Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Selalu Bersama


__ADS_3

"Mumpung kalian ada di sini, Papa mau bilang sesuatu." Dari suaranya, Harry terlihat serius.


"Ada apa Pah?" tanya Reva.


"Kamu sudah tahukan hubungan Papa dengan Intan, kami juga sudah sama-sama matang dan siap untuk lanjut ke hubungan serius."


Mendengar itu membuat kedua mata Reva berbinar, "Papa mau menikah dengan Tante Intan?" pekiknya.


"Iya, kami juga sudah memutuskan pernikahannya akan di laksanakan lima hari lagi. Bukan pernikahan meriah, hanya keluarga saja yang hadir," lanjut Harry.


"Kami ikut senang Pah mendengarnya, semoga acaranya lancar, " ujar Rafael mendoakan.


"Amiin, terima kasih."


Reva lalu beranjak dari duduknya dan memeluk Papanya itu dari belakang, "Aku gak tahu sedih atau senang karena Papa akan menikah lagi, tapi aku harap semoga Papa setelah ini bisa hidup lebih baik ya?"


Harry mengusap tangan Reva di lehernya, "Iya sayang, terima kasih juga sudah memberikan Papa izin. Kamu tenang saja, kamu akan selalu menjadi putri kesayangan Papa. Kasih sayang Papa tidak akan berubah, Papa janji."


"Iya aku percaya, tapi Papa juga jangan terlalu memikirkan bagaiamana cara membahagiakan aku dengan pasangan Papa nanti. Pikirkan juga kebahagiaan Papa ya?"


"Iya sayang."


Sebenarnya Reva masih ada sedikit rasa cemburu Papanya akan menikah lagi, tapi kan Mamanya juga sudah tidak ada, jadi Papanya berhak mendapatkan kebahagiaan lain. Setelah Reva pergi, pasti Papanya itu selalu kesepian. Papanya butuh pendamping lain, jadi Reva mencoba mengikhlaskan.


"Kami akan bantu mempersiapkan acaranya Pah," ucap Rafael. Mumpung Ia ada di Indonesia, jadi harus ikut mempersiapkan acara.


"Iya Rafael, makasih ya."


"Tidak papa Pah, sudah jadi kewajiban kami sebagai anak. Papa tenang saja."


Sebenarnya Rafael sedikit terkejut mendengar mertuanya itu akan menikah lagi, Ia bahkan tidak tahu cerita apapun mengenai Papanya itu. Mungkin nanti bisa Ia tanyakan pada Reva, Rafael sebagai anak juga harus ikut mendukung, seperti Reva yang terlihat berbesar hati.


"Besok malam Intan akan ke rumah, kalian kesini ya," pinta Harry.


"Oke, Rafael juga harus kenalan sama Tante Intan," angguk Reva.


Harry beralih menatap menantunya itu, "Oh iya, Rafael belum sempat kenalan sama Intan ya?"


"Belum, kan dia di Amerika."

__ADS_1


Di pukul delapan malamnya, pasangan suami istri itu memutuskan pulang. Harry sempat menawarkan lagi untuk menginap, tapi lagi-lagi Rafael menolak. Reva sih hanya menurut saja, toh sebagai istri kan hanya bisa patuh.


"Kamu harus tahu cerita gimana aku ketemu sama calon istri Papa itu," ucap Reva mulai bercerita.


"Oh ya? Gimana tuh? " tanya Rafael penasaran, Ia mencoba tetap fokus menyetir.


Reva pun menjelaskan awal bagaimana Ia bertemu Intan, yakni wanita itu yang menolongnya mencari Celine yang sempat akan diculik. Beberapa hari kemudian Papanya mengajak akan mempertemukannya dengan pacarnya, dah tanpa diduga pacarnya itu ternyata Tante Intan.


"Wah bisa kebetulan begitu ya," gumam Rafael, dibuat tersenyum-senyum sendiri mendengar ceritanya.


"Haha iya itu lucunya. Papa ngira awal pertemuan kita bakalan canggung, tapi karena sudah saling kenal ya jadi ngobrol santai," sahur Reva.


"Berarti kamu langsung setuju dong sama hubungan mereka?" tanya Rafael. Ia mulai bisa menebak sesuatu dari cara pandang istrinya ini.


"Iya, aku ngerasa yakin sama Tante Intan. Apalagi pas dia nolongin itu benar-benar tulus, kelihatan khawatir juga. Padahal waktu itu kita gak saling kenal."


Rafael menganggukan kepalanya, dugaannya benar, "Ya semoga aja, aku juga setelah denger cerita kamu jadi yakin."


"Hm."


"Terus berapa usia calon Mama kamu itu?" tanya Rafael.


"Dia tiga puluh tahunan. Ada cerita sedih dari Tante Intan, sebenarnya sekitar setahun lalu dia baru aja kehilangan suami sama calon anaknya. Mereka kecelakaan, dan yang selamat cuman Tante Intan," ungkap Reva.


"Tapi Papa selalu temenin dan ada di samping Tante Intan, mungkin dari sana juga Tante Intan bisa buka hati untuk Papa," lanjut Reva.


"Papa kamu memang keliatan bakal sayang sama orang yang dicintainya sih. "


Di tengah obrolan mereka, deringan ponsel Reva mengalihkan. Itu dari nomor asing, tapi Reva tetap mengangkatnya karena khawatir penting.


"Hallo ini dengan siapa?" tanyanya pada seseorang di sebrang sana.


["Maaf apa ini dengan Reva? Saya bibinya Vanessa."]


"Oh iya benar saya Reva, ada apa ya?"


["Saya hanya mau memberitahu kalau Vanessa sekarang dirawat di rumah sakit."]


Kedua mata Reva langsung terbelak mendengar itu, "Vanessa kenapa memangnya?"

__ADS_1


["Em ada sedikit kejadian, dia sekarang dalam keadaan kritis. Sebelum Vanessa pingsan, dia terus memanggil nama nak Reva."]


"Sekarang Vanessa dirawat dimana? Saya mau kesana."


Setelah wanita di sebrang sana memberitahu alamat rumah sakitnya, Reva pun langsung mematikan panggilan. Ia lalu menoleh menatap Rafael yang tetap fokus menyetir, tapi yakin jika suaminya itu dari tadi mendengarkan.


"Ada apa? Kenapa panik begitu? " tanya Rafael ikut cemas sendiri.


"Kita ke rumah sakit ya, Vanessa kritis katanya," ucap Reva.


"Vanessa itu siapa?"


"Dia teman kuliah ku, kami sangat dekat."


Rafael mengangguk, "Oke, tapi memang teman kamu itu kenapa?"


"Aku juga tidak tahu, semoga dia baik-baik saja."


Dari awal libur semester, Reva dan Vanessa memang belum sempat bertemu lagi. Mereka sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Tetapi Reva terkejut karena kabar pertama yang Ia dengar dari temannya itu adalah kabar buruk begini.


Sesampainya di rumah sakit, Reva langsung menarik Rafael menuju kamar rawat Vanessa. Melihat seorang wanita dewasa duduk di bangku depannya, membuat Reva pun menghampirinya. Wanita itu pun membalas tatapan nya sambil berdiri.


"Maaf, apa anda bibinya Vanessa?" tanya Reva menunjuk.


"Iya betul, kenalkan nama saya Citra. Apa kamu nak Reva?" tanyanya balik.


"Iya saya Reva, dan ini suami saya." Reva tentu tidak lupa mengenalkan Rafael.


"Oh iya, maaf ya kalau mengganggu waktu kalian," ucap Citra dengan raut wajahnya tidak enaknya.


"Tidak kok, kebetulan kami juga sedang di perjalanan pulang, jadi sekalian saja kesini," bantah Rafael baik-baik.


"Em jadi bagaimana kabar Vanessa?" tanya Reva yang sudah tidak bisa menahan penasarannya.


Tatapan wanita itu menyendu, "Luka di kepalanya cukup parah, sampai membuat dia tidak sadarkan diri. Bibi tidak tahu kapan dia akan sadar, tapi semoga dia baik-baik saja."


Mendengar kabar jika temannya itu buruk, membuat dada Reva sesak sendiri. Rasanya sedih mengetahui Vanessa terbaring lemah tidak berdaya begitu, tapi Reva tahu jika Citra lebih sedih. Reva pun menepuk-nepuk punggung wanita itu berusaha menenangkannya.


"Memangnya Vanessa kenapa bisa sampai tidak sadarkan diri begitu?" tanya Reva.

__ADS_1


"Sebenarnya.. Vanessa sepertinya mendapat kekerasan dari Nona Ivana," jawab Citra pelan.


"Apa?!" pekik Reva terkejut.


__ADS_2