
"Saya berikan kamu waktu untuk beres-beres," ucap Evan pada mantan babysitter putrinya itu. Keputusannya untuk memecat sudah bulat.
Nana menatap pria itu sendu, "Tuan tidak akan memberikan saya kesempatan?" tanyanya lirih dengan wajah memelas.
"Tidak Nana, maaf. Saya benar-benar kecewa sama kamu, saya kira kamu bisa menjaga Celine dengan baik selama saya bekerja, tapi nyatanya tidak." Mungkin Evan sudah memaafkan, tapi Ia tidak akan memberikan Nana kesempatan kedua.
"Kenapa Tuan sangat percaya dengan tuduhan Reva? Dia kan orang asing, bagaimana kalau dia hanya menjelekkan saya?"
"Enak aja kalau ngomong," ucap Reva ketus yang baru keluar kamar Celine. Perempuan itu menatap tajam Nana, hampir saja dirinya di fitnah, "Bener kok yang aku bilang kalau kamu itu gak becus kerja."
"Kamu ini kenapa Reva kaya benci gitu sama aku? Apa aku ada salah sama kamu?"
Rasanya Reva ingin tertawa melihat drama Nana itu, benar-benar seperti aktris profesional, "Sudahlah, kamu terlihat menyedihkan dengan pura-pura begitu. Mending sekarang pergi. Kak Evan masih berbaik hati tidak melaporkan kamu pada polisi, harusnya kamu punya malu dong," ledek nya.
"Sudah Nana, cepat kemasi barang kamu. Dan ini bayaran kamu untuk bulan ini." Evan menyimpan amplop putih di meja berisi gaji.
Nana pun menerimanya, "Terima kasih Tuan, dan saya minta maaf." Setelahnya perempuan itu pun beranjak pergi keluar dari sana dengan menenteng tasnya. Tetapi sebelum keluar, sempat bertatapan tajam dengan Reva.
"Dasar munafik," dengus Reva menatap kepergian perempuan itu.
"Reva kesini, saya ingin bicara dengan kamu," panggil Evan.
Reva pun menurut lalu duduk di hadapannya, "Gimana Kak?"
"Makasih ya sudah jagain Celine selama ini, kamu juga peka sekali tahu apa yang terjadi di antara anak saya dengan babysitter nya itu, lebih perhatian dari pada saya." Sebenarnya Evan malu sekali. Padahal Ia orang tua Celine, tapi Reva yang orang asing lebih tahu banyak.
"Sama-sama Kak, aku juga senang bisa bantu. Aku cuman gak tega lihat Celine yang gak dijagain Nana dengan baik. Udah beberapa kali dia bersikap semena-mena begitu, dan hari ini aku pikir udah keterlaluan dan milih laporin ke Kakak."
"Kalau aja kamu gak cerita, mungkin sampai kapanpun saya gak akan tahu bagaimana cara kerja Nana itu. Saya gak tahu karena di kantor, tapi kamu yang paling tahu."
Reva tersenyum tipis, "Iya, aku dan Celine kan temenan hehe."
"Temenan tapi beda usianya jauh banget."
"Gak papa lah, kan yang penting akrab dan saling sayang." Entahlah apa ini dianggap teman atau lebih, tapi kalau lebih pun Reva tidak masalah.
__ADS_1
"Kenapa kamu baik banget sampai mau bantu laporin dia ke saya?" tanya Evan.
"Ya itu jawabannya tadi, aku gak suka lihat cara kerja Nana yang gak becus jagain Celine. Gak dibolehin ini lah, itulah. Aku takutnya Nana itu sampai lakuin kekerasan, kasihan nanti mental Celine."
Evan tersentak sendiri mendengar itu, "Kamu benar," gumamnya.
"Nanti Kak Evan kalau mau cari pengasuh buat Celine, harus benar-benar cari yang bagus dan terjamin. Kalau bisa sih punya sertifikat begitu juga biar bisa dipercaya."
"Bagaimana kalau kamu saja yang jagain Celine?" tanya Evan yang baru terpikirkan. Melihat hubungan perempuan itu dengan putrinya yang sudah dekat dan saling nyaman, sepertinya Evan tidak akan khawatir lagi.
Reva malah terkekeh kecil karena kembali teringat perkataan Celine tadi di dalam kamar yang sama, "Aku juga mau, tapi kan aku kuliah Kak," jawabnya.
"Benar juga ya, apalagi jam kuliah gak tentu. "
"Iya, jadi aku gak bisa jagain Celine terus." Sebenarnya sih Reva tidak masalah saja kalau ditugaskan menjaga Celine, mau dibayar ataupun tidak Ia tetap mau. Tetapi kan Reva kuliah, tidak mau juga terganggu pelajaran.
"Selama cari babysitter yang baru untuk Celine, mungkin nanti saya akan suruh Mama yang jagain Celine dulu," ucap Evan.
"Nah iya bener, mending di jagain dulu sama Bu Tamara," usul Reva setuju. Reva merasa bingung, ingin sekali bertanya kenapa Evan tidak titipkan Celine saja pada Ibunya itu dengan mereka tinggal bersama. Tetapi Reva takut terlalu masuk dan ikut campur pada keluarga itu, Reva kan bukan siapa-siapa.
"Sudah kok Kak."
"Kamu mau menginap?"
Reva tersentak sendiri mendengar pertanyaan berani seperti itu, "Haha enggak lah, nanti buat salah paham lagi," tolak nya sambil tertawa canggung.
"Kamu takut di gosipin aneh-aneh ya sama saya?" tanya Evan sedikit menggoda.
"Iya, apalagi di sini Kak Evan cuman tinggal sama Celine."
"Terus kalau kamu? Tinggal sendiri juga kan?"
"Dulu sih berdua, tapi sekarang sendiri."
"Berdua sama siapa? Orang tua kamu?"
__ADS_1
"Bukan," geleng Reva, "Suami aku."
Untuk beberapa saat Evan terlihat terdiam, tapi setelah mengerti perlahan kedua matanya terbelak, "Apa? Suami?!" tanyanya dengan suara keras tanpa sadar, sanking syoknya.
"Kak Evan emangnya belum tahu? Apa Bu Tamara emang belum sempat cerita ke Kakak? "
"Cerita apa?"
Melihat respon terkejutnya yang begitu, sepertinya Evan memang tidak tahu statusnya yang sudah taken ini, "Ya kalau aku sudah punya suami, malahan waktu itu Bu Tamara juga sempat ketemu sama suami aku." Reva terlihat santai sekali saat menceritakannya, sekarangkan tidak mau ada yang disembunyikan.
"Reva kamu serius sudah menikah? Memangnya umur kamu sekarang berapa?" Wajah Evan sampai pucat mengetahui ini.
"Masih sembilan belas tahun, aku dijodohin saat kita masih sekolah SMA."
"Ya ampun, saya benar-benat gak nyangka kalau kamu sudah menikah. Kalau sekedar masih pacaran sih saya gak kaget, tapi ternyata kamu sudah sejauh itu."
Reva terkekeh kecil melihat ekspresi Evan, di matanya terlihat lucu sendiri, "Semua orang yang dengar aku sudah menikah juga sama kagetnya kaya Kakak. Ya mungkin karena kami masih muda, jadi kaget."
"Ekhem terus sekarang suami kamu dimana? Saya merasa belum ketemu dia."
"Dia kuliah di Amerika."
"Uh kasihan sekarang LDR," ucap Evan setengah meledek.
"Iya nih, tapi gak papa deh, kan sama-sama mau fokus pendidikan."
Evan menganggukan kepala, usia mereka memang masih muda dan perjalanan pun masih panjang. Tetapi Evan cukup kagum pada pasangan muda itu, padahal pernikahan adalah hal terberat. Di usia muda biasanya kan sangat tinggi sekali ego, tapi sepertinya pernikahan di antara mereka baik-baik saja.
"Kak kayanya aku harus pulang sekarang. Besok ada kelas pagi, takut bangun kesiangan," ucap Reva setelah melihat jam tangannya. Terlalu asik mengobrol sampai lupa waktu.
"Oh iya, mau saya antar?" tawar Evan berbaik hati.
"Gak usah, lagian masih di gedung yang sama." Reva kan bukan anak kecil yang penakut.
"Ya sudah, hati-hati. Sekali lagi makasih sudah bantu."
__ADS_1
"Iya." Reva pun melambaikan tangannya pada Evan lalu keluar dari apartemen itu. Rasanya lega sekali karena masalah di antara mereka sudah selesai, berkat dirinya juga.