada yang tahu status mereka.
Saat sedang asik mendengarkan musik sambil menunggu lampu lalu lintas kembali menyala. Reva terkejut merasakan mobilnya di senggol sebuah motor di sisi kiri, Ia langsung melihat lewat kaca. Tetapi sebelum memarahi, lampu kembali hijau dan semua kendaraan kembali jalan.
"Arggh sialan, pokoknya harus ngejar tuh motor!" kesalnya.
Reva pun berusaha menjalankan mobilnya lebih cepat, tidak mau kehilangan jejak orang yang sudah menggores mobilnya. Tetapi Reva terkejut karena motor itu masuk ke gerbang sekolahnya, apa mungkin murid di sana juga?
__ADS_1
"Heh heh berhenti lo di sana!" teriaknya. Reva turun dari mobilnya dan segera mendekati si pengendara motor Ninja itu.
Baru saja akan memarahi melampiaskan kekesalannya, Reva langsung terhenti saat orang itu membuka helmnya. Seperti adegan pada drama, perempuan itu dibuat terpesona oleh si pengendara yang ternyata memiliki paras tampan.
"Kenapa ya?" tanyanya sambil melambaikan tangan di depan wajahnya.
Saat kesadaran Reva kembali, perempuan itu berdehem pelan dan mengembalikan lagi ekspresi wajahnya. Setelah di ingat, sepertinya mereka belum pernah bertemu. Reva juga baru kali ini melihat ada murid laki-laki tampan itu di sekolah.
"Heh, kamu tadi yang nabrak mobil gue," tegur Reva dengan suara sedikit ketus.
"Oh iya, jadi kamu ya yang nyetir. Maaf ya."
"Cuma maaf?"
"Terus?"
Dengan kesal Reva pun menarik tangan pria itu mendekati mobil putihnya, lalu menunjukan goresan tidak terlalu panjang di pintu bagian belakang. Pria itu langsung tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya.
"Lo sengaja ya?" tanya Reva.
"Enggak kok, beneran gak sengaja."
"Terus tadi kenapa kabur hah?!"
"Em gue buru-buru, takut telat di hari pertama sekolah."
"Untung aja ya ternyata satu sekolahan, jadi gue bisa minta ganti rugi."
"Em berapa ya kira-kira?"
"Mobil ini mahal, import dari luar negeri. Mungkin bisa sampai sepuluh juta."
Terlihat mata pria itu terbelak sebentar, "Kok mahal banget, goresan nya juga gak terlalu panjang," protesnya.
"Tapi mobil punya gue beda, pasti untuk perbaikan juga lebih mahal. Nanti deh mau dibawa ke bengkel dulu, tapi lo harus ganti rugi!"
"Iya-iya."
"Awas aja kalau kabur."
"Mau kabur gimana sih? Kita kan se sekolah."
"Ya bisa aja lo sembunyi, gue harap lo bukan pengecut ya."
"Enggak, nanti kalau udah dibenerin langsung kasih tahu aja harganya."
"Oke, kayanya lo juga bukan orang kere."
__ADS_1
Reva lalu melirik sekitar, mengernyitkan keningnya karena baru menyadari ada beberapa murid lewat yang memperhatikan ke arahnya sambil berbisik. Memang mereka itu kepo sekali, pasti baru pertama juga melihat murid laki-laki ini.
"Nama lo siapa?" tanya pria itu, "Gue Lucas."
Tanpa berniat membalas jabatan tangan itu, Reva langsung menyebutkan namanya dengan ekspresi judesnya seperti biasa. Lucas yang melihat dirinya diabaikan hanya terkekeh kecil sambil memasukan kedua tangannya di saku jasnya.
"Lo menarik," ucap Lucas.
"Sorry ya, tapi gue gak tertarik sama lo," balas Reva. Setelah memberikan senyuman tidak ikhlasnya, Ia pun melenggang pergi dari sana.
Saat berjalan di Koridor menuju kelasnya, tidak sengaja Reva melihat Rafael. Seringai terukir di bibirnya, Ia pun segera berlari kecil mendekati pria itu. Baru saja Rafael akan pergi, Reva langsung menarik kerah seragam bagian belakangnya.
"Ehh lo mau kemana hah?!" tanyanya.
Rafael menoleh dan langsung tersenyum kikuk, "Eh Reva," panggilnya.
Teman Rafael tadi yang sedang mengobrol memilih pamit pergi, merasa suasana di sana pun tidak akan aman. Reva lalu mendorong Rafael ke dinding, membuat posisinya kini terpojok kan.
"Mana," tagihnya sambil menggerakkan tangannya meminta.
"Belum di cairin uangnya, masih di ATM, " ucap Rafael.
"Ck katanya mau di cairin, kok belum juga sih?" kesal Reva.
"Ya maaf, aku kan buru-buru ada kumpulan. Nanti pas jam istirahat aja gimana?"
"Enggak mau, nyebelin banget sih lo."
"Tapi beneran kok Reva, gak bakal inkar lagi."
"Awas aja ya lo kalau bohong lagi, gue jitak lo."
"Jangan dong Reva, dosa loh."
"Biarin, habisnya lo nyebelin!"
Untung saja beberapa detik kemudian bel masuk berbunyi, membuat Rafael pun bisa bernafas lega karena terbebas dari intimidasi istrinya ini. Reva juga dengan terpaksa melepaskan tapi dengan tatapan tajamnya yang tidak lepas dari Rafael.
"Wah ada apa tuh tadi? Gue gak salah lihat, kan?"
Suara itu familiar itu, membuat Reva berbalik dan langsung mendengus karena itu adalah Lucas. Jangan bilang dari tadi memperhatikan?
"Siapa tuh? Pacar lo ya?" tanya Lucas.
"Bukan urusan lo!" ketus Reva. Sambil mengibaskan helaian rambutnya, Ia pun pergi dari sana.
Lucas yang melihat itu dibuat tersenyum lagi, Ia sampai menjilat bibir bawahnya mulai merasakan ketertarikan pada perempuan yang baru bertemu dengannya itu.
__ADS_1