
Kali ini keduanya pulang bersama, tapi saat masuk malah terkejut melihat kehadiran Bunda di dalam. Wanita paruh baya itu lalu meminta kedua anaknya duduk, melihat ekspresi wajahnya yang serius seperti memendam sesuatu.
"Bunda dari kapan di sini?" tanya Rafael. Bundanya itu memang tahu sandi unit apartemen nya.
"Barusan sih, terus Bunda juga sempat bersih-bersih sebentar."
"Kenapa gak ngabarin kalau mau kesini? Biasanya juga suka ngabarin."
"Memangnya kenapa? Biar kalian siap-siap dulu gitu?"
Rafael dan Reva saling bertatapan dengan ekspresi bingung, maksudnya apa?
"Kok kamar tamunya diisi, jangan bilang kalian tidur terpisah?" tanya Bunda.
"Em itu--"
"Melihat barang-barang Reva yang rapih dan komplit di sana, Bunda yakin kalian memang tidak tidur sekamar kan?"
"Kita tidur se kamar kok, lagian sebagian barang Reva di sana karena gak muat kalau di satu kamarkan."
Tatapan Bundanya memicing, "Kalian jangan bohong sama Bunda, Bunda bisa baca lewat tatapan kamu," desisnya.
Rafael dan Reva dilanda rasa gundah karena Bundanya mengetahui rahasia ini, padahal selama ini selalu menjaganya dengan baik. Pasti Bundanya kesal dan marah mengetahui ini.
"Apa kalian ada masalah?"
"Tidak kok," bantah mereka bersamaan.
"Terus kenapa tidak tidur se kamar? Kalian kan suami istri."
Rafael menghela nafasnya, "Tapi kami memang sepakat untuk tidur berpisah, walaupun begitu hubungan aku dengan Reva baik-baik saja kok."
"Berikan Bunda alasan yang kuat."
"Karena kami memang belum sedekat itu Bunda," ungkap Reva.
"Belum sedekat itu bagaimana? Kalian itu sudah bersama lama loh."
"Bunda tahu sendiri aku dan Reva dijodohkan, jadi merasa belum bisa menerima fakta ini saja di usia kami yang masih tergolong muda. Selain itu, aku dan Reva khawatir di luar batas. Memang sah-sah saja, tapi takutnya tiba-tiba Reva hamil dan malah menghalangi karir kami."
"Astaga kalian itu," desah Bundanya sambil memijat pelipis, "Jadi saat di depan kami kalian selalu pura-pura?"
"I-iya."
__ADS_1
"Benar-benar ya, kenapa bohongi kami?"
"Tapi Bunda, aku dan Reva tetap baik-baik saja kok. Kami hanya masih butuh waktu untuk menerima status ini."
"Kekanakan sekali pikiran kalian itu, apalagi kamu Rafael. Kalian itu suami-istri, tapi kok malah lebih terlihat seperti teman."
"Gak papa dong Bunda, kan bagus juga."
"Terserah kamu lah, tapi Bunda gak setuju."
"Kenapa?"
"Karena kalian bisa saja hidup mandiri-mandiri, padahal seharusnya kalian bisa lebih mengenal. Lagian sebentar lagi juga lulus, tidak perlu terlalu memikirkan itu."
Bundanya lalu beranjak dan pergi ke dapur untuk minum, emosinya sampai naik turun mendengar fakta antara hubungan anak-anaknya itu yang ternyata tidak se harmonis itu. Di depan saja saat bersamanya dan suaminya, mereka dapat berakting dengan baik.
"Bunda jangan marah," bujuk Rafael menghampiri.
"Tentu saja Bunda marah, apalagi pada kamu yang seharusnya lebih dewasa di sini."
"Tapi bukannya kesepakatan antara aku dan Reva juga tidak aneh-aneh, kan? Kami juga memikirkannya dengan baik."
"Tapi Bunda jnginnya hubungan kalian itu terlihat baik bukan di depan saja, tapi saat berdua pun. Jangan-jangan sebenarnya kalian tidak akur ya?"
"Biasa saja," bohongnya.
"Terus mau sampai kapan kalian sembunyikan rahasia ini?"
"Sepertinya sampai lulus sekolah saja, setelah itu kami akan mengakui hubungan kita kalau sudah menikah."
"Oke, janji ya."
"Hm."
"Tapi setelah lulus, Bunda juga pengen kalian gak menunda kehamilan. Bunda itu sudah tidak sabar pengen punya cucu."
"Mulai deh, pikiran Bunda itu," dengus Rafael.
"Huh biarin, kan gak salah juga."
Ternyata Bundanya juga membawa makan malam dari rumah, Reva yang sudah mandi ikut menyiapkannya. Rafael sendiri sedang mandi, baru selesai mengerjakan tugas katanya.
"Reva, memangnya kamu benar setuju juga untuk menutupi hubungan kalian?" tanya Bundanya.
__ADS_1
"Iya kok Bunda, karena kalau di sekolah ada yang tahu, takutnya membuat skandal besar sampai yang lain merasa tidak adil lalu kami bisa-bisa di keluarkan."
"Gak akan dong, kan Kakek kamu kepala sekolahnya."
"Itu belum tentu, karena sepertinya akan lebih banyak yang tidak setuju."
"Tapi kamu tidak tersinggung kalau di sekolah Rafael bersikap acuh dan tidak peduli?"
Reva sempat melirik ke arah lorong, berharap Rafael tidak mendengar, "Sebenarnya agak sedih pas kita di sana kaya orang asing dan gak akur, tapi ya cuma itu biar orang gak percaya."
"Hm begitu ya."
"Tapi Bunda tenang saja, aku dan Rafael gak sampai bermusuhan kok."
"Iya jangan dong, Bunda pengen kalian selalu akur dan harmonis. Memang kalian ini masih muda, tapi cobalah bersikap lebih dewasa karena sekarang sudah menikah. Jangan terlalu meninggikan ego ya."
Reva hanya tersenyum canggung tidak yakin dengan kalimat terakhir. Kalau Rafael sih menurut Reva tidak terlalu gengsian, tapi berbeda sekali dengan dirinya yang punya ego tinggi. Reva lebih suka memendam di dalam hati.
"Tapi kalian cuma pisah kamar aja, kan?"
"Iya, memangnya apa lagi?"
"Bunda takut aja kalau di luar kalian punya pacar, itukan sudah tidak masuk akal. Memang sih yang orang tidak tahu kalian sudah menikah, jadi menganggap masih jomblo. Tapi awas saja ya kalau ternyata kalian ada pacar, itu namanya selingkuh. "
"Enggak kok Bunda," bantah Reva.
Tetapi Reva tidak bisa memastikan dengan isi kepala Rafael, pria itu kan cukup dekat dengan Dinda. Ada kemungkinan juga jika mereka bisa sampai ke tahap pacaran, membuat Reva khawatir saja.
Selesai makan malam, Bundanya akan langsung pulang. Sempat mereka tawarkan untuk menginap, tapi beralasan besok akan pergi ke pernikahan seseorang jadi harus berangkat pagi-pagi.
"Untung aja Bunda gak marah besar," ucap Reva, "Tapi kayanya dia sedikit kecewa."
"Ya mau bagaimana lagi, kalau tidur bareng juga kan pasti gak akan nyaman."
Reva menoleh menatap Rafael, "Lo gak nyaman tidur bareng gue? Apa tidur gue gak bisa diem?"
"Bukan gitu, tapi kita pasti canggung banget kalau tidur seranjang. Tapi aku sih sebenarnya tidak terlalu masalah, malahan makin anget. Jadi Reva mau tidur di kamar aku?" goda Rafael sambil menaik turunkan alisnya.
Reva mendengus, "Mimpi aja lo!"
Rafael terkekeh kecil melihat istrinya itu yang masuk ke kamarnya sambil membanting pintu, sepertinya Reva mulai muak Ia goda terus. Rafael juga merasa aneh pada dirinya sendiri, kenapa jadi berani begini ya? Tetapi Ia merasa cukup senang juga, apalagi menggoda Reva.
"Nanti kalau Reva kedinginan, pindah aja ya ke kamar aku. Di sana ada selimut bernyawa yang bisa ngasih kehangatan dua puluh empat jam," teriak Rafael dari luar kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan Reva di dalam hanya memutar bola matanya malas. Ia memakai earphones nya dengan menyetel musik pop lumayan keras, mencoba tidak mendengarkan guraun-gurauan garing suaminya itu.