Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
21 Tidak Bisa Marah


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Reva memilih turun lebih dahulu dan masuk ke rumahnya. Rafael yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepala, kenapa jadi perempuan itu yang ngambek? Seharusnya kan teguran nya di dengarkan.


"Om," panggil Bastian yang baru turun dari mobil.


Rafael mendekati keponakannya itu lalu menggandeng tangan mungilnya. Tetapi saat Ia menarik, Bastian malah menahannya membuatnya menoleh menatapnya bingung.


"Ayo masuk," ajak Rafael.


"Om jangan marahin Tante Reva," ucap Bastian pelan.


"Tapi kan Tante Reva yang salah, dia gak bisa jagain kamu."


"Bukan gitu, tapi aku yang minta Tante Reva main. Aku gak mau diganggu, mau main sendiri."


Sepertinya percakapan ini serius, membuat Rafael menekuk kakinya membuat posisinya dengan Bastian sepantaran. Sebelumnya Bastian selalu menunjukan wajah ceria, tapi kali ini terkesan murung.


"Kenapa begitu?"


"Gak papa, tapi aku nangis bukan karena Tante Reva." Bastian terlihat menghela nafas nya berat, "Tante Reva malah belain aku, dia cuma mau anak bandel itu minta maaf ke aku."


"Iya sih, tapi Tante Reva kayanya bicaranya terlalu keras, sampai orang ngira dia gak sopan."


"Om jangan marahin Tante Reva lagi ya? Kasihan."


Rafael tersenyum tipis, "Bukannya kamu gak terlalu suka ya sama Tante Reva? Kenapa kali ini belain dia hm?"


"Karena Tante Reva tadi sudah belain aku dan jagain aku, makanya kali ini kita mau berdamai aja."


"Baiklah, Om gak akan marahin dia lagi."


"Janji?"


"Iya," angguk Rafael, "Sudah kamu juga jangan murung terus, sebentar lagi Mama kamu pasti pulang."


"Iya."


Rafael lalu meminta pada seorang pelayan untuk menemani Bastian tidur, Mamanya tadi memberitahu jika Bastian setiap siang harus tidur. Sedangkan Rafael sendiri menuju kamarnya yang berada di lantai dua, membuka pintunya pelan.


"Reva," panggilnya.


Tetapi perempuan itu tidak menanggapinya, tetap fokus ke game di ponselnya. Rafael mendekat lalu duduk di sebelahnya, tapi tanpa diduga Reva malah bergeser menjauh. Tetapi Rafael tidak menyerah, Ia terus mendekati sampai akhirnya Reva pun berada di ujung sofa.


"Aku minta maaf kalau tadi ada kata-kata yang nyakitin kamu," ucap Rafael, "Aku cuma gak suka kalau kamu sudah ribut gitu."


"Reva jangan diam aja dong, ayo bicara," bujuk Rafael.


Melihat terus diabaikan, membuat Rafael lama-lama kesal. Ia pun merebut ponselnya begitu saja dan baru berhasil membuat Reva menatapnya, ya walaupun dengan tatapan tajam. Saat akan merebut kembali ponselnya, Rafael pun menjauhkan.

__ADS_1


"Apaan sih? Balikin ponsel gue!" kesal Reva.


"Bentar dulu, kita harus bicara."


"Bicara apaan? Bukannya udah?"


"Iya, tapi kamu diam aja. Jadi maafin aku gak?"


"Gak, sudah, kan? Sekarang balikin ponsel gue."


Rafael menghembuskan nafasnya kasar, "Kenapa kamu marah?" tanyanya menuntut.


"Menurut lo?!"


"Aku tahu kamu emang baik sudah belain Bastian di sana, tapi aku juga negur kamu supaya bisa jadi orang yang lebih tenang dan sabar. Jangan yang diutamakan itu emosi, karena bisa merugikan diri kamu sendiri."


Reva berdecak pelan lalu menundukan kepala sambil melipat kedua tangannya di dada. Kalau dipikir sih benar juga, tapi tetap saja Reva merasa kesal. Pria itu tidak bisa mengerti, bukan ini juga yang Reva inginkan. Jadi apakah di sini Ia terkesan kekanakan sekali?


"Tadi Bastian belain kamu, dia minta aku untuk gak marahin kamu lagi," ucap Rafael.


"Mana mungkin."


"Beneran kok, kayanya dia ikut sedih karena aku marahin kamu. Dia bilang hari ini mau damai sama kamu, soalnya kamu sudah belain dia tadi di sana."


Tanpa sadar lengkungan senyuman terukir di bibir Reva mendengar itu, dadanya jadi tiba-tiba senang. Ternyata Bastian bisa melihat perjuangannya juga, baguslah jika anak itu kini tidak terlalu benci kepadanya. Lagi pula Reva tahu, sebenarnya mereka tidak saling membenci.


"Aku pengen kamu kalau lagi hadapin sesuatu dengan tenang, bisa?"


"Kamu sudah besar Reva, apalagi sekarang sudah menikah."


Bukan maksud sok, tapi Rafael hanya berusaha bersikap paling dewasa saja di sini, apalagi dirinya menjadi kepala keluarga. Tingkat kedewasaan seseorang itukan tidak dilihat dari usianya, tapi dari kesiapan hati dan pikirannya.


"Nanti setelah Ayah sama Bunda pulang, kita juga pulang ya," ucap Rafael sambil beranjak dari duduknya.


"Tumben, biasanya juga suka agak malam."


"Aku inget stok makanan kita di kulkas mulai habis, jadi nanti kita belanja bahan makanan. Tadinya sih mau sekalian pas jalan-jalan, tapi ada kejadian gak mengenakan."


"Huh mulai lagi deh!"


"Hahaha enggak-enggak."


Sekitar pukul dua siangnya, akhirnya yang ditunggu pulang juga. Lala pun langsung menjemput Bastian untuk pulang ke rumahnya. Anak itu sempat pamitan pada Reva dan Rafael, kali ini pun Bastian terlihat lebih tenang.


"Ini bawa untuk makan malam di rumah kalian, nanti bisa dihangatin lagi," ucap Bundanya memberikan rantang makanan.


"Wah makasih Bunda," ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


"Iya sama-sama, habiskan ya. Kalau di besok kan takut gak enak."


"Iya, ya sudah kami pamit pulang dulu. "


"Hati-hati di jalan ya."


"Iya."


Seperti janji tadi, sebelum pulang mereka akan belanja dulu bahan makanan di Super Market. Mungkin kalau tadi saat bersama Bastian pasti akan seru, memang manusia hanya bisa merencanakan saja.


"Mau beli ayam gak?" tanya Rafael.


"Gue kan gak bisa masak."


"Kan ada aku."


"Ya sudah kalau mau lo yang masak, terserah beli apa saja."


"Oke."


Seharusnya memang Reva yang memasak, tapi tugasnya itu malah Rafael yang meng-handle nya. Tetapi pria itu tidak banyak mengeluh, bisa menerima. Bagi Rafael yang terpenting Reva tidak bersikap aneh-aneh saja dan rahasia pernikahan mereka tetap terjaga.


"Totalnya semua jadi lima ratus tujuh puluh ribu," ucap si kasir.


Rafael memperhatikan belanjaannya, "Reva, tolong bawain mayones sama sambal tomat."


"Hah iya," desah Reva pasrah dan menurut saja.


Untung saja super market itu sudah cukup familiar baginya, jadi sudah tahu juga dimana tempat saus itu. Setelah membawa dua yang dibutuhkan, Reva akan kembali malah dikejutkan dengan seorang pria yang bersandar tepat di belakangnya.


"Astaga ngagetin aja!" kesalnya sambil mengusap dada.


Lucas terkekeh kecil, "Maaf ya."


"Kok lo di sini?"


"Emangnya gak boleh?"


"Ya gak papa sih."


Lucas lalu menghadapkan tubuhnya pada Reva, "Hei lo kenapa sama cowok itu di sini?"


"Maksud lo?"


"Cowok yang sering lo ganggu di sekolah, kok kalian belanja bareng."


Kedua mata Reva terbelak sebentar, tapi tidak lama Ia berdehem pelan dan berusaha terlihat tenang. Sial sekali, kenapa Lucas bisa tahu sih? Reva harus menjelaskan bagaimana?

__ADS_1


"Kok diem aja sih? Jangan-jangan ada sesuatu lagi di antara kalian," ucap Lucas sambil menyeringai.


"Apaan sih? Bukan urusan lo, gak usah sok tahu!" ketus Reva lalu melenggang pergi dari sana.


__ADS_2