
Kenapa Reva bersikap ketus begitu ya? Padahal Rafael hanya ingin memastikan keadaannya saja. Tetapi ternyata Ia terlambat, ada laki-laki lain yang lebih dulu mendatanginya. Salah sendiri Rafael malah lebih mengutamakan Dinda.
"Nanti saja deh bicara lagi dengan dia di apartemen."
Selama jam pelajaran terakhir, Reva sudah tidak ada semangat lagi belajar. Inginnya cepat pulang dan istirahat, tapi Reva malas pulang dan bertemu Rafael. Anggap saja Reva sedang ngambek. Alasannya apa? Ya karena pria itu yang terlihat lebih peduli pada perempuan lain.
"Hei," sapa Lucas menghampiri bangkunya.
"Apa?"
"Pulang bareng yuk," ajaknya.
"Tadi kan udah bilang, gue bawa mobil."
"Iya juga sih, ya sudah tapi tungguin gue beli salep ya buat luka lo?"
"Gak usah lah, nanti aja di apartemen juga ada salep khusus."
"Tapi tadi lo bilang gak papa gue yang beliin."
"Gue pengen langsung pulang, lagian bosen juga kalau nungguin lo beli salep ke apotek."
"Dasar, gak akan sampai setahun juga kali nunggunya," gurau Lucas.
Reva hanya mengedikkan bahunya dan tetap menolak pertolongan pria itu, mereka pun berjalan bersama keluar dari kelas. Teman-teman nya sampai memperhatikan keduanya, mungkin mereka bingung melihat kedekatan mereka, padahal kan selama ini kurang akur.
"Lo tinggal dimana?" tanya Lucas.
"Kenapa emangnya?"
"Gue pengen ke rumah lo kapan-kapan, main gitu."
Tadinya Reva tidak akan menjawab, tapi saat melihat Rafael dan Dinda yang akan melewatinya membuatnya menjawab berbeda. Semoga saja si Rafael itu mendengar, walaupun di Koridor itu sedang banyak orang.
"Lo mau main ke rumah gue? Oh ya boleh lah," ucap Reva dengan suara lantang, matanya pun sempat melirik Rafael.
"Beneran nih? Asik. Jadi dimana?"
"Gue tinggal di apartemen, sendirian. Nanti gue kirimin deh alamatnya kalau lo mau main."
"Okey, nanti kapan-kapan gue ke sana ya. Makasih Reva, tumben."
Reva tersenyum tidak ikhlas, "Gak papa lah, nanti giliran gue juga main ke rumah lo deh."
"Boleh-boleh," ucap Lucas kesenangan.
"Ya udah deh, gue pulang dulu ya pengen istirahat."
__ADS_1
"Oh iya, hati-hati Reva. Nanti kalau udah sampai, lukanya langsung diobatin ya."
"Hm."
Selama mengobrol dengan Lucas pun, Rafael sepertinya mendengarkan semuanya karena pria itu sampai menghentikan langkahnya. Reva sih inginnya pria itu sedikit panas hati, tapi entahlah memang isi kepala suaminya itu sulit sekali ditebak.
Sesampainya di apartemen Reva langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa. Hari ini terasa melelahkan, bagaimana tidak lelah jika tadi di sekolah sudah berkelahi. Memang sih Ia tidak mendapat luka banyak, tapi kan mengeluarkan tenaga cukup banyak.
Ceklek!
Reva membuka matanya mendengar pintu apartemen yang terbuka, melihat jika itu adalah Rafael membuatnya berusaha tidak peduli dan kembali memejamkan mata. Untuk beberapa saat suasana di sana hening, tapi Reva mengernyit merasa seseorang duduk di sebelahnya.
"Mana lukanya, sini aku obatin dulu," ucap Rafael.
"Gak usah, gue bisa sendiri," tolak Reva.
"Aku yang bisa lihat lebih jelas, jadi biar aku aja."
Reva dengan terpaksa membuka matanya, "Kenapa sok perhatian banget?"
"Emang salah ya aku perhatian sama istri sendiri?"
Bukannya senang mendapat jawaban seperti itu, tapi Reva malah jadi kesal sendiri. Kalaupun semisal Rafael itu benar khawatir dan perhatian kepadanya, lalu kenapa malah lebih mengutamakan perempuan lain? Apalagi musuhnya sendiri.
"Kalau gitu mending tadi gue minta bantuan si Lucas aja buat obatin gue," celetuk Reva.
"Gak papa dong, lo juga ngobatin si Dinda," balasnya sinis.
"Reva cemburu ya?"
"Ih apaan sih? Enggak lah," bantah Reva.
Rafael menghela nafasnya, "Tadi Bu guru yang nyuruh aku obatin Dinda lebih dulu karena luka dia paling banyak. Tapi aku balik lagi kok buat jemput kamu, cuma kamu malah ngobrol sama Lucas."
"Halah bohong, tentu aja lo harus ngutamain cewek yang disuka."
"Maaf ya, tapi aku bukan berarti gak khawatir sama Reva."
"Gak perlu minta maaf, lagian kan di sekolah juga kita emang jangan kelihatan dekat dan buat orang curiga," ucap Reva pahit. Walaupun begitu, tetap saja hatinya sakit.
Saat merasakan sentuhan di dekat matanya, membuat Reva langsung menjauhkan wajahnya. Tetapi Rafael tetap kekeh ingin mengobatinya, bahkan sampai menahan tangannya untuk tidak pergi.
"Diem dulu Reva, cuma sebentar kok," ucap Rafael.
Reva hanya berdecak dan memilih mengalihkan pandangan. Ia diam mendapatkan perhatian dari Rafael bukan karena pasrah, tapi malas kalau ribut terus. Saat lukanya di obati pun, cukup membuatnya lebih baik dan tidak terlalu perih.
"Boleh aku tanya bagaimana kejadiannya?" tanya Rafael.
__ADS_1
"Lo juga pasti udah denger ceritanya versi si Dinda, jadi udah lah."
"Tapi aku juga pengen denger dari kamu."
"Ngapain? Nanti gue capek-capek cerita, lo juga gak akan percaya."
"Kenapa Reva ini suka berprasangka buruk ke aku?" tanya Rafael sambil menghela nafasnya berat.
"Emang lo gitu, lo kan selalu lebih belain cewek yang lo taksir itu dari pada gue yang istri lo."
Reva memejamkan matanya merasa nada bicaranya cukup tinggi karena sedang emosional. Reva hanya merasa kesal, dan sekarang sedang di keluarkan di depan orangnya langsung. Apakah itu berarti Reva ingin dimengerti?
"Jadi gitu ya menurut Reva," gumam Rafael.
"Udah lah, lagian udah lewat."
"Ya sudah, tapi aku harap kamu dan Dinda gak ribut gitu lagi ya, miris lihatnya. Kalian itu kan perempuan, apalagi ributnya di lingkungan sekolah."
"Habisnya dia ngeselin, udah tau gue bukan orang yang sabar," ungkap Reva tanpa sadar.
"Ngeselin kenapa emangnya?"
"Dia ledekin gue terus."
"Oh ya? Terus apalagi?"
"Gue denger si Dinda itu deketin lo cuma mau manfaatin doang."
"Maksudnya?"
"Iya, dia sering deketin lo karena cuma mau tugasnya lo kerjain." Reva mendorong pelan bahu Rafael, "Lo juga sih bodoh banget, emang gak ngerasa si Dinda itu cuma mau manfaatin lo?"
"Enggak sih, aku ngerasa kita deket juga cuma sebatas teman. Emangnya ngerjain tugas bareng itu, dia manfaatin aku?"
"Emangnya si Dinda itu suka ngerjain tugas juga? Bukannya dia cuma lihatin, lo yang ngerjain terus dia yang nyontek."
Rafael menelan ludahnya kasar mendengar perkataan yang cukup menohok itu. Kalau dipikir sih yang dikatakan Reva itu ada benarnya juga, tapi Rafael tidak terlalu berpikir buruk dan menganggap biasa saja.
"Tapi terserah lo juga sih, itu kan hak lo," ucap Reva.
"Jadi awal kalian berantem itu gara-gara aku?"
"Hm, gue gak suka aja pas denger si Dinda itu sebenarnya deketin lo cuman mau manfaatin."
"Makasih ya Reva sudah belain, ternyata Reva masih perhatian juga sama aku."
Melihat Rafael yang tersenyum-senyum begitu, membuat Reva jadi salah tingkah sendiri. Kenapa juga Ia harus cerita sih? Kan pasti sekarang si Rafael itu seperti di atas awan.
__ADS_1