
"Bagaimana semua saksi, sah?" tanya si penghulu.
Dan semua keluarga yang hadir di sana pun langsung menjawab 'Sah' dengan suara lantang secara bersamaan. Saat si penghulu mengucap hamdalah dan membacakan do'a, semua pun ikut khusu mendoakan pasangan baru itu. Terlihat senyuman di bibir semuanya, merasakan ikut bahagianya.
"Selamat kepada Pak Harry dan Bu Intan, sekarang kalian resmi menjadi pasangan suami istri," ujar si penghulu setelah menjabat tangan pasangan itu.
"Iya Pak, terima kasih juga sudah menyempatkan waktu di sini," balas salah satu keluarga mewakilkan.
"Sudah menjadi tugas saya."
Reva pun bergeser mendekati Papanya, memeluknya dari samping. Air matanya yang sudah ditahan dari tadi pun akhirnya menetes juga. Reva menangis tanpa suara, rasanya sangat memalukan. Harry pun membalas pelukannya dan sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Papa," panggil Reva pelan.
"Iya sayang, Papa gak akan ke mana-mana. Kamu akan selalu menjadi putri Papa, kasih sayang Papa ke kamu akan tetap sama," sahut Harry yang sudah tahu ke khawatiran Reva.
Reva pun mengangkat kepalanya, "Selamat ya Papa, semoga Papa dan Tante Intan bahagia."
Intan lalu melengokan kepalanya, "Kenapa manggilnya masih Tante?" tanyanya sedih.
"Ah iya, maksudnya Mama," ucap Reva meluruskan. Masih sedikit agak canggung, tapi Reva harus terbiasa.
Intan lalu ikut mendekati Reva dan kini berganti mereka lah yang berpelukan. Kembali Reva menangis, sangat berharap banyak pada wanita ini untuk menemani Papanya dan membuat Papanya bahagia. Reva yakin Intan dapat menjadi sosok seperti almarhum Mamanya.
"Terima kasih ya Reva sudah menerima Mama," ucap Intan sambil meregangkan pelukan.
"Tidak perlu berterima kasih, karena yang memilih Mama itu Papa. Aku yakin pilihan Papa yang terbaik, yaitu Mama. Semoga kalian bisa menjadi pasangan yang bahagia ya." Reva mengucapkannya dengan sepenuh hati.
Intan mengusap wajah cantik itu, "Iya sayang."
Para keluarga pun ikut menyalami pasangan pengantin baru itu sambil mengucapkan selamat. Acara di adakan di rumah Harry, hanya ruang utama saja yang dihias. Tamu pun hanya keluarga besar, tanpa ada yang lain karena seperti rencana awal.
Selanjutnya acara makan-makan, semuanya langsung bersemangat karena merasa lapar juga. Mengantri dengan yang lain. Untuk makanan sengaja katering, jadi sudah paket komplit. Setelah mendapatkan makanan langsung duduk di kursi yang disediakan.
"Kenapa sayang, kok gak dimakan?" tanya Rafael yang baru menyadari jika Reva dari tadi hanya diam.
__ADS_1
Reva terlihat menghela nafasnya berat, "Keputusan aku benar, kan?" tanyanya balik.
"Maksudnya?"
"Aku takut buat Mama sakit hati karena sudah izinin Papa menikah lagi." Reva baru memikirkan ini, perasaannya campur aduk sekali semalam.
Rafael lalu merangkul bahunya, "Kenapa kamu baru gundah sekarang hm?"
"Aku juga gak tahu," geleng Reva.
"Kalau menurut aku keputusan kamu gak egois kok. Kamu memikirkan perasaan Papa kamu, sekarang dia satu-satunya orang tua kandung yang kamu punya. Kamu sudah memutuskan yang terbaik karena memikirkan perasaan dan kebahagiaan Papa kamu," jelas Rafael berpikir dewasa.
Tanpa bisa ditahan bibir Reva pun melengkungkan senyuman, "Kamu benar," gumamnya.
Mungkin memang ada perasaan kasihan pada Mamanya, tapi Mamanya juga tidak dikhianati, kan? Lagi pula Mamanya sudah tidak ada. Benar kata Rafael, sekarang hanya Harry yang Reva miliki jadi kebahagiaan pria itu yang utama.
"Sebentar ya aku mau ke toilet dulu," izin Rafael. Tiba-tiba perutnya sakit, segera Ia pun mencari kamar mandi terdekat.
Kebetulan tempat duduk Reva ada di pojokan, perempuan itu memperhatikan sekitar. Banyak keluarganya yang hadir, entah itu yang dari kota jauh atau dekat. Mereka pasti akan datang ke acara penting ini. Tadi juga Reva sudah bertegur sapa dengan mereka.
Drrtt!
"Siapa nih?" tanya Reva bingung.
Yolanda itu nama perempuan, kan? Kenapa juga menanyakan kapan Rafael pulang? Melihat suaminya yang sudah kembali, segera Reva pun menyimpan lagi ponsel itu. Ia berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Memperhatikan Rafael lewat sudut matanya yang membuka ponselnya, pasti sedang melihat pesan itu.
"Dasar," gumam Rafael sambil terkekeh kecil.
Reva yang tahu pria itu tertawa karena pasti sedang membalas pesan dengan si Yolanda itu merasa panas. Rafael yang terlalu asik pada ponselnya pun sampai tidak sadar diperhatikan oleh Reva dari tadi. Reva bisa membaca ekspresi Rafael yang terlihat bahagia, sesekali tertawa juga.
"Dari siapa sih?" tanya Reva agak ketus. Lama-lama memendam tidak enak juga.
Rafael baru menoleh, "Hah?"
"Asik banget kayanya, lagi SMS an sama siapa?"
__ADS_1
"Temen Kampus," jawab Rafael.
"Masa?" Apakah Rafael akan berbohong?
"Iya, emang kenapa?"
"Kirain lagi SMS an sama cewek, asik banget kayanya sampai aku diacuhin!"
Rafael mengulum senyumnya melihat istrinya yang sepertinya cemburu, pria itu pun membawa tangan Reva, tapi perempuan itu langsung menyentak nya hingga terlepas. Rafael jadi agak bingung sendiri kalau Reva sudah ngambek seperti ini.
"Maaf sayang, kita lagi ngobrolin tentang tugas yang belum sempat dikerjain karena aku pulang ke Indonesia," ungkap Rafael mencoba menjelaskan.
"Cih masa ngobrolin tugas sampai ketawa-ketawa gitu? Jangan bohong deh!" dengus Reva. Memangnya Ia mudah dibohongi?
"Emangnya gak boleh?"
Reva langsung menoleh dan menatap pria itu memicing, "Boleh kok, tapi kaya agak mengganjal aja karena gak mungkin sampai segitunya."
"Terus aku harus gimana?" tanya Rafael. Apakah ekspresinya tadi berlebihan?
"Sini HP nya, aku pengen lihat langsung aja," desak Reva sambil mengulurkan tangannya.
Rafael tersentak mendengar itu, entah kenapa Ia jadi gugup sendiri dan tanpa sadar memasukan benda pipih itu ke saku jasnya. Ekspresi Reva pun semakin garang melihat dirinya yang seperti menghindar.
"Nah kan kamu gak mau aku lihat, berarti kayanya emang ada yang mengganjal. Kamu bohong ya sama aku?" tuduh Reva.
"Bu-bukan gitu tapi--"
"Kamu juga ganti password, kenapa? Takut aku lihat isi chat kamu?" Reva semakin terbakar cemburu, perasaannya pun semakin curiga.
Rafael menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa bingung sendiri, ingin sekali membantah tuduhan itu tapi tidak tahu kata yang tepat yang harus diucapkan. Rafael terkejut melihat Reva yang beranjak dan akan pergi, segera Ia pun menahannya.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Rafael.
Reva berusaha melepaskan tangannya, "Jangan panggil aku sayang!" ketusnya.
__ADS_1
"Reva biar aku jelasin dulu, kamu kenapa marah-marah begini sih?"
Mendengar suaminya itu yang tidak peka dan seperti menyembunyikan membuat Reva semakin kesal. Ia pun menggigit tangan Rafael sampai pria itu berteriak kesakitan dan akhirnya melepaskannya. Segera Reva pun berlari pergi dari sana.