
Waktu berjalan dengan cepat, hari yang ditunggu semua murid kelas akhir pun tiba, dimana mereka semua murid dinyatakan lulus. Terlihat aura kebahagiaan di wajah mereka semua, bersorak sambil merayakan bersama teman-teman dekat.
"Malam ini ada acara prom night, lo datangkan Rev?" tanya Tata.
"Gak tahu, lihat aja nanti," jawab Reva.
Ica lalu menyenggol tangan Tata, "Lo lupa ya dia udah punya suami? Ke mana-mana kan harus dapat izin suami dulu," ucapnya sambil melirik menggoda Reva.
"Ah iya gue lupa, tapi kalau bisa sih datang. Itu kan acara spesial buat angkatan kita, semua bakalan hadir ngerayain terakhir kalinya kebersamaan sebelum pisah dan sibuk masing-masing." Tata berusaha mendorong Reva agar hadir di acara itu.
"Iya, Rafael juga kayanya bakalan datang."
"Harus lah, biar lo juga bisa pergi bareng kesana."
Ketiga sahabat itu memutuskan tidak langsung pulang, mereka akan jalan-jalan lebih dulu ke Mall untuk sekedar foto studio mengabadikan moment dengan memakai kebaya cantik itu. Selanjutnya mereka juga nonton bioskop dan makan-makan. Mereka sangat menikmati hari itu.
"Nanti kayanya bakalan susah kumpul begini lagi," ucap Ica di sela kunyahan nya.
"Bener juga, udah sibuk masing-masing," angguk Tata.
Reva lalu melirik Tata, "Lo jadi kuliah di Yogyakarta?" tanyanya.
"Jadi, udah daftar kesana juga. Bokap gue kekeuh banget pengen gue kuliah di sana, jadi gak tega kalau nolak," jawab Tata dengan ekspresi setengah sedihnya.
"Terus Ica, lo bakal dimana?" tanya Reva.
"Gak tahu, gue pengen nganggur dulu deh setahun," celetuk Ica.
"Serius lo? Mau diem di rumah aja gitu?"
"Gak diem gitu juga, gue sempet ditawarin jadi model pakaian gitu. Mungkin bakalan coba dulu terjun ke dunia pekerjaan gitu, nanti setelah setahun mau mulai masuk kuliah." Ica mendapat tawaran seperti ini, tentu saja akan Ia manfaatkan dengan baik.
"Wih keren juga lo bakalan jadi model, emang sih pantes soalnya cantik, " ucap Reva sambil mencolek dagu Ica, kebetulan duduk nereka bersebelahan.
__ADS_1
Ica menyenggol pelan tangan Reva sambil tersenyum malu-malu, "Ah tetep aja lo yang lebih cantik, kayanya lo juga cocok jadi model. Mau gue tawarin juga gak?"
"Aduh gimana yah, gak terlalu tertarik juga sih," gumam Reva.
Tata berdehem pelan, "Dia mah udah jadi model kali," celetuknya.
Reva dan Ica menatap Tata bingung, maksud perjataannya apa?
"Model pas lagi di kamar berduaan sama suaminya," ucap Tata sambil menyeringai, tidak lama Ica pun tertawa baru mengerti. Kedua orang itu pun bertos sambil terbahak menggoda Reva.
Sedangkan Reva hanya mendengus pelan lalu meminum jusnya, memang kedua sahabatnya itu aneh-aneh saja. Tetapi Reva selalu dibuat terhibur sendiri, ternyata candaan orang yang sudah menikah dan belum itu cukup berbeda, Ia sendiri kadang malu-malu karena statusnya sudah berbeda dari dua sahabatnya itu.
"Rev lo udah nikah sama si Rafael berapa lama?" tanya Ica penasaran, belum sempat menanyakan ini.
"Baru beberapa bulan sih, gak lama juga." Sejak Mamanya meninggal saja, itu berarti jika dihitung dengan sekarang ada empat bulanan.
"Gimana jadi istri? Seru gak?" tanya Tata ambigu.
"Seru gimana sih? " tanya Reva pura-pura tidak mengerti.
Reva menggeleng, "Enggak, malahan dia yang bertugas masak," jawabnya merasa bangga sendiri.
"Eh serius? " pekik Tata dan Ica bersamaan.
"Iya, beres-beres juga. Rafael itu anak rajin, dia juga selalu gak masalah kalau gue males-malesan. Dia gak pernah nyuruh gue ini itu, pokoknya tipe suami yang idaman deh." Saat menceritakan itu, Reva tersenyum lebar merasa senang saja.
"Wah kok bisa yah si Reva ini dapetin suami begitu? Kebalikan banget sifatnya sama dia," ucap Tata penuh iri.
Reva yang mendengar itu langsung mencubit tangan Tata, membuat sahabatnya itu tertawa karena perkataannya tadi hanya candaan saja menggoda temannya itu. Mereka sudah bersahabat lama, jadi sudah mengenal sifat satu sama lain.
"Tapi emang kelihatan sih si Rafael itu tipe cowok begitu, cuman masih gak nyangka aja istrinya itu lo," gumam Ica sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi gimana perasaan lo dapet suami kaya dia?" tanya Tata.
__ADS_1
Reva mengusap dagunya seperti sedang berpikir keras, "Suka kok," Jawabnya tanpa ragu. Lagi pula tipenya juga laki-laki baik-baik, seperti Rafael saja lah.
"Itu namanya keberuntungan, dapet pasangan hidup yang benar-benar baik itu jarang banget sekarang."
Reva mengangguk menyetujui perkataan sahabatnya itu, Ia memang selalu merasa beruntung bisa berjodoh dengan Rafael. Awalnya nereka memang di jodohkan, sempat sulit menerima satu-sama lain tapi perasaan seseorang itu kan mudah berubah. Sekarang mereka sudah bisa menerima pasangannya dengan melewati banyak kejadian.
"Ekhem terus gimana soal masalah kebutuhan?"
"Kebutuhan apa? Uang bulanan gitu? Kalau itu sih kita gak minta dari orang tua, Rafael udah bisa dapetin uang sendiri karena dia nanam saham di perusahaan Ayah mertua. Kalau menurut gue sih lumayan pendapatannya sebulan, bisa belasan juta lah," ungkap Reva tidak bermaksud sombong.
"Bukan itu," geleng Tata, "Maksudnya masalah biologis, si Rafael pasti suka minta jatah ya?"
Kedua mata Reva terbelak mendengar itu, suasana pun tiba-tiba menjadi canggung untuknya. Melihat kedua sahabatnya yang menyeringai ke arahnya sambil menunggu jawaban, membuat Reva bingung sendiri apakah harus menjelaskan yang sebenarnya atau tidak.
"Katanya sih yang kelihatannya pendiem gitu suka diam-diam lebih nakal kalau masalah begituan. Jadi bener?" tanya Ica yang ikut penasaran. Lagi pula mereka bukan anak kecil, jadi tidak apalah membicarakan ini.
"Kepo lo berdua," dengue Reva berusaha menghinrari.
"Ih ayolah cerita, gak usah malu-malu gitu Rev," rayu Ica sambil setengah merengek, rasanya seru saja jika topik obrolan sudah ke arah dewasa begitu. Apalagi sejarang ada Reva yang sudah menikah, pasti pengalamannya pun lebih banyak dari mereka berdua.
"Sebenernya.. Gue sama Rafael belum pernah begituan," ucap Reva pelan.
"Apa?!" Tata dan Ica sampai berteriak terkejut saja mendengar itu, pengunjung lain di dekat mereka sampai ikut melirik.
"Serius lo Reva?" tanya Tata yang sulit percaya, Ia tahu bagaimana nakalnya sahabat perempuannya yang satu itu.
"Ah enggak mungkin, masa aja belum pernah. Harusnya kalian itu manfaatin dong, apalagi kan udah nikah jadi gak papa lah begituan."
"Masalahnya kita masih muda, gimana kalau sampai kebabablasan?" tanya Reva balik tidak mau di pojokan.
"Ya pake ****** aja." Mudah sekali Ica mengatakannya.
"Nah itu, terus bisa juga kan di keluarin nya di dalam," sahut Tata menyarankan cara lain.
__ADS_1
Reva meremas rambutnya mendengar perkataan dua sahabatnya itu yang sudah berlebihan. Kenapa mereka terkesan lebih berpikir dewasa di bandingnya?