
"Beneran udah sembuh? Kalau masih sedikit pusing mending istirahat aja," ucap Reva membujuk Rafael, hanya tidak mau pria itu saat di sekolah langsung mendengar kabar ini.
"Sudah kok Reva, aku sudah sehat."
"Terus gimana kalau semisal lo sakit lagi? Nanti repot."
"Enggak akan, tenang aja. Aku bakalan minum obat sebelum ke sekolah, biar gak pusing."
"Ya udah deh kalau tetep kekeuh." Toh Reva juga tidak bisa memaksa, apalagi Rafael itu sangat rajin dan selalu tidak mau ketinggalan pelajaran. Reva hanya berharap, setelah mendengar gosip itu Rafael tetap bersikap seperti biasa.
Keduanya keluar dari apartemen bersama, hanya berangkat sendiri-sendiri dengan kendaraannya. Sebenarnya tadi Lucas akan menjemputnya, tapi Reva tolak dengan tegas. Untungnya pria itu mengalah. Masalahnya kan Rafael belum tahu mengenai mereka yang sudah jadian, kalau Lucas menjemputnya sudah pasti akan langsung membuat Rafael bingung.
"Aku nungguin kamu loh dari tadi di sini," ucap Lucas menghampiri Reva yang baru turun dari mobil.
"Kenapa nunggu?"
"Pengen aja, biar ke kelas bareng."
Reva mendengus pelan, lebay sekali pikirnya si Lucas itu. Mata Reva lalu tidak sengaja bertemu dengan Rafael yang baru turun juga dari mobilnya. Jarak mobil mereka tidak terlalu jauh, jadi Rafael sudah pasti melihat.
"Ayo ke kelas sekarang," ajak Reva dan melenggang pergi lebih dulu.
"Hei tungguin dong." Lucas pun segera menyusulnya.
Rafael merasa bingung melihat pemandangan tadi, Reva dan Lucas terlihat dekat. Mereka memang berteman, tapi sekarang terasa lebih beda. Rafael berusaha tidak terlalu mempedulikan, Ia akan ke kelasnya. Sesampainya di kelasnya, Rafael langsung dihampiri Dinda.
"Hai Rafael, katanya kemarin kamu sakit ya. Gimana sekarang?" tanya Dinda.
"Sudah agak baikan kok."
"Syukurlah, jangan sakit karena sebentar lagi ujian."
"Iya, aku juga gak mau sakit lagi, takut ketinggalan pelajaran juga. Jadi apa kemarin ada tugas yang penting?"
"Enggak ada sih, cuman ada yang lebih heboh."
__ADS_1
"Apaan?"
Dinda sedikit membungkukan berdirinya, lalu berbisik di depan wajah Rafael, "Reva sama Lucas jadian."
"Hah?"
"Berita mereka yang jadian langsung tersebar, dan sekarang pasangan itu lagi panas-panasnya jadi bahan obrolan. Kaya gak nyangka aja, soalnya Reva kelihatan gak terlalu tertarik sama Lucas."
Untuk beberapa saat Rafael terdiam beberapa saat, berusaha mencerna cerita dari Dinda itu. Rafael kembali menatap Dinda, tidak ada kebohongan di matanya itu. Pantas saja tadi saat berjalan menuju kelas, Rafael sering mendengar beberapa siswi mengucapkan nama Reva dan Lucas. Rafael pikir mereka tidak berhubungan.
"Kamu serius Dinda?" tanya Rafael memastikan.
"Serius lah, kamu sih kemarin gak sekolah jadi baru tahu sekarang."
Lalu kalau semisal dari kemarin, kenapa Reva tidak cerita kepadanya? Rafael tiba-tiba merasa kesal, tapi kesal karena apa? Pokoknya nanti Rafael harus berbicara dengan Reva dan menanyakan tentang ini.
"Bisa juga si Reva itu pacaran sama Lucas yang ganteng itu, pakai pelet kali dia," celetuk Dinda penuh iri, "Atau mungkin bisa aja dia yang ngegoda duluan, centil sih."
Entah kenapa Rafael merasa tidak setuju mendengar itu, ingin protes tapi nanti Dinda bingung sendiri kenapa Ia membela Reva. Terkadang memang Dinda itu selalu berbicara buruk tentang istrinya itu, tapi bodohnya Rafael selalu diam. Jangan salah paham, Rafael hanya tidak mau ada yang curiga.
"Makasih Dinda udah ngasih tahu ini," ucap Rafael.
Karena mungkin kalau bukan Dinda yang memberitahu, Rafael pun tidak akan tahu. Reva juga pintar sekali berakting menyembunyikan rahasia itu, Rafael merasa dibohongi. Rafael berusaha tidak terlalu kecewa karena akan membuat moodnya hancur, apalagi ini masih pagi.
"Gak papa sih."
Bel masuk pun berbunyi, membuat para murid langsung duduk di kursinya masing-masing. Pelajaran pertama adalah matematika, biasanya Rafael selalu bersemangat tapi entah kenapa hari ini Ia malas sekali belajar. Ia memang mendengarkan dengan baik, tapi tidak masuk sampai ke otaknya.
"Baiklah pelajaran hari ini selesai, ini pertemuan terakhir kita ya. Terima kasih anak-anak sudah menjadi murid yang baik selama ini, Ibu doakan semoga ujiannya lancar ya dan kalian dapat nilai tinggi," ucap si guru dengan perasaan terharu.
"Iya Bu, terima kasih juga untuk ilmunya," sahut salah seorang murid mewakilkan.
Belum jam istirahat, tapi Rafael rasanya sudah malas dan mengantuk. Sebelum pelajaran selanjutnya dimulai, Rafael memutuskan ke toilet untuk membasuh wajahnya. Tetapi entah kebetulan atau bagaimana, Ia malah bertemu Lucas di sana.
"Akhirnya sekolah juga," ucap Lucas tampak bersemangat.
__ADS_1
Sebelah alis Rafael terangkat, "Kau tahu kemarin aku tidak sekolah?"
"Aku hanya tidak melihatmu saja, ternyata benar tidak sekolah."
"Memangnya kenapa?"
"Kau sudah mendengar gosip itu? "
"Yang mana?" tanya Rafael pura-pura tidak tahu, Ia pun berusaha terlihat santai sambil mencuci tangannya.
"Tentang aku dan Reva jadian?"
"Oh yang itu, lalu memangnya kenapa?"
Lucas terlihat tertawa kecil, mungkin malu dengan sikap santainya. Rafael juga bingung, kenapa pria itu terlihat ingin dirinya tahu? Sebegitu senangnya bisa pacaran dengan Reva dan ingin memamerkan pada semua orang? Menggelikan sekali, pikirnya.
"Tidak apa-apa sih, jaga-jaga saja kalau misal ada yang tertarik pada Reva tidak akan bisa dapatkan karena dia sudah jadi milikku."
Kali ini Rafael yang tertawa, pria itu lalu mengusap tangannya yang basah dengan tisu. Percaya diri sekali Lucas itu menetapkan kepemilikan, Reva miliknya katanya? Tentu saja bukan, Reva yang milik Rafael. Rafael lah pemilik sah nya karena mereka adalah suami istri. Oh ingin sekali Rafael beritahu sekarang agar si Lucas itu tidak sombong dan kepedean.
"Kau terlihat senang bisa pacaran dengan Reva," ucap Rafael.
"Tentu saja senang, aku sudah menyukai dia dari lama. Selama ini dia selalu menolak ku, tapi akhirnya sekarang aku bisa mendapatkan dia."
"Apa mungkin dia luluh melihat perjuanganmu?"
"Entahlah, tapi yang pasti ada hal lain yang membuat Reva sampai mau berhubungan denganku."
"Apa?"
"Kenapa penasaran sekali Rafael? Kau tadi yang bilang sendiri hubunganku dengan Reva bukan urusanmu," ucap Lucas menohok sampai membuat Rafael terdiam.
"Benar, itu bukan urusanku," gumam Rafael. Tetapi nanti tetap akan Rafael tanyakan alasannya pada Reva, saat mereka berdua pastinya. Rafael memutuskan keluar dari sana, merasa jengah juga mengobrol dengan Lucas.
Rafael tidak langsung pergi, masih memikirkan banyak hal yang membuatnya pusing sendiri. Tetapi Rafael harus ke kelas sekarang karena akan semakin tertinggal pelajaran. Rasanya tidak sabar sekali bertemu dengan Reva dan berbicara tentang ini.
__ADS_1
"Kira-kira kenapa Reva tidak cerita ini ya?" tanya Rafael seorang diri.
Ingin sekali Rafael menduga jika Reva takut dirinya cemburu, tapi rasanya tidak mungkin dan dugaannya terlalu tinggi. Mereka kan berusaha tidak saling tidak peduli.