
Di ruang makan terlihat sudah ada Papa dan Omanya yang sudah sarapan lebih dahulu, Reva pun bergabung dan duduk di salah satu kursi. Ia membawa sepotong roti dan mengoleskan nya dengan selain coklat kesukaan nya, tapi saat akan memakannya langsung terhenti menyadari dari tadi di perhatikan.
"Kenapa?" tanya Reva pada dua orang itu.
"Reva, apa benar ada Rafael di kamar kamu?" tanya Omanya yang dari tadi sudah penasaran. Putranya memberitahu, tentu saja Ia pun terkejut.
"Iya ada, tapi dia tidur lagi katanya ngantuk," jawab Reva.
"Oh ya sudah biarkan saja, kayanya Rafael emang kelelahan," ucap Omanya pengertian.
"Katanya dia sampai jam tiga dini hari, gak tahu gimana bisa masuk ke rumah."
"Mungkin sama Pak Agung lewat belakang, soalnya Pak Agung selalu jaga gerbang," sahut Omanya.
Perhatian Reva lalu teralih pada Papanya, "Papa mau pulang sekarang?" tanyanya.
"Iya, Papa gak bisa cuti terlalu lama karena banyak pekerjaan di sana."
"Ya sudah, aku ikut."
"Kamu nanti saja sama Rafael pulangnya."
"Tapi--"
"Jangan dulu pulang, kasihan loh suami kamu sudah nyusulin jauh-jauh kesini, masa langsung pulang lagi," tegur Omanya.
"Iya benar Reva, kalian bisa nikmati waktu libur di sini," sahut Papanya setuju.
Reva membatin, tapi kan hubungannya dengan Rafael sedang tidak baik. Tadi sih mereka sempat mengobrol biasa, tapi itu pun hanya sebentar karena saling terkejut baru bertemu lagi. Entahlah bagaimana nanti saat Rafael itu nyawanya sudah terkumpul, apa akan bersikap dingin atau biasa.
"Tapi Papa akan pulang kalau Rafael sudah bangun," ucap Papanya.
"Kenapa nungguin dia? Papa pulang aja." Reva hanya khawatir akan satu hal, yaitu Papanya yang mengetahui jika ternyata Ia diam-diam pergi tanpa sepengetahuan Rafael, kan bisa gawat.
"Gak papa sih, pengen ngobrol-ngobrol aja. Memangnya kenapa?"
"E-enggak papa," bantah Reva lalu menekan bibirnya terdiam.
__ADS_1
Selesai sarapan Reva menemani Omanya di halaman belakang, sekalian membantu mbok memanen beberapa sayuran yang sudah matang. Omanya jarang sekali belanja sayuran karena punya banyak di belakang, Reva juga jadi ingin menanam hanya malas merawatnya saja.
Di lain tempat terlihat Rafael yang keluar kamar, penampilannya sudah terlihat lebih segar karena sudah mandi. Saat menuruni tangga perhatiannya langsung tertuju pada Papa mertuanya di ruang tamu, sedang ber teleponan. Rafael pun memutuskan menghampirinya.
"Papa," panggil Rafael sambil tersenyum lebar, Ia pun menyalami tangan pria paruh baya itu.
"Rafael, Papa kaget pas lihat kamu pagi-pagi ada di kamar Reva. Malahan Reva aja sampai kaget, kamu memang sengaja datang kesini gak ngabarin dia dulu?" tanya Papanya.
"Iya memang gak ngabarin, tapi dia juga gak ngasih tahu aku kalau dia dari kemarin pergi ke Surabaya." Rafael memutuskan menceritakannya agar tidak ada kesalahpahaman lagi.
"Maksudnya?"
"Jadi dari kemarin itu aku sempat kelimpungan mencari Reva, aku hampir frustasi karena gak nemuin dia dimana pun. Lalu waktu itu aku juga sempat tanya ke Papa, tapi Papa marah karena aku gak bisa jagain dia dan minta aku nemuin Reva dalam waktu cepat. "
Kernyitan terlihat semakin dalam di kening pria paruh baya itu, "Kapan? Kok Papa kaya gak ngerasa deh," ucapnya.
"Hah? Kemarin siang, sebentar biar aku tunjukin." Rafael masih berpikir positif, mungkin mertuanya itu lupa. Ia pun menunjukan percakapan terakhirnya dengan Papa mertuanya itu.
Papanya membacanya dengan baik, "Tapi Papa kaya gak ngerasa nulis ini, di Papa kok gak ada ya riwayatnya?" Ia mengecek percakapannya dengan menantunya itu di ponsel miliknya, tapi anehnya tidak ada.
Kedua pria itu saling bertatapan, lalu tidak lama langsung terpikirkan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Reva, keduanya lalu menghela nafas berat. Padahal mereka tidak menyebutkan nama, tapi bisa langsung menebak dan saling tahu hanya lewat tatapan saja.
"Apa kalian sedang ada masalah?" tanya Papanya.
Dengan berat hati Rafael mengangguk, "Hm kami memang ada sedikit cekcok, mungkin Reva ngambek sampai pergi dan gak bilang ke aku," ucapnya.
"Apa yang terjadi? Apa Papa boleh tahu?"
"Tidak apa-apa, kami akan menyelesaikannya bersama-sama. Bukan masalah besar, hanya kesalahpahaman saja."
Papanya lalu menepuk bahunya, "Baiklah kalau tidak mau berbagi, lagi pula kalian juga sudah dewasa dan harus menyelesaikannya bersama-sama. Nanti bicarakan dengan baik-baik ya, semoga hubungan kalian kembali akur."
"Iya Pah."
"Dan maaf juga ya Rafael kalau Reva sempat merepotkan dan membuat kamu frustasi karena bersikap kekanakan begitu."
"Tidak apa Pah, aku mengerti kok kenapa dia begitu." Setelah Rafael pikirkan, perkataannya malam itu memang cukup menyebalkan dan Ia janji tidak akan mengatakannya lagi.
__ADS_1
"Papa akan berangkat sebentar lagi, kamu dan Reva di sini saja dulu. Lagian kalian juga sudah bebas, kan?"
"Iya Pah, ujiannya sudah selesai, tinggal perbaikan nilai saja."
"Itu bisa nyusul, tidak perlu buru-buru juga."
"Mungkin besok kami baru akan pulang, aku juga masih agak capek di perjalanan."
"Iya."
Rafael lalu diberitahu jika Reva ada di halaman belakang bersama Oma sedang memanen sayuran, Rafael pun langsung pergi ke sana untuk melihatnya. Ternyata benar Reva sedang memanen sayuran di kejauhan, ditemani mbok. Rafael lalu melihat Oma yang duduk di bawah pohon rindang, Ia pun memutuskan menghampiri lebih dulu.
"Oma, gimana kabar Oma?" tanya Rafael ramah setelah menyalami tangannya.
"Baik Rafael, Oma sudah sehatan. Kalau kamu bagaimana?"
"Saya juga sehat," jawab Rafael.
Oma mengusap kepalanya, "Kamu makin ganteng aja ya."
"Hehe Oma bisa aja, tapi makasih."
Rafael menurut saat Oma meminta duduk di kursi sebelahnya, mereka terdiam beberapa saat sambil memperhatikan Reva yang berada lumayan jauh di depannya.
"Kamu jauh-jauh nyudulin dia kesini, Oma salut sama kamu," ucapnya kembali membuka suara.
"Iya Oma, soalnya aku khawatir sama dia."
"Oma tahu kalian sedang ada masalah, dan Reva gak ngasih tahu kamu kan kalau dia pergi ke Surabaya?"
Rafael langsung menoleh terkejut karena Omanya bisa tahu, "Oma kok tahu?" tanyanya.
"Tahu, karena Reva yang cerita sendiri."
Rafael mengangguk pelan mengerti, mungkin Reva cerita pada Omanya karena paling nyaman dan bisa membantunya. Apakah Reva juga cerita inti permasalahan di antara mereka? Tiba-tiba Rafael jadi cemas, khawatir saja pandangan Omanya menjadi berbeda kepadanya.
"Oma memang tidak tahu masalah apa yang sedang kalian hadapi sampai marah-marahan begini, tapi Oma harap kalian bisa menyelesaikannya dengan baik dan kepala dingin. Kalian harus bisa mengontrol emosi, jangan sampai menyesal nanti," nasihat Omanya yang di dengar dengan baik oleh Rafael.
__ADS_1