
Di siang hari sedang asiknya menonton TV, perhatian Reva teralih mendengar bel rumah yang berbunyi. Ia segera beranjak untuk membukanya, terkejut melihat seorang anak kecil yang melenggang masuk begitu saja.
"Eh ada Reva ya," ucap seorang wanita dewasa.
"Iya Tante Lala, dari kemarin di sini."
"Berarti nginep ya?"
"Iya, kan libur."
Keduanya lalu masuk dan langsung melihat seorang anak laki-laki di sofa yang sedang mencari chanel kartun di TV. Namanya Bastian, usianya masih tujuh tahunan. Lala ini adalah adik dari Bundanya Rafael, kebetulan rumahnya pun tidak jauh dari sini.
"Loh Bunda sama Ayah mau kemana?" tanya Reva bingung melihat penampilan kedua orang tuanya yang sudah rapih.
"Kami mau ke undangan pernikahan, sama Lala," jawab Bunda, "Kamu di rumah gak papa?"
"Iya gak papa kok."
Lala lalu menyaut, "Nah kebetulan kalau gitu, Tante sekalian titip Bastian ya?"
"Hah?"
"Kalau diajak, dia bakalan rempong pengen beli mainan sama jajan terus. Kamu tahu sendiri dia lagi bandel-bandelnya, jadi Tante titip ya?" bisik Lala.
"I-iya deh, di sini juga kan ada Rafael."
"Kalian sekalian belajar aja ngurus anak kecil, kan calon orang tua."
"Hahaha iya Tante," ucap Reva sambil tertawa canggung.
"Titip rumah juga ya Reva, kayanya kami akan pulang agak sorean, soalnya lumayan jauh."
"Iya Bunda, hati-hati di jalan ya semuanya."
"Iya, nanti pulangnya Bunda beliin sesuatu deh."
"Hehe makasih Bunda."
Setelah kepergian ketiga orang itu, perhatian Reva teralih ke arah sofa. Kedua matanya terbelak melihat Bastian yang sedang mengotak-atik ponselnya, segera Ia pun mendekat dan merebut ponselnya itu.
"Itu punya siapa?" tanya Bastian.
"Punya Tante, jangan dimainin," jawab Reva. Untung saja dikunci, jadi masih aman.
"Aku juga punya."
"Masa? Paling juga punya Mama Lala kan?"
"Enggak, aku punya banyak di rumah."
Rasanya Reva ingin tertawa mendengar itu, tapi di maklumi karena anak kecil, "Terus kenapa gak dibawa kesini?" tantang nya.
__ADS_1
"Enggak ah, nanti Tante Reva iri lihat ponsel aku yang banyak."
"Enggak akan tuh, lagian punya Tante ebih bagus."
"Punya Tante Reva jelek ih, warnanya ungu. Ungu kan warna janda."
Astaga anak itu, asal sekali bicaranya. Polos tapi nyeletuk, Lagi-lagi dimaklumi karena masih anak kecil. Sebenarnya Reva tidak terlalu suka jika mengurus Bastian, merasa anak kecil ini menyebalkan dan nakal. Kalau saja tadi bisa menolak, tapi nanti dianggap tidak sopan.
"Kamu kenapa tadi gak ikut Mama kamu aja? Dia mau ke pesta loh, makan-makan di sana. Kasihan deh gak diajak."
"Mama bilang di rumah ini banyak es krim, jadi aku gak ikut. Sekarang mana es krim nya? Aku pengen dong."
"Gak ada es krim, Mama kamu itu bohong."
"Tapi--"
"Makanya kalau jadi anak kecil jangan polos-polos banget, Mama kamu itu cuma lagi bujuk kamu biar gak diajak." Reva menyeringai senang karena sudah memanasi Bastian.
Tetapi Reva terkejut melihat tidak lama Bastian yang malah menangis keras, membuatnya panik sendiri. Padahal Ia kira Bastian tidak akan mau kalah, tapi kali ini malah menangis. Dasar, tidak seru sekali.
"Hei kok nangis sih? Tante kan bercanda, " ucap Reva.
"Huwaa aku mau ke Mamah."
"Aduh tapi Mama kamu sudah pergi. "
"Gak mau, aku mau ke Mama hiks!"
"Bastian, kamu kenapa?" tanya Rafael.
Bastian lalu malah menunjuk Reva, "Hiks Tante Reva gak mau jajanin aku es krim, dia pelit."
Reva berdecak kesal di fitnah seperti itu, kenapa ceritanya jadi berbeda?
"Jadi karena itu? Ya sudah, nanti Om yang beliin. Sudah jangan menangis lagi."
"Tapi aku mau sekarang," rengek Bastian.
"Iya-iya, Om beli dulu ya?"
"Gak mau, aku pengen ikut."
"Huft ya sudah, yuk kita beli bareng. Tapi Bastian jangan nangis lagi dong."
"Iya sudah enggak."
Dengan perhatiannya Rafael mengusap lelehan air mata di wajah mungil itu, bibirnya dari tadi terus melengkungkan senyuman. Setelahnya Ia lalu menggendong Bastian, lalu baru menatap Reva.
"Kamu godain dia terus," ucapnya.
"Enggak kok, Bastian tadi bilangnya pengen ke Mamanya."
__ADS_1
Bastian memegang wajah Rafael, membuat pria itu menatapnya. Kepalanya lalu menggeleng pelan dengan tatapan polosnya, yang melihat pun seperti di hipnotis untuk percaya.
"Huh dasar caper!" dengus Reva. Memang paling bisa saja Bastian itu mencari muka. Masih kecil tapi sudah manipulatif.
"Ayok Om kita beli es krim sekarang, tapi jangan ajak Tante Reva ya."
"Loh kenapa?"
"Gak mau, soalnya Tante Reva galak."
"Apa?!"
Mendengar bentakan itu, membuat Bastian kembali memeluk Rafael sambil menyenderkan kepalanya di dadanya. Tanpa Rafael lihat, anak kecil itu sedang menyeringai licik ke arah Reva. Membuat Reva semakin kesal saja dibuatnya.
"Sudah-sudah, kalian itu ya pasti selalu berantem. Kita beli bareng-bareng ya?" bujuk Rafael, "Kalau jalan-jalan lebih banyak orang kan lebih seru."
"Ya sudah deh," desah Bastian pasrah.
"Yuk kita berangkat sekarang."
Lagi pula di rumah seharian itu sangat membosankan, mumpung ada Bastian jadi mereka akan jalan-jalan saja dengan menaiki mobil. Mereka pergi ke Mall, bukan hanya beli es krim tapi juga bermain. Mall hari weekend seperti biasa selalu ramai.
"Aneh kamu itu Bastian, masih kecil tapi kok sukanya es krim rasa kopi," celetuk Reva, "Anak kecil kan gak boleh makan kopi."
Bastian hanya memutar bola matanya malas sambil tetap menikmati es krim nya, "Kan ini es krim, jadi boleh."
"Ya tapi tetap aja rasanya kopi."
"Gak papa, aku juga kan gak sering."
"Huh bisa aja kamu balesnya."
Rafael menepuk bahu Reva, "Sudah, jangan goda dia terus," nasihat nya.
"Bukan gitu, tapi kan memang benar yang aku bilang tadi. Kok kamu juga bolehin sih?"
"Tadi aku juga sudah minta izin dulu sama Tante Lala, dibolehin kok. Gak papa, emang jarang. Biar dia gak nangis lagi."
"Hah terserah lah."
Walaupun Reva memang terlihat masih labil dan emosinya belum stabil, tapi Ia sudah tahu bagaimana menjadi seorang Ibu yang baik itu. Ia hanya khawatir saja pada Bastian, apalagi usianya masih kecil. Memang sih anak itu menyebalkan, tapi Ia tetap sayang kok pada keponakannya itu.
"Tante juga aneh, kok suka rasa hijau itu," balas Bastian.
"Ini rasa macha, enak kok."
"Gak enak ih, rasa daun."
"Emangnya kamu pernah coba?"
"Pernah sedikit, dan aku gak suka. Enakan rasa kopi, mau coba ini?"
__ADS_1
"Enggak ah, habisin aja sendiri."