
"Kenapa jadi ke sana? Sikap baikku ini hanya karena tidak tega melihat penindasan," jawab Dinda.
Sebelah alis Reva terangkat merasa ragu mendengar itu, "Tapi kayanya lo sering nempelin Rafael kemana pun," sinis nya.
Rafael menepuk bahu Reva, membuat perempuan itu menatapnya, "Sudah Reva, jangan dilanjutkan."
"Apa maksud lo?"
"Jangan ribut lagi, lebih baik kamu pergi."
Rasanya Reva ingin memarahi Rafael saat itu juga karena malah mengusirnya, bukankah seharusnya yang lebih dibela itu dirinya ya? Reva semakin tidak menyukai Dinda karena terlihat selalu di bela Rafael.
"Denger sendiri, kan? Jadi, sana pergi," usir Dinda sambil tersenyum sinis.
"Huh awas ya kalian berdua!" desis Reva. Dengan perasaan kesal, Ia pun pergi dari sana.
Setelah kepergian Reva, suasana di meja itu terasa lebih tenang. Rafael melirik sekitar, pasti tadi ada beberapa yang memperhatikan, membuatnya malu. Ia kembali duduk dan meminum jus nya untuk membasahi tenggorokan yang tercekat.
"Emang dasar cewek bar-bar Reva itu, aku gak tahu gimana masa depan dia," gerutu Dinda.
Rafael terdiam, entah kenapa merasa tidak suka saat Dinda seolah menjelek-jelekkan Reva. Ia tahu perempuan itu sedang kesal, tapi kan tidak perlu merendahkan seperti itu, apalagi Reva kan istrinya.
"Untung aja dia terlahir dari keluarga kaya, makanya pendidikannya terjamin. Kalau aja sekolah ini bukan punya Kakeknya, dia udah di keluarin dari lama," lanjut Dinda.
Rafael berdehem pelan, "Sudahlah, tidak perlu dibicarakan lagi," tegur nya.
"Rafael, memangnya kamu gak kesel sama dia?"
"Em biasa aja."
"Jangan bilang kamu suka ya diganggu Reva?!" pekik Dinda.
"Bu-bukan, aku emang gak suka kalau dia sudah jahil. Tapi.. Aku pikir gak perlu merendahkan dia dan mengatainya buruk," jawab Rafael pelan.
Dinda langsung mengatupkan bibirnya merasa Rafael sedang menyindir nya, Ia jadi merasa tertohok sendiri. Mau bagaimana lagi, Dinda kan sedang kesal. Dari dulu Ia dan Reva itu tidak pernah akrab, selalu saja ribut.
"Rafael, sekali-kali kamu harus berani. Kamu kan laki-laki, jangan kalah dong dari Reva."
"Iya Dinda, makasih masukannya."
__ADS_1
"Soalnya kalau kamu lemah dan ngebiarin, dia bakal makin semena-mena sama kamu."
"Hm."
Beberapa menit kemudian, bel jam istirahat berakhir membuat para murid segera beranjak untuk ke kelas masing-masing. Sekarang jadwal olahraga di kelas Rafael, Ia dan temannya langsung mengganti seragam dengan baju olahraga.
"Ayo semuanya diminta Pak guru ke lapangan," ucap Rafael. Ia memang ketua kelas, jadi paling bertanggung jawab.
Cuaca siang itu lumayan terik, rasanya pasti semua murid malas sekali melakukan olahraga saat cuaca begitu. Sebelum mulai pada pelajaran, mereka diminta melakukan pemanasan terlebih dahulu. Di pimpin oleh dua orang murid.
"Ayo semuanya lari keliling lapangan lima kali," perintah si guru sambil menepuk-nepukkan tangannya memberikan semangat.
Lapangan itu lumayan luas, di sisi-sisi nya banyak ruangan kelas. Terlihat ada beberapa murid di luar kelas, sepertinya sedang jam kosong karena tidak belajar. Termasuk kelas Reva yang ada di lantai dua, tepat menghadap ke lapangan.
"Pssst lagi ngapain nih, ngelamun aja?" tanya Ica sambil menyenggol bahunya.
"Bukan apa-apa," jawab Reva tanpa mengalihkan pandangan.
Ia hanya melihat satu orang di lapangan, siapa lagi kalau bukan Rafael. Tetapi sialnya pria itu berlari bersebelahan dengan Dinda. Kenapa mereka selalu bersama sih? Menganggu indra penglihatannya saja.
"Oh iya Va, bener tadi pas istirahat lo ribut lagi sama si Dinda?" tanya temannya.
"Hm."
"Ya biasa, gue yang gangguin Rafael dan si Dinda itu sok kaya pahlawan kesiangan aja. Dia juga ngejelek-jelekkin gue lagi, sialan emang tuh cewek," dengus Reva. Mengingat itu, membuatnya kembali kesal.
"Terus lo balas, kan? Lo gak diam kan?"
"Ck ya enggak lah, masa gue diem, yang ada kalah."
"Nah iya bagus, jadi lo balas gimana?"
Reva menghela nafasnya, "Gak tahu, gue lupa lagi."
Kedua temannya langsung menepuk kening mereka secara bersamaan mendengar itu, padahal mereka penasaran sekali ingin mendengar karena pasti seru. Sayang sekali tadi tidak ada di tempat, sedang sibuk mengerubuni Lucas si murid tampan.
"Kalau kita ada di sana, itu si Dinda udah habis," timpal Ica.
"Kalian sih malah di kelas, jadinya gue lawan dia sendiri."
__ADS_1
"Ya sudah, nanti mau labrak dia gak?"
"Ck gak usah, biar gue sendiri aja."
"Maksudnya lo gak akan minta bantuan kita lagi?"
Masalahnya Reva merasa dengan Dinda itu adalah Rival sejati, masalah di antara mereka itu terasa semu alias tidak jelas. Tetapi merasakan sekali aura permusuhan yang kuat dan tidak mau saling kalah.
"Eh lihat itu si Dinda lagi sama si Rafael," celetuk Tata, "Mereka itu ke mana-mana suka bareng, udah jadian kayanya."
Lamunan Reva terhenti saat mendengar itu, Ia pun kembali melihat ke arah lapang. Terlihat kelas itu sudah tidak lari lagi, mereka olahraga masing-masing. Reva tanpa sadar berdecak melihat Rafael yang sedang bermain voli hanya berdua dengan Dinda.
"Tapi kok si Dinda mau ya sama Rafael?" tanya Ica.
Reva langsung menatap temannya yang memiliki rambut sebahu itu, "Apa maksud lo?" tanyanya merasa tersinggung sendiri.
"Maksudnya Dinda pasti bisa dapat pacar yang lebih keren dari si Rafael."
Tata lalu menyaut, "Tapi kalau diperhatiin sebenarnya si Rafael juga ganteng, putih lagi. Cuma ya emang dia kurang bisa dandan, terus badannya gak kekar."
"Iya juga, kalau aja dia suka nge gym, nanti pasti punya badan atletis, pasti bakal lebih ganteng."
Mendengar dua temannya yang memuji Rafael, entah kenapa membuat Reva panas dada sendiri. Tetapi Ia tidak mau terlalu menunjukan, yang ada nanti membuat curiga. Reva masih menatap pria itu dari kejauhan dengan tangan memegang erat pembatas.
"Si Rafael pernah pacaran gak sih?"
"Tapi kayanya belum, secara dia kaya kurang percaya diri kalau deketin cewek."
"Tapi kayanya kalau dia udah suka sama seseorang, pasti bakalan tulus dan cinta banget."
"Wah pengen juga digituin sama cowok."
Reva lalu menjewer telinga masing-masing temannya itu, membuat mereka menghentikan obrolan dan berganti menjadi ringisan pelan. Kebetulan lagi posisi berdirinya ada di tengah-tengah.
"Halu mulu kalian, pengen yang tulus tapi pacaran sama cowok kurang ajar mulu. Gimana mau dijadiin ratu?" tanya Reva menohok.
"Ya kan apa salahnya berharap, moga aja suatu saat nanti dapetin yang tulus gitu."
"Sudah-sudah sana mending kalian tuh ke si Lucas lagi, tempelin dia terus biar gak halu terus," usir Reva. Dua temannya itu pun dengan bodohnya menurut saja.
__ADS_1
Reva kembali melihat ke arah lapang, merasa semakin kesal melihat Rafael dengan Dinda terus berduaan, membuat Reva memilih ikut masuk ke kelasnya.