Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
40 Saling Menahan Cemburu


__ADS_3

Rafael baru pulang ke apartemennya di pukul enam lebih, Ia menenteng makanan fast food pesanan Reva. Lagi pula Rafael sedang malas masak karena capek, jadi memutuskan sekalian pesan saja. Sesampainya di dalam Ia melihat Reva yang sedang menonton TV.


"Astaga Reva," pekik Rafael.


"Apa?" tanya Reva bingung.


"Kamu dari tadi pakai celana pendek gitu? Pas ada Lucas juga?"


Reva menundukan kepala melihat baju yang dipakainya, kaosnya memang oversize tapi celananya hanya setengah paha. Seringai lalu terukir di bibirnya, Reva jadi ingin sedikit bermain-main dengan pria itu. Sudah lumayan lama juga.


"Iya, kenapa?" tantang nya.


"Kenapa?" tanya Rafael balik lalu mengusap wajahnya kasar, "Yang bener aja dong Reva, gak bener kamu."


"Enak aja, gak bener gimana?"


"Iya lah, Lucas itu kan bukan muhrim kamu. Dia pasti jelalatan lihatin paha kamu terus dari tadi."


"Hm emang sih, aku juga ngerasa."


"Terus kamu biasa aja gitu?"


"Lagian dia juga gak aneh-aneh, namanya juga cowok."


Melihat sikap santai Reva, membuat Rafael menggeram. Ia menyimpan belanjaannya di meja lalu mendekati istrinya itu. Rafael menyentil kening Reva, membuat perempuan itu yang sedang duduk meringis.


"Ih Rafael, sakit tahu!" kesal Reva.


"Kamu ini ya dasar istri nakal, sudah punya suami tapi masih ganjen ke cowok lain."


"Biarin, lo juga gitu," balas Reva lalu memeletkan lidahnya.


"Tapi aku gak pernah tuh sampai buka aurat di depan Dinda, apalagi kalau lagi berduaan. Nah kamu, tadi sama Lucas cuma berduaan. Gimana kalau tadi dia macam-macam sama kamu?"


"Ck lebay lo, lagian kan dia bukan cowok begitu."


"Ya siapa yang tahu?"


"Udah lah, gue juga baik-baik aja."


Rasanya Rafael ingin memarahi Reva karena tidak mau mengerti dengan teguran nya, malah membangkang dan keras kepala. Rafael mencoba mengatur nafasnya mencoba bersabar, jangan sampai Ia terbawa emosi.


Tok tok!


"Reva."


Kedua orang itu langsung bertatapan saat mendengar suara familiar dari luar, itu adalah Lucas. Reva beranjak dari duduknya dan segera melihat lewat lubang kecil di pintu, ternyata benar itu Lucas. Kenapa balik lagi?


"Aku kira dia udah pulang," ucap Rafael.


"Emang udah, gak tahu kenapa balik lagi."


"Terus sekarang gimana?"


"Lo ke kamar aja, biar gue yang temuin dia."

__ADS_1


"Jangan sampai dia masuk, nanti tahu aku ada di sini."


"Iya-iya, udah sana."


Setelah Rafael pergi ke kamarnya, Reva pun membuka pintu dan langsung tersenyum pada Lucas, "Loh kok balik lagi, kenapa?" tanyanya.


"Hehe itu, ponsel aku ketinggalan."


"Astaga ada-ada aja, kenapa bisa sampai lupa sih?"


"Gak tahu, sanking terlalu betah kali di sini."


"Bisa aja lo. Ya udah, gue ambil dulu ya, tunggu."


Lucas mengira dirinya akan dipersilahkan masuk lagi, tapi ternyata menunggu di luar. Pria itu tidak terlalu mempermasalahkan, setelah Reva kembali sambil memberikan ponselnya, Ia pun berterima kasih.


"Aku pulang dulu Reva, makasih."


"Iya sama-sama."


"Oh iya, nanti giliran kamu kan yang main ke rumah aku."


"Astaga Lucas, udah ngomong berapa kali coba? Iya pasti gue main kok ke rumah lo."


"Hehe takut lupa aja, pokoknya janji harus ditepati."


"Iya dasar bawel, udah sana pulang."


Reva menutup kembali pintu sambil bernafas lega, hampir saja ketahuan pikirnya. Perhatian Reva lalu teralih ke meja, melihat makanan pesanannya membuatnya langsung duduk untuk makan. Tetapi baru saja satu gigitan di burger nya, Reva teringat Rafael.


"Punya aku satu," jawab Rafael.


"Emangnya belum makan?"


"Belum lah."


Tidak lama Rafael pun keluar dari kamarnya, lalu duduk begitu saja di sebelahnya. Reva sampai menghentikan makannya melihat pria itu yang hanya memakai kolor dengan kaos singlet nya.


"Kenapa?" tanya Rafael yang sedang makan.


"Tumben pakai baju gembel gini."


"Enak aja, ini baju dalaman lah."


"Ya biasanya juga pakai kaos, ini cuma singlet aja."


"Biarin, terserah aku."


Reva mendengus mendengar jawaban acuh itu, Ia berusaha tidak peduli dan melanjutkan makannya.


"Nanti kalau Dinda main kesini, kayanya mau pakai kolor doang."


Ukhuk!


Reva sampai tersedak makannya mendengar itu, Ia pun segera meminum cola nya. Reva lalu menatap Rafael nyalang, apa maksudnya mengatakan itu?

__ADS_1


"Lo mau telanjang?!" sentak Reva.


"Enggak, cuma pakai bawahan aja."


"Gila kali lo."


"Emangnya kenapa? Reva juga pas ada Lucas pakai celana pendek."


"Ya gue kan masih pakai baju."


"Tapi tetep aja aurat, kalau cowok kan gak pakai atasan udah biasa," ucap Rafael enteng.


Reva mendengus, "Emangnya kalau lo gak pakai atasan, si Dinda itu bakal terpesona apa sama tubuh lo yang krempeng itu?" tanyanya sinis.


"Paling dia malu-malu, terus salah tingkah."


"Ck ngadi-ngadi aja lo, mau buat gue cemburu ya?"


"Enggak tuh!" acuh Rafael.


Setelah itu keduanya makan dengan posisi saling berjauhan dan tidak mood. Saling melirik sinis, saat pandangan bertemu langsung mengalihkan. Terasa sekali aura permusuhan dan marah pada satu-sama lain, benar-benar seperti remaja labil sekali.


"Gue bohong."


Rafael menoleh pada Reva, tapi tidak mengatakan apapun. Ingin mendengar penjelasannya lebih.


"Tadi pakai celana panjang kok, masa aja pakai celana pendek gini," lanjut Reva.


"Masa?" tanya Rafael enggan percaya.


"Ya udah kalau gak percaya tanyain aja sama si Lucas."


Masa saja Rafael menanyakan hal konyol seperti ini pada Lucas, untuk apa juga? Yang ada nanti pria itu merasa bingung dan aneh sendiri, berpikir apa hubungannya juga dengannya? Rafael mencoba percaya saja pada Reva, walau masih gengsi.


"Gue beraninya kalau pakai baju terbuka pas ada lo doang."


"Bagus lah, emang harusnya gitu."


"Jadi lo suka gue pakai baju terbuka?"


"Iya."


Reva tidak bisa menahan senyumannya mendengar itu, perlahan perasaan kesal di hatinya pun menghilang. Terasa lucu sekali, padahal baru beberapa menit lalu mereka saling bermusuhan. Memang semudah ini mengubah suasana di antara suami istri.


"Ya udah, nanti gue mau pakai baju seksi aja ya di apartemen," ucap Reva.


"Jangan."


"Kenapa? Tadi lo bilang suka."


Rafael terlihat menghela nafasnya berat, "Jangan terlalu terbuka juga, nanti aku gak bisa nahan diri."


Kali ini senyuman Reva berganti menjadi tawa kecil. Saat Rafael mengucapkannya seperti anak kecil yang polos, antara gemas tapi juga menggelikan. Sudah besar tapi masih malu-malu begitu, benar-benar menghibur.


"Ekhem aku mau ke kamar dulu ngerjain tugas, kamu lanjutin makannya," ucap Rafael lalu beranjak. Percayalah pria itu sedang menghindari percakapan yang akan semakin panas dan intim itu.

__ADS_1


"Dasar bocah," dengus Reva sambil tersenyum-senyum sendiri.


__ADS_2