
Lamunan Reva terhenti saat melihat kedatangan Kakeknya, pria paruh baya itu duduk di kursi bekas guru BK tadi yang sudah keluar. Melihat Kakeknya yang menghela nafas berat, membuat Reva merasa tidak enak.
"Kakek kaget pas dengar keributan di toilet perempuan, tapi lebih kaget karena kamu lah yang buat," ungkap Kakeknya.
"Maaf, tapi ini bukan salah aku sepenuhnya."
"Jadi kamu mau memberi alasan apa agar Kakek percaya?"
Dengan berat hati Reva pun kembali menceritakan awal mula semua, tapi dengan kata-kata yang membela dirinya sendiri. Reva juga menunjukan wajah memelas agar Kakek nya itu tegaan.
"Memang bagus sih membela diri itu, tapi kenapa kamu harus melakukan kekerasan hm?"
"Habisnya dia ngeledekin aku parah, aku sampai gak bisa nahan diri."
"Kamu dan Dinda sudah bermaafan, kan?"
"Aku minta maaf?" tanya Reva sambil menunjuk dirinya sendiri, "Gak lah, harusnya dia yang minta maaf."
"Dinda memang salah, tapi kamu juga salah. Kalian sama-sama salah dan harus saling minta maaf."
"Tapi--"
"Seharusnya kamu mendapat skorsing beberapa hari karena melakukan pelanggaran di sekolah."
"Jangan dong Kek," rengek Reva.
"Ya untungnya saja Kakek kepala sekolah di sini, jadi masih bisa menyelamatkan kamu. Tapi Kakek mohon, jangan bertingkah lagi membuat keributan di sekolah."
"Iya Kek, aku minta maaf kalau semisal sudah malu-maluin Kakek."
"Tidak Reva, bukan begitu," geleng Kakeknya, "Kakek malah lebih khawatir kamu kenapa-napa, juga nama kamu di cap buruk oleh banyak orang."
Reva memainkan jari tangannya merasakan gundah di hatinya. Ternyata Kakeknya seperti itu, membuat Reva merasa malu dan tertohok. Kalau dipikir Ia pasti sudah mempermalukan Kakek nya itu sebagai kepala sekolah karena memiliki cucu brandalan sepertinya.
"Reva dengar kan apa kata Kakek tadi?"
"Iya dengar, aku janji gak akan ulangi."
"Bagus, Kakek pegang ya janji kamu. Ingat kamu sudah kelas tiga, sebentar lagi juga lulus. Jangan menunjukan sikap buruk agar nilai kamu juga tetap bagus."
"Iya Kek."
Setelah perbincangan panjang itu, Kakeknya dan Reva keluar ruangan bersama. Kakeknya lalu pamit pergi lebih dahulu, meninggalkan Reva yang masih berdiri diam di Koridor sekolah. Untung saja keadaan sekolah saat itu sepi, semua murid sedang belajar.
"Hei."
Panggilan itu membuat Reva menoleh ke asal suara. Melihat jika itu adalah Lucas, membuat Reva tanpa sadar memutar bola matanya malas dan memilih mengabaikan. Lucas terlihat berlari kecil menghampirinya.
"Ngapain lo di sini?" tanya Reva.
__ADS_1
"Emangnya kenapa? Gak boleh? Ini kan sekolah gue juga," balas Lucas.
"Bukan gitu, tapi kan udah masuk bel. Kenapa gak belajar?"
"Gak semangat belajar, soalnya lo gak ada."
"Hih ngadi-ngadi aja lo," dengus Reva.
Lucas malah terkekeh kecil, lalu memberikan sebotol air mineral, "Minum?"
"Bekas lo ya?"
"Enggak lah, masih baru. Tuh lihat, masih disegel tutupnya juga."
Reva pun menerimanya, "Makasih, tapi kenapa lo baik juga ya?"
"Gue emang baik, apalagi kalau sama cewek yang gue suka."
Apakah itu adalah sebuah kode?
Reva mengedikan bahunya mencoba acuh lalu meminum air mineral itu beberapa tegukan, merasa haus karena tenaganya tadi terkuras banyak saat bertengkar dan diceramahi para guru.
"Lo gak papa?"
"Apanya?"
"Gue denger lo ribut sama cewek lain di toilet, gak papa, kan?"
Lucas memperhatikan penampilan perempuan itu dalam sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Rambut Reva memang sedikit berantakan, Ia juga melihat ada sedikit goresan di dekat matanya, sepertinya luka cakaran.
"Kayanya yang lebih parah lawan lo ya?" tanya Lucas.
"Lo tahu?"
"Enggak sih, cuma nebak aja. Soalnya kan lo kelihatan bar-bar."
"Emang, dia kayanya lima kali lebih parah dari gue." Saat mengatakan itu, Reva menyeringai kejam. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun di hatinya.
"Hahaha keren lo."
"Gue gak salah denger? Kok lo malah muji gue sih?"
"Emang bener, jarang-jarang kan cewek kalau ribut ada yang menang."
"Biasa aja tuh." Tetapi jujur memang Reva sedikit bangga pada dirinya karena bisa berkelahi lebih baik.
Reva tersentak saat Lucas menyentuh dekat matanya, lalu mengusapnya pelan. Tadinya ingin Ia jauhkan, tapi Reva malah tidak sengaja melihat seseorang yang berjalan di kejauhan mendekatinya. Itu Rafael.
"Ini sakit gak?" tanya Lucas.
__ADS_1
"Biasa aja, emangnya kenapa?"
"Kayanya ini kena cakaran, tapi gak terlalu panjang sih."
"Gak papa kok."
"Kayanya harus pakai salep biar gak berbekas, mau gue obatin?"
Sebenarnya Reva ingin menolak karena dirinya pun tidak selemah itu, tapi entah kenapa melihat Rafael yang hanya diam saja memperhatikan dari jauh itu terasa menyenangkan saja baginya. Anggap saja Reva ingin memanasi suaminya itu, apakah cemburu karena Ia dekat dengan pria lain?
"Emangnya lo punya?" tanya Reva.
"Enggak sih, nanti pulang sekolah gue beli ya?"
Reva mendengus pelan sambil tersenyum, "Terserah lo aja deh!"
"Haha tapi gue serius, tapi nanti pulang sekolah lo jangan dulu pergi. Mau pulang bareng gue?"
"Enggak, gue bawa mobil."
"Ah sial banget, padahal gue pengen pulang bareng lo."
"Nanti aja deh kapan-kapan."
"Beneran ya?"
"Hm."
Lucas tidak bisa menyembunyikan senyumannya mendengar itu, bukankah itu adalah kesempatan emas yang jangan Ia sia-sia kan? Lucas lalu diminta Reva pergi lebih dulu karena perempuan itu berdalih akan ke toilet, Lucas pun menurut begitu saja.
Saat Reva berbelok, perempuan itu terkejut melihat Rafael yang bersandar di dinding dengan kedua tangan terlipat di dada. Pandangan mereka pun bertemu, tapi saling diam beberapa saat. Entahlah apa arti tatapan Rafael, tapi terlihat biasa saja menurut Reva.
"Kok gak ke kelas? Lo kan anak rajin, masa bolos sih," tanya Reva.
"Aku tadinya mau nemuin kamu," jawab Rafael.
"Mau apa emangnya? Urusin aja tuh cewek idaman lo."
Maksudnya Dinda? Batin Rafael bertanya.
"Dia di UKS, katanya pengen istirahat sebentar."
"Sorry ya gue sedikit kasar sama cewek yang lo suka, sampai dia luka-luka gitu. Lo pasti kesel kan sama gue?" Reva rasanya tidak ikhlas sekali saat meminta maaf tadi, tapi percayalah dirinya sedang cemburu.
"Aku gak tahu pasti kenapa kamu sampai kasar gitu Reva."
"Lo pasti udah denger cerita versi si Dinda, jadi kayanya lo juga bakal lebih percaya sama dia, kan?"
"Tergantung, aku juga belum dengar penjelasan dari kamu."
__ADS_1
"Gak usah lah, toh pasti lo gak bakal percaya."
Baru saja Reva beberapa langkah pergi dari sana, suara lirih Rafael yang menanyakan kabarnya membuatnya terhenti. Dadanya seperti dihantam sesuatu, sebuah perasaan haru karena Rafael terlihat masih khawatir padanya. Tetapi Reva tidak menanggapi dan melanjutkan langkah, Ia ingin sedikit meninggikan egonya sekarang.