Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Akan Menemaninya Terus


__ADS_3

"Rafael?!" pekik Reva.


Perempuan itu sampai berdiri dari duduknya terkejut sendiri melihat kehadiran suaminya itu di rumah ini. Merasa belum terlalu percaya, Reva sampai mengucek matanya takut salah lihat. Tetapi bayangan pria itu masih ada di sana. Tahu jika Rafael nyata, membuat Reva pun langsung menghampirinya.


"Rafael, ini beneran kamu?" tanya Reva dengan suara bergetar nya.


Melihat reaksi menggemaskan istrinya itu, membuat Rafael tidak bisa menahan tawa. Pria itu lalu merangkum wajah cantik Reva, menatap ke balik matanya yang indah. Mungkin dengan ini, Reva tidak akan ragu lagi dengan keberadaannya.


"Ya iyalah sayang, emangnya kamu pikir aku hantu? " tanya Rafael. Reaksi Reva seperti waktu itu, mirip sekali.


Reva pun memeluknya, "Rafael, katanya kamu gak akan pulang liburan musim ini," rengeknya.


"Hehe maaf aku cuman bercanda."


Bug!


"Ih becanda kamu gak lucu tahu, aku tuh sedih karena kalau kamu gak pulang itu berarti gak akan lihat pas aku hamil," kesal Reva sampai memukul pelan dada suaminya.


Rafael pun menarik tangan perempuan itu mendekatinya lagi, "Gak mungkin lah sayang aku gak pulang, apalagi ini adalah masa-masa bahagia kita. Aku pengen nikmati waktu saat kamu hamil. "


Waktu itu Reva memang sempat bertanya apa Rafael akan pulang ke Indonesia atau tidak, tapi Rafael beralasan tidak akan pulang karena cuaca yang buruk sampai beberapa minggu di sana. Tetapi tanpa diduga pria itu hari ini malah ada di rumah, beralasan bohong.


Rafael lalu menekuk kakinya menjadi lebih rendah, kini wajahnya tepat berada di depan perut Reva yang menonjol, "Hai sayang, ini Papa. Maaf ya Papa baru pulang dan tengok kamu," ucapnya.


Tanpa bisa ditahan kedua mata Rafael berkaca-kaca, hatinya sekarang membuncah sekali karena dirinya sebentar lagi akan memiliki anak. Saat wajahnya Ia dekatkan ke perut itu, air matanya pun akhirnya menetes juga.


"Kamu nangis?" tanya Reva sambil mengusap kepala suaminya itu.


"Enggak kok," bantah Rafael. Pria itu terlihat nyaman menyandarkan kepalanya di perut sang istri.


Pasti sudah banyak hal yang Rafael lewatkan, Ia baru datang di saat bayinya sudah berumur enam bulan dan hampir tujuh bulan. Rafael sebenarnya kesal tidak bisa melihatnya terus, tapi di sana Ia juga ada masa depan yang sama-sama penting.


"Aku bisa dengar detak jantung dia," gumam Rafael.


"Masa? Bukan detak jantung aku?" tanya Reva.

__ADS_1


"Kayanya bukan, soalnya dari perut kamu. Detakannya pelan, tapi masih bisa aku rasakan."


"Sepertinya memang benar dia."


Rafael lalu menengadahkan kepalanya, "Jadi apa jenis kelamin dia?"


"Aku tidak tahu," geleng Reva.


"Memangnya belum kamu periksa? Kamu sering cek rutin kan ke bidan?"


"Kalau itu sering setiap bulan, tapi aku sengaja belum cek jenis kelamin soalnya pengennya sama kamu," jawab Reva sambil tersenyum.


Mendengar itu membuat hati Rafael tersentuh, Ia pun kembali berdiri dan membawa istrinya itu ke pelukannya. Padahal Rafael tidak selalu ada di sisi Reva, tapi perempuan itu terlihat tidak membencinya. Seharusnya kan peran suami itu paling dibutuhkan saat hamil.


"Ya sudah, gimana kalau besok kita cek terus tanya apa jenis kelamin baby nya?" tanya Rafael.


Reva menggeleng, "Enggak mau gitu ah, aku pengen buat pesta."


"Maksud kamu gender reveal party?" tanya Rafael. Acara itu kan cukup terkenal, apalagi di kalangan artis.


"Ya sudah boleh, nanti kita adain acara itu ya. Sayang banget, padahal aku pengen tahu cepet-cepet apa jenis kelamin dia," gumam Rafael. Namun Ia harus bersabar, karena ingin istrinya juga senang.


Rafael lalu mengajak Reva ke meja makan, melanjutkan lagi mengobrol sambil makan malam. Kalau dulu Rafael lah yang dilayani, tapi kali ini pria itu yang berinisiatif sendiri membawakan untuk sang istri. Rafael merasa harus memperlakukan bumil itu dengan baik.


"Jadi kamu mau berapa lama liburan di Indonesia?" tanya Reva di sela makannya.


"Setahun mungkin," jawab Rafael sambil mengedikkan bahunya.


"Hah setahun? Kok lama banget?" tanya Reva bingung. Bukankah libur semester paling lama hanya satu bulan?


Rafael tersenyum lalu menggenggam tangan Reva yang berada di atas meja, "Aku sudah minta izin selama setahun ini untuk nemenin kamu sampai kamu lahiran, untung aja mereka ngizinin."


"Ka-kamu serius Rafael?"


"Iya, aku gak mau lagi lewatin moment berharga ini. Apalagi di saat bulan terakhir terus dia lahir, aku bakalan nyesel seumur hidup kalau gak nemenin kalian." Rafael terlihat bersungguh-sungguh saat mengatakannya.

__ADS_1


Merasa tidak bisa membendung perasaan bahagianya, Reva pun berhambur memeluk Rafael. Ia tentu saja sangat senang karena pria itu kini akan selalu ada di sampingnya, di saat Reva merasa terbebani menjaganya sendirian, kini Rafael akan ada di sisinya terus.


"Makasih ya Rafael," bisik Reva tulus.


"Hei kenapa bilang makasih? Ini sudah jadi kewajiban aku sebagai suami. Masa aja aku tega ninggalin kamu lagi di saat seperti ini. Nanti saat bayi kita lahir, kita jaga dia bersama ya."


"Iya-iya," angguk Reva bersemangat.


Walaupun kedewasaan itu tidak diukur tergantung umur, tapi Rafael dan Reva yang baru menginjak kepala dua sudah mulai bisa bersikap dewasa dan saling mengerti pasangannya. Ego mereka di umur seperti ini mungkin memang masih ada, tapi jika dengan pasangan tentu harus diturunkan.


"Apa Papa dan Mama tahu kamu di rumah? Terus Bunda sama Ayah?" tanya Reva mengalihkan obrolan.


"Mereka semua sudah tahu kok, dan aku sengaja bilang ke mereka untuk rahasiain dulu ke kamu," jawab Rafael sambil terkekeh kecil.


"Huh dasar kebiasaan deh, emangnya kamu sampai di Indonesia jam berapa?"


"Tadi siang pas kamu masih di Kampus mungkin. Aku sempat ke rumah Bunda dulu, terus sorenya ke rumah Papa karena kamu katanya tinggal di sini."


Reva mengangguk pelan, "Iya aku pindah ke rumah Papa karena ternyata jalanin kehamilan sendirian itu benar-benar gak enak. Mood aku mudah berubah, aku pengennya di perhatiin terus," keluh nya.


Rafael tersenyum tipis, "Tenang saja, sekarang aku akan selalu temenin kamu," ucapnya gombal.


"Haha dasar."


Selesai makan malam, keduanya lalu naik ke lantai atas menuju kamar. Rafael juga cerita jika Ia yang meminta Mama dan Papa keluar sebentar memberikannya waktu bersama Reva, dan tentu saja mereka dengan senang hati memberikan waktu.


Saat masuk kamar, perhatian Reva langsung tertuju ke meja. Di sana ada kotak bekal dengan isi kue sus yang dari tadi Ia cari-cari. Menduga sesuatu, Reva pun langsung melirik Rafael bertanya. Apakah pria itu yang melakukannya?


"Hehe maaf sayang aku sedikit jahil," ucap Rafael sambil tertawa canggung. Memang Ia yang menyembunyikannya.


"Terus apa jangan-jangan kamu juga yang pindahin aku ke ranjang? "


"Iya lah, aku gak tega lihat kamu ketiduran di sofa."


"Ck dasar, aku kirain hantu lagi cari kesempatan, pakai cium segala lagi," gerutu Reva yang di mata Rafael terlihat lucu.

__ADS_1


__ADS_2