
Saat bel pulang berbunyi, Lucas terlihat bersemangat dan segera menghampiri Reva untuk pulang bersama. Percayalah pria itu sudah tidak sabaran dari tadi, merasa senang saja bisa mengantar cewek yang disukainya itu pulang bersama.
"Udah jangan cemberut gitu, kan besok juga giliran dia jemput lo," ucap Reva pada Ica.
"Hm, lo jangan peluk-peluk Lucas ya," ucap Ica.
"Astaga ya enggak lah, masa gue cari kesempatan."
"Awas aja, nanti bisa-bisa si Lucas kesenangan lagi."
Reva tahu sahabatnya itu menyukai Lucas, jadi Ia akan menjaga batasan dan tidak bersikap aneh-aneh yang bisa membuat Ica cemburu. Hanya hari ini saja, karena Reva pun memang tidak membawa kendaraan.
"Masa langsung pulang, gak seru banget," ucap Lucas mengkode.
"Terus maunya kemana dulu?"
"Lo suka ngopi gak?"
"Jarang sih, palingan ke Starbucks."
"Ya udah, kita ke sana dulu yuk."
"Ya udah lah," desah Reva pasrah.
Lucas langsung tersenyum lebar sambil bersorak pelan, itu berarti mereka masih bisa menghabiskan waktu bersama. Melihat tangan Reva yang menggantung membuat Lucas gemas sendiri, ingin sekali Ia menggenggamnya, tapi nanti malah dianggap tidak sopan lagi.
"Mau pakai helm gue gak?" tawar Lucas.
"Gak usah, masa gue yang pakai."
"Gak papa, lebih penting lo dari pada gue."
"Gak, lo aja," tolak Reva.
Padahal Lucas ingin bersikap perhatian, tapi Reva ini selalu saja bersikap dingin begitu. Tidak apalah, ini masih awal dan perjalanannya pun masih panjang. Setelah perempuan itu naik di belakangnya, Lucas pun menjalankan motor Ninjanya dengan kecepatan sedang.
"Biasanya sering ngopi di daerah mana?" tanya Lucas.
"Yang di deket sekolah juga udah beberapa kali sih."
"Pasti sama mantan juga pernah ya?"
"Enggak, sama temen."
"Eh Reva, serius lo gak punya pacar?"
"Kenapa emangnya?"
"Aneh aja gitu, masa cantik gini gak punya pacar."
Sebelah sudut bibir Reva terangkat, "Soalnya tipe gue cukup tinggi, kalau gak ada yang sesuai gue gak mau."
Lucas menelan ludahnya susah payah mendengar itu, entah kenapa Ia jadi khawatir sendiri jika lau dirinya juga bukanlah tipe Reva. Tetapi Lucas mengerti sih kalau kriteria idaman Reva itu tinggi, toh perempuan itu saja sangat cantik dan terkenal.
__ADS_1
"Emangnya tipe lo yang gimana?"
"Yang baik dan gak nakal," jawab Reva.
Lucas terkekeh kecil, "Serius? Kok kaya berkebalikan gitu ya sama pribadi lo?"
Reva yang kesal diledek begitu lalu memukul punggung Lucas, "Hei semua cewek juga pasti pengen punya pasangan yang baik dan perhatian."
"Ya emang sih, tapi kan itu anggap aja sifat dasarnya. Terus kalau soal fisik? Apa harus mirip Idol Korea?"
"Itu mah kelebihan, yang penting enak dipandang aja sih."
"Ekhem terus gue gimana? Berapa persen mendekati tipe ideal lo?"
"Hm kayanya cuma tiga puluh persen."
Lucas hampir mengerem mendadak mendengar jawaban itu, "Kok sedikit banget?!" tanyanya tersinggung.
"Soalnya lo kaya cowok kurang ajar," celetuk Reva.
"Hahaha bisa aja lo Reva. Emang sih, tapi kalau sama cewek yang beneran gue suka bakalan serius dan gak main-main."
"Halah bohong banget, udah basi sih denger janji-janji manis gitu dari cowok."
Sepanjang perjalanan itu mereka mengobrol dengan asiknya, sangat nyambung dan terus tertawa. Lucas pun menyadari jika cara bicaranya dengan Reva hampir mirip, membuatnya semakin tertarik saja pada perempuan itu.
"Masa cuma pesen itu aja? Makanannya juga dong," ucap Lucas.
"Gue gak terlalu lapar sih, pengen ngopi doang."
Setelah mendapatkan pesanan mereka, keduanya mencari tempat duduk yang sepi untuk mengobrol lebih santai. Lucas terus memperhatikan Reva yang duduk di depannya, bibirnya pun dari tadi terus melengkungkan senyuman.
"Kenapa?" tanya Reva.
"Gak papa, lo cantik banget."
"Emang, tapi lo jangan suka sama gue."
"Kenapa? Apa lo udah ada gebetan?"
"Enggak sih, tapi kaya percuma aja."
"Maksudnya?"
"Gue kayanya gak bakal suka balik sama lo."
Dada Lucas cukup sakit mendengar itu. Padahal dirinya belum mengungkapkan perasaan, tapi sudah mendapat penolakan. Reva juga terlihat blak-blakkan kalau bicara, tidak malu-malu seperti perempuan lainnya.
"Mungkin sekarang belum, tapi nanti bisa aja kan?" tanya Lucas mencoba berpositif thinking.
"Ya emang sih gak ada yang tahu, tapi kayanya gue gak bakal ngelebihin."
"Kenapa? Apa karena tadi, gue yang jauh dari tipe lo?"
__ADS_1
"Bukan itu, tapi sahabat gue yang suka sama lo."
Lucas menghembuskan nafasnya berat mendengar itu, merasa keberatan dan tidak setuju dengan alasan Reva yang tidak akan membuka hati untuknya hanya karena memikirkan perasaan sahabat nya.
"Lo pasti peka lah ya kalau Ica suka sama lo," ucap Reva.
"Iya, dia sering deketin gue duluan. Tapi gue gak ada perasaan apapun ke dia."
"Masa? Dia kan cantik. "
"Reva lebih cantik, tapi bukan itu aja yang buat gue makin penasaran sama lo. Lo itu menarik, beda dari cewek lain yang jaim. Setiap kita ngobrol juga suka nyambung, dan itu bikin gue nyaman."
Walaupun Reva terlihat bersikap tenang, tapi percayalah sekarang detak jantungnya cepat sekali. Apakah Lucas sekarang sedang menyatakan perasaannya? Astaga ini sangat canggung.
"Kalau semisal Ica terus deketin lo, apa ada kemungkinan buka hati buat dia?"
"Tergantung Reva yang nolak atau enggak, mungkin bisa aja gue pindah ke lain hati."
"Hm gitu ya, berarti dia ada kesempatan. "
Bukan berarti Lucas di sini terlihat seperti mudah menyerah dan tidak mau memperjuangkan cintanya pada Reva. Tetapi pasti akan ada di titik lelah jika cintanya itu belum berbalas juga, alias selama ini hanya berjuang sendirian.
"Tapi kalau misal nanti gue nolak lo, jangan jadiin Ica pelampiasan ya?"
Lucas malah tertawa kecil, "Lo nganggap gitu?"
"Iya, biasanya kan kalau gak bisa dapat yang dimau, berarti opsi keduanya cuma pelampiasan aja."
"Gak tahu sih."
Mereka tidak berlama-lama di sana, Reva yang terlihat mudah bosan meminta pulang terus membuat Lucas pun mengabulkan. Sepanjang perjalanan pun tidak ada obrolan, berbeda sekali suasananya dengan saat berangkat tadi. Mungkin karena perbincangan tadi yang sangat tidak nyaman itu.
"Makasih," ucap Reva.
"Sama-sama, nanti kapan-kapan pulang bareng lagi ya."
"Lihat aja nanti."
Setelah Lucas pergi dengan motornya, Reva pun masuk ke apartemennya menuju lantai tempat tinggalnya. Saat masuk Ia melihat Rafael yang menyimpan tas ransel dengan isi lumayan banyaknya di sofa.
"Udah mau berangkat sekarang?" tanya Reva.
"Nanti jam enam."
"Masih ada waktu berarti."
"Tadi pulang sama siapa?" tanya Rafael.
"Dianterin Lucas."
"Oh gitu, kalian kemana dulu? Kenapa baru pulang sekarang?"
"Tadi ke Starbuck dulu, tapi cuma bentar."
__ADS_1
"Hm."