
Baru saja sampai di kelasnya, Reva melihat Lucas duduk di bangkunya sambil tersenyum lebar ke arahnya. Tumben sekali pria itu pagi-pagi sudah datang, biasanya masuk kelas saat bel berbunyi.
"Selamat pagi," sapa Lucas ceria.
"Hm, pagi," balas Reva sedikit acuh, "Awas, gue mau duduk."
"Silahkan Tuan putri." Lucas pun berdiri mempersilahkan.
Reva melirik sekitar dan bisa melihat beberapa murid yang memperhatikan, anehnya Ia merasa tidak enak. Memang banyak yang tahu kalau Lucas menyukainya, tapi Reva selama ini selalu bersikap acuh. Hanya saja sekarang suasananya sedikit berbeda.
"Jadi gimana? Hari ini hari terakhir kan?" tanya Lucas sambil menumpukan kedua tangannya di meja, membuat posisinya lebih membungkuk.
"Bukannya besok?" tanya Reva balik.
"Enggak ah kelamaan, hari ini aja terakhirnya."
"Ck gak bisa gitu dong, bukannya waktu itu bilangnya tiga hari?"
"Terserah aku dong Reva, kamu cuma bisa nurutin."
Reva berdecak pelan merasa Lucas sedikit menyebalkan, sekarang jadi sesuka hati tapi sialnya Ia tidak bisa membantah. Reva kembali dilanda rasa gundah, apa yang harus Ia berikan jawaban pada Lucas nanti?
"Pulang sekolah aku tunggu, awas aja kalau kamu kabur," ucap Lucas. Pria itu ke bangkunya karena bel masuk sudah berbunyi.
Kedua sahabat Reva yang baru datang tadi sempat melihat, mereka pun segera menghampiri perempuan itu, "Ada apa Reva?"
"Hah? Gak ada apa-apa kok," bantah nya.
"Masa? Terus tadi kalian ngobrolin apa?" tanya Ica penasaran, "Apa ngobrolin gue?"
"Bukan."
Ica langsung mengerucutkan bibirnya mendengar itu, Ia pun duduk sedikit kasar di kursinya. Reva yang melihatnya menghela nafas, bukan bermaksud membuat mood Ica jadi buruk. Tetapi Reva tidak mau memberikan sahabatnya itu harapan palsu lagi.
Selama pelajaran berlangsung, Reva tidak bisa fokus karena terus memikirkan apa yang harus di jawabnya nanti sepulang sekolah pada Lucas. Reva masih belum yakin dengan keputusannya, tapi sepertinya itu yang paling tepat.
"Pelajarannya sampai di sini saja, sampai bertemu lagi minggu depan. Ingat ya minggu depan terakhir belajar, jadi kalian harus persiapkan diri untuk menghadapi ujian kelulusan. Mengerti?"
"Baik Bu."
Reva diajak kedua sahabatnya itu ke kantin, tapi Ia beralasan akan ke toilet dulu, padahal nyatanya berdiam diri di belakang sekolah. Tidak banyak orang di sana, suasananya yang hening membuat Reva jadi rileks. Perhatian Reva teralih mendengar suara langkah mendekatinya.
"Ngapain kesini? Nanti ada yang lihat," ucapnya.
"Terus kenapa?" tanya Rafael balik.
"Nanti mereka salah paham lah."
"Selalu aja itu alasannya, padahal kalau dipikir gak salah kita bareng juga. Pikiran kita aja yang terlalu jauh."
__ADS_1
Benar juga sih, batin Reva.
Dengan santainya Rafael duduk di sebelah Reva, lalu memberikan sebungkus rotinya pada perempuan itu. Reva pun menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Pengertian sekali suaminya itu.
"Kenapa gak ke kantin? Gak makan siang?" tanya Rafael.
"Males."
"Makan kok males."
"Lo sendiri?" tanya Reva balik.
"Aku biasanya emang jarang, kalau sekarang mending makan sambil tetap belajar."
"Sok rajin," ledek Reva.
Rafael hanya terkekeh kecil mendengar itu, tidak tersinggung sama sekali, Ia tahu kok Reva tidak serius. Untung saja tadi Rafael membeli dua bungkus roti, tapi sayangnya minumannya hanya satu.
"Mana cewek lo? Biasanya juga suka ngintilin ke mana-mana," tanya Reva.
"Siapa?"
"Ya siapa lagi lah kalau bukan si centil Dinda."
"Oh dia hari ini gak sekolah, sakit katanya."
"Bisa sakit juga dia. Padahal kalau di sekolah juga, lo bisa ngurusin dia ya?"
"Tapi emang bener, kan? Lo selalu care sama dia."
"Aku juga selalu peduli sama Reva."
"Iya, tapi nomor dua," ketus Reva.
Reva lalu merebut susu kotak di tangan Rafael dan meminumnya begitu saja, tidak masalah mereka satu sedotan karena sudah biasa. Untung saja di sana pun sedang sepi, jadi tidak ada banyak yang melihat.
"Akhir-akhir ini kamu sering ngelamun Reva, kenapa?" tanya Rafael.
"Gak papa."
"Bohong, pasti ada sesuatu. Kenapa gak mau cerita sih?"
"Terus emangnya kalau gue cerita lo mau apa?"
"Ya mungkin aja aku bisa bantu."
Benarkah?
Kalau Reva cerita jika Ia sedang gundah karena mendapat ancaman dari Lucas, apa benar Rafael bisa membantunya? Ini kan masalah mereka berdua, tapi yang menanggung hanya Reva seorang. Tetapi sebelum Reva membuka suara, Ia malah tidak sengaja melihat Lucas berjalan di kejauhan ke arahnya.
__ADS_1
"Reva, jadi ada apa?" tanya Rafael.
"Enggak jadi, nanti aja," geleng Reva.
Melihat perempuan itu terus menatap ke depan, membuat Rafael ikut melihat. Ia sedikit tersentak melihat kedatangan Lucas, membuat Rafael sedikit gugup tapi tetap berusaha tenang.
"Wah ada apa nih? Baru kali ini lihat kalian berduaan di sekolah, bukannya kalian gak akrab ya?" tanya Lucas yang berdiri di depan keduanya.
"Haha gak ada apa-apa kok," bantah Rafael sambil tersenyum canggung.
"Iya, sok tahu banget. Kata siapa kita gak akrab?"
"Ya banyak yang bilang, tapi sih sebenarnya aku gak terlalu percaya juga." Lucas terlihat menyeringai penuh arti.
Rafael berdehem pelan, "Em Reva, aku pergi dulu," pamitnya.
Sebenarnya Reva ingin menahan karena tidak mau ditinggalkan, nanti akan berduaan dengan Lucas. Tetapi kalau ditahan, Lucas pasti akan semakin mengejeknya. Setelah Rafael pergi, Lucas pun duduk di tempat pria itu tadi.
"Jadi kalian kalau mau berduaan suka di tempat sepi gini ya?" tanya Lucas.
"Enggak juga."
"Terus?"
"Ya kalau di sekolah jarang kelihatan bareng."
"Biar orang pada gak curiga ya? Padahal kalau mau berduaan juga, kayanya orang gak bakal curiga."
Memang benar, tapi kan mereka hanya berjaga-jaga. Atau apakah keduanya terlalu berlebihan ya?
"Kalau dulu aku selalu gak peduli dan gak curiga kalau Reva deket Rafael, sekarang setelah tahu kalian ada sesuatu jadi cemburu," ungkap Lucas jujur.
"Gitu aja cemburu, gak ngebayangin kalau gue sama si Rafael berduaan di apartemen?" tanya Reva sengaja memanasi, Ia bahkan sampai tersenyum sinis.
Lucas terdiam beberapa saat, "Iya juga ya, apalagi kan kalian suami istri. Tapi emangnya kalian di apartemen akur?"
"Oh iya dong, masa gak akur," bohong Reva.
"Gak papa deh, aku gak terlalu mau tahu juga karena pasti bakalan cemburu. Aku akan berusaha acuh, dan fokus ke hubungan kita aja."
"Maksudnya?"
"Ya maksudnya aku lebih nikmatin waktu kita berdua, gak mau terlalu tahu juga apa yang Reva lakuin sama Rafael."
Baguslah, batin Reva.
"Jangan lupa ya nanti sore, pokoknya jangan pulang duluan. Aku tunggu di sini aja deh."
"Kalau gue kabur?"
__ADS_1
"Ya siap-siap aja besok beritanya udah ke sebar. Aku serius loh Reva." Sebelum pergi, Lucas sempat mengedipkan sebelah matanya membuat Reva semakin kesal.