Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
106 Tidak Mengekang


__ADS_3

"Kenapa kamu gak tinggal aja di sini Reva? Selain Papa bisa jaga kamu, Papa juga jadi gak terlalu kesepian," ucapnya. Mereka sedang sarapan bersama, terasa sudah lama tidak seperti ini.


Reva bisa melihat tatapan memohon itu, membuatnya tidak tega sendiri, "Pah aku sudah besar, aku juga kan sudah menikah."


"Tapi kan sekarang suami kamu lagi di luar negeri. Walaupun kamu sudah besar, tapi kamu masih butuh seseorang yang bisa jagain kamu."


"Huft baiklah akan aku pikirkan lagi nanti, mungkin aku akan coba tinggal beberapa minggu di sini bersama Papa."


Papanya pun setelah mendengar itu tidak bisa menahan senyumannya lagi, "Beneran ya? Tapi kok cuman sebentar, gak selamanya?"


"Enggak, aku malas pindahan. Barang aku banyak, nanti harus bolak-balik." Reva terlebih dahulu menelan makannya, "Kalau misal Papa kesepian, kenapa gak menikah lagi?"


"Em sebenarnya Papa sedang dekat dengan seseorang."


"Eh beneran? Siapa? Kenapa belum dikenalin ke aku?" Reva jadi bersemangat sendiri mendengar itu. Merasa senang saja akhirnya Papanya itu bisa kembali membuka hati.


"Kami gak sengaja ketemu di Panti asuhan, saat sama-sama mengantar donatur dari perusahaan. Selama kenal, Papa merasa kepribadian dia cukup baik dan sangat ramah pada semua orang." Saat menceritakan itu, Papanya terlihat terus tersenyum-senyum.


"Terus siapa namanya?"


"Namanya Intan, tapi umurnya cukup jauh berbeda dengan Papa."


"Memang dia umur berapa?"


"Tiga puluh tahun, kami berbeda belasan tahun." Papanya pun terlihat menghela nafas berat, seperti sedang terbebani.


Reva lalu terpikirkan sesuatu, "Apa dia sudah menikah?" tanyanya penasaran. Biasanya kan perempuan di umur segitu sudah menikah dan memiliki anak.


"Sudah, tapi suaminya baru meninggal karena kecelakaan."


"Ya ampun kasihan, berarti sekarang dia janda dong sama seperti Papa. Terus apa dia sudah punya anak?"


"Katanya anaknya meninggal saat kecelakaan itu, dia keguguran."

__ADS_1


Reva pun bisa langsung menyimpulkan jika sepertinya Intan itu sedang bersama suaminya dan nasib buruk pun terjadi. Pasti sangat menyakitkan harus kehilangan dua orang tercinta sekaligus, Reva pun merasa Papanya cukup perhatian pada Intan itu.


"Apa Papa suka pada dia?" tanya Reva sambil tersenyum menggoda.


"Sepertinya Papa tertarik, dia hampir mirip dengan Mama kamu. Lemah lembut dan sering tersenyum."


"Hm pantas saja Papa suka, ya sudah ayo kejar."


"Apa?" Papanya terlihat terkejut saat Reva mengatakan itu.


"Dia pasti masih dalam masa berkabung, Papa datanglah untuk jadi teman dahulu, temani dia dan hibur dia. Mungkin saja dengan itu bisa membuat Intan itu jatuh hati pada Papa, bagaimana usulan dariku?" Reva sangat mendukung sekali, dari cerita Papanya Ia yakin jika Intan adalah orang yang baik. Tetapi Reva tidak bisa memastikan dahulu, karena Ia harus bertemu langsung.


"Jadi Papa harus kejar dia? Tapi kan Papa sudah tua, bukan anak muda kasmaran yang pantang menyerah," keluh nya sambil menopang dagu.


"Ya kalau misal Papa memang serius suka pada dia, ya berusaha dong. Tapi kalau tidak, ya tidak usah."


"Baiklah Papa akan dengarkan usulan kamu, tapi Papa tidak bisa pastikan apa dia ada perasaan yang sama pada Papa atau tidak."


"Pasti adalah," ucap Reva cepat, "Papa itu masih ganteng, kaya juga. Siapa yang gak mau coba?"


Sekalian Papanya berangkat ke kantor, Reva pun pulang ke apartemennya untuk bersiap kuliah. Sayang sekali nanti Ia tidak akan bisa berangkat dengan mobilnya, Papanya juga tidak punya mobil lain, hanya motor. Tetapi Reva tidak mau naik motor, panas dan sedikit takut kecelakaan.


"Kapan kamu pindah ke rumah Papa?" tanyanya.


"Nanti deh aku kan belum siap-siap dulu, nanti aku ke rumah Papa," jawab Reva yang sudah di luar mobil.


"Ya sudah, nanti biar Papa jemput."


Reva pun kembali mendekati kaca mobil, "Papa kapan mobil aku ketemu?" tanyanya merengek.


"Sabar dong, kan masih dicari."


"Tapi harus ketemu ya, aku juga pengen ketemu sama pelakunya." Reva terlihat menahan marah pada si pelaku yang menipunya waktu itu.

__ADS_1


"Iya-iya, nanti Papa akan kabari kamu kalau ada kelanjutan kasusnya."


"Aku tunggu."


Setelah kepergian Papanya itu, Reva pun segera masuk ke gedung apartemennya. Satu jam lagi kelas di mulai, jadi Ia harus cepat bersiap dan berangkat jangan sampai terlambat. Hari itu pun Reva berangkat ke Kampus dengan memesan grabcar, menurutnya sangat merepotkan karena biasanya memakai kendaraan sendiri.


"Reva," panggil Vanessa. Dengan susah payah perempuan itu berjalan menghampiri temannya itu, "Reva kamu di anter siapa?" tanyanya.


"Oh itu aku berangkat pakai grabcar," jawab Reva.


"Emangnya mobil kamu kemana?"


"Hilang."


"Apa? Bukannya kemarin masih anterin aku? Kamu gak bohongan Reva?"


"Enggak, beneran hilang kok. Jadi setelah aku anterin kamu pulang, Tiba-tiba di tengah jalan mobil aku mogok. Ada Bapak-Bapak yang aku kira mau bantu, eh ternyata dia malah nipu dan bawa mobil aku," ceritanya.


Tatapan Vanessa menjadi sendu, "Ya ampun Reva, aku ikut prihatin. Ini semua gara-gara aku, kalau aja kemarin kamu gak anterin aku pulang mungkin-"


"Hei Vanes, kok kamu malah nyalahin sendiri sih?"


"Benar kata orang, aku ini pembawa sial. Karena kamu suka nolongin dan jadi teman aku, aku malah buat kamu dapat musibah begitu. Maafin aku ya Reva." Vanessa tidak bisa menahan air matanya lagi, Kata-kata itu selalu tertanam jelas di ingatannya yang diberikan oleh teman-temannya jika Ia pembawa sial.


Reva mengernyitkan kening melihat Vanessa yang menyalahkan dirinya, emosionalnya itu seperti sulit di bendung dan sangat perasa. Tanda-tanda itu sangat Reva kenali, seperti seseorang yang selalu ditindas dan disalahkan. Reva pun membawa temannya itu ke pelukan, hatinya ikut sedih sendiri.


"Sudah Vanes, ini bukan salah kamu kok," ucap Reva berusaha menenangkan. Sebenarnya apa yang sudah Vanessa lewati selama ini?


"Sekali lagi maaf ya Reva," ucap Vanessa dengan suara bergetar sambil meregangkan pelukannya.


"Iya gak papa, lagian Papa aku punya banyak kenalan di polisi. Mereka juga lagi bantu cari, aku yakin sebentar lagi mobilnya bakalan ketemu." Reva mengatakannya sambil tersenyum, berusaha menenangkan Vanessa yang sedang overthinking.


"Benarkah? Semoga ya Reva, maaf aku cuman bisa bantu doa."

__ADS_1


"Iya. Sudah yuk mending sekarang kita ke kelas, nanti dosennya keburu masuk." Reva pun membantu Vanessa memegang kruk nya itu, menuju kelas mereka yang lumayan jauh.


Tanpa kedua orang sadari ada seseorang yang memperhatikan dengan baik. Tatapannya terlihat tajam dengan bibir mencebik tidak suka akan kedekatan pertemanan mereka. Padahal dirinya pun punya banyak teman, tapi anehnya saat melihat Vanessa dekat dengan Reva membuatnya merasa iri dan merasa dirinya lebih pantas menjadi teman Reva.


__ADS_2