
Beberapa hari berlalu, kini Rafael sudah terbiasa melihat kebersamaan Reva dan Lucas. Malahan Lucas pun selalu mengantar jemput Reva, Rafael hanya bisa menatapnya dari jauh dengan perasaan sedih. Ia tidak berdaya, toh waktu itu berkata sudah mengikhlaskan.
"Hai Rafael," sapa Dinda menghampirinya, dengan santainya perempuan itu duduk di sebelahnya.
"Ada apa?" tanya Rafael.
"Gak ada sih, cuman pengen bicara aja sama kamu," geleng Dinda sambil tersenyum.
"Bicara apa memangnya?"
Dinda terlihat menghela nafasnya, "Aku ngerasa kamu berubah," ungkapnya mengeluarkan uneg-uneg.
"Berubah bagaimana?" tanya Rafael bingung.
"Tuh lihat, cara bicara kamu aja kaya dingin gitu ke aku. Selain itu aku juga ngerasa akhir-akhir ini kamu selalu menghindari aku. Kamu kenapa Rafael?" Dinda terlihat sedih saat mengatakan itu, jari tangannya pun saling bertaut merasa cemas.
"Maaf kalau semisal aku begitu, tapi sepertinya aku harus menghindari kamu," ucap Rafael jujur.
"Ke-kenapa? Apa aku ada salah?" tanya Dinda panik. Mendengar Rafael yang ingin menjauhinya, ada perasaan tidak terima yang Dinda rasakan.
Rafael menghela nafasnya berat, Ia memilih menutup buku pelajarannya dan fokus pada Dinda. Sepertinya harus Ia perjelas semuanya agar tidak salah paham lagi. Rafael juga tidak mau hubungannya dengan Dinda jadi buruk dengan saling salah paham.
"Dinda, aku ingin dengar penjelasan dari kamu," ucap Rafael mulai serius.
"Penjelasan apa?"
"Apa benar kamu deketin aku cuman manfaatin aku?"
"Itu--"
"Sebenarnya aku gak masalah selalu ngerjain tugas kamu, aku juga gak butuh imbalan. Saat itu aku sedang menyukai kamu, jadi bersama kamu saja sudah senang. Tetapi aku sedikit sakit hati, karena di belakang kamu selalu menjelekan aku. Aku merasa perjuangan selama ini sia-sia dan tidak dihargai." Setelah mengatakan itu, jujur saja Rafael merasa lega.
Dinda terlihat terperangah dengan kedua mata terbelaknya, "Maaf Rafael, maaf kalau aku menyakiti perasaan kamu."
"Jadi benar?"
__ADS_1
"Itu dulu, tapi sekarang tidak."
"Maksudnya?" tanya Rafael merasa belum jelas.
Dinda kembali mengangkat kepalanya, "Jujur aku dulu emang sengaja deketin kamu cuman karena itu, tapi sekarang aku sadar kalau sepertinya aku juga sudah menyukai kamu."
"Jangan berbohong lagi Dinda," dengus Rafael. Apakah perempuan itu sedang berusaha membujuknya agar kembali luluh?
"Aku tidak bohong," bantah Dinda, lalu perempuan itu membawa tangannya, "Aku terjebak dalam permainan sendiri, aku sadar aku juga selalu nyaman saat bersama kamu."
Untuk beberapa saat Rafael terdiam karena merada tidak menyangka saja mendengar itu. Tetapi kepalanya menggeleng pelan berusaha mengenyahkan, tidak, jangan sampai Rafael luluh lagi. Rafael lalu melepaskan tangannya dari perempuan itu, Ia harus mengokohkan hatinya.
"Sudah terlambat Dinda," ucap Rafael pelan.
"Terlambat bagaimana? Tidak Rafael, aku yakin kamu juga masih menyukai aku, kan?" Dinda mungkin sekarang terlihat percaya diri sekali, tapi perempuan itu hanya sedang mengenyahkan dugaan buruknya saja.
"Memang masih ada, tapi tidak sebesar dulu karena aku sudah terlalu kecewa."
"Tidak mungkin," gumam Dinda lirih, terlihat kedua matanya berkaca-kaca seperti akan menangis. Merasa menyesal saja karena terlambat menyadari perasaannya sendiri, selama ini selalu bermain-main pada Rafael. Dinda baru sadar pria itu lah yang paling mengerti bagaimana dirinya.
"Apa?"
"Sepertinya aku tidak benar-benar menyukai kamu Dinda, ada perempuan lain yang lebih aku sukai dan berharga untuk aku."
"Rafael, kamu tidak serius, kan?" tanya Dinda sambil tertawa canggung, berusah terlihat baik-baik saja.
"Aku serius, aku tidak bisa jujur pada dia. Hubungan di antara kami memang cukup rumit, jadi aku melampiaskan dengan mencari perempuan lain untuk mengisi kekosongan. Mungkin aku juga ingin sekalian membuat dia cemburu, mengatakan juga kalau aku baik-baik saja tanpa dia."
Sungguh Dinda bingung sekali dengan perkataan Rafael itu, tapi tidak bisa berbohong juga jika dadanya sakit jika ternyata Rafael tidak benar menyukainya. Apakah ini karma untuknya yang awalnya hanya bermain-main juga?
"Tapi aku tidak mau memiliki hubungan buruk dengan kamu Dinda, apalagi sebentar lagi kita lulus dan pasti tidak akan sulit bertemu lagi," ucap Rafael, "Aku minta maaf kalau menyakiti kamu."
Seharusnya Rafael tidak usah minta maaf, toh Dinda juga salah kepadanya. Tetapi Rafael hanya menunjukan sikap gentlenya sebagai lelaki. Apalagi Rafael cukup tidak enakan, hubungannya dengan Dinda pun dulu baik-baik saja. Masa hanya karena menyelesaikan masalahnya ini, membuat keduanya jadi bermusuhan.
"Aku juga minta maaf Rafael." Dinda berusah menguatkan hatinya saat mengatakan itu, menyadari Ia pun salah.
__ADS_1
"Aku maafkan, jadi kita tetap menjadi teman, kan?"
Dinda mengangguk sambil berusaha tersenyum, Ia pun membalas jabatan tangan itu. Dinda mengagumi Rafael yang dapat berbesar hati masih menerimanya di hidupnya, padahal kesalahan Dinda cukup banyak yang sampai menyinggung harga dirinya. Dinda berjanji pada dirinya sendiri tidak akan seperti itu lagi.
"Jadi siapa perempuan beruntung itu?" tanya Dinda penasaran, apa mungkin se sekolah dengannya?
"Rahasia, tapi dia ada di sini."
"Dugaanku benar, apa seangkatan dengan kita juga?"
"Iya, kau juga mengenali dia."
"Benarkah? Tapi sulit sekali menebaknya." Dinda sampai memperhatikan sekitar yang sedang ramai karena sedang jam istirahat.
"Tapi sayangnya dia sudah punya pacar." Rafael tersenyum miris saat mengatakan itu.
Dinda langsung menatapnya, "Ya ampun, lalu bagaimana?"
"Tidak apa, aku tetap tenang karena dia tetap milikku."
Sungguh Dinda semakin bingung, penjelasan Rafael itu sangat ambigu dan membuatnya pusing sendiri memikirkan. Katanya perempuan yang disukainya punya pacar, tapi kenapa Rafael mengatakan tetap miliknya? Mungkin bukan hanya Dinda juga yang bingung, tapi orang lain pun.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu kalau perempuan yang kamu sukai itu milik kamu?" tanya Dinda.
"Tentu saja karena mereka suami istri," batin Rafael sambil tersenyum.
"Aku merasa yakin juga kalau dia sebenarnya ada perasaan padaku, hanya saja dia selalu memendamnya karena gengsi." Apakah Rafael terlihat terlalu percaya diri saat mengatakan ini?
"Sepertinya sekarang banyak juga yang menyukai kamu Rafael, mereka terlambat menyadari, sama seperti aku," ucap Dinda pahit. Sayang sekali Ia tidak punya kesempatan lagi untuk bisa mendapatkan Rafael.
"Semoga saja, tapi aku juga ingin dengar langsung jawaban dia dari mulutnya."
Rafael lalu tidak sengaja melihat Reva yang sedang berjalan berdua dengan Lucas, membuatnya tersenyum kecut. Rafael sudah sering melihat mereka bersama, tapi kenapa hatinya masih sakit ya? Ingin sekali menarik Reva dan memeluknya terus karena miliknya, tapi Rafael tidak punya keberanian sebesar itu.
"Aku jadi makin penasaran dengan perempuan itu, aku sangat iri pada dia," ucap Dinda.
__ADS_1