
Selepas kuliah, Reva langsung pulang ke apartemennya karena akan masak mempersiapkan untuk makan besar nanti malam dengan kedua orang tuanya. Reva tidak akan masak sendiri, ada Vanessa yang akan membantunya.
"Jadi menunya ayam kecap, tumis kangkung, sambal terus perkedel," ucap Vanessa melihat lagi catatan di menu.
Reva pun mengangguk, "Iya, apa kira-kira cukup?"
"Menurut aku yang biasanya makan cuman satu menu tentu aja ini banyak hehe," kekeh Vanessa.
"Makasih ya udah mau bantuin," kata Reva.
"Sama-sama, lagian aku gak tega kalau kamu masak sendiri. Katanya Ibu hamil kan gak boleh ngelakuin pekerjaan capek-capek." Vanessa mengatakannya sambil tersenyum.
"Aku baik-baik aja kok," kata Reva sambil mengedikan bahunya.
Melihat waktu yang sudah menunjukan pukul empat sore lebih, mereka pun memutuskan mulai memasak. Membagi-bagi tugas agar lebih cepat juga. Untung saja sekarang Reva kan sudah masak, jadi sudah tahu juga cara membuatnya. Menu-menu tadi pun adalah yang paling sering Ia buat.
"Hwekk!"
Vanessa yang mendengar itu langsung menoleh, "Reva, kamu gak papa?" tanyanya khawatir.
"Gak papa, cuman mual aja, udah biasa kok," bantah Reva.
Reva pun mendekati wastafel untuk berkumur, setelahnya Ia minum air hangat. Tiba-tiba dirinya menjadi tidak mood lagi, memutuskan untuk duduk beberapa saat dengan pandangannya yang kosong.
"Jangan ngelamun ih," tegur Vanessa.
"Enggak kok."
"Kalau Reva pusing ya sudah istirahat aja, biar aku yang lanjut kerjain masaknya," ucap Vanessa. Terlihat perempuan itu telaten sekali mengerjakannya.
"Enggak-enggak, masa kamu sendirian yang masak." Reva kan jadi tidak enak.
"Gak papa kok, aku malah kasihan kalau Reva paksain." Lagi pula Vanessa tidak masalah, Ia ikhlas melakukannya.
"Ya sudah sebentar ya aku mau istirahat dulu, kepala aku tiba-tiba pusing," ucap Reva jujur.
__ADS_1
"Iya sudah sana mending nonton TV aja," suruh Vanessa.
Reva pun beranjak lalu pergi dari sana, Ia duduk di sofa yang ada di ruang utama dan menyalakan TV mencari film yang seru. Perlahan matanya menjadi berat, Reva merasa mengantuk. Di dalam hati berjanji hanya istirahat sebentar, tapi ternyata Ia malah terlelap.
"Reva minumannya mau apa? Air putih biasa atau mau buat jus?" tanya Vanessa setengah berteriak dari pantri.
Merasa tidak mendapat tanggapan, Vanessa pun memutuskan menghampiri. Bibirnya langsung melengkungkan senyuman melihat temannya itu yang tertidur. Vanessa jadi tidak tega membangunkan, membiarkan Reva saja dan kembali melanjutkan kerja.
"Aku buat jus jeruk aja deh," ucap Vanessa setelah memutuskannya.
Sebenarnya mengerjakan masakan sebanyak ini sendirian memang melelahkan, tapi Vanessa kan melakukannya dengan sepenuh hati. Melihat semua makanan sudah terhidang di atas meja, membuat Vanessa bernafas lega dan merasa senang sendiri.
"Sudah siap semua, sekarang sudah jam enam. Kayanya aku harus pulang sekarang, mungkin orang tua Reva juga sebentar lagi datang ke sini," gumam Vanessa sempat melirik ke arah jam dinding.
Vanessa pun pulang begitu saja tanpa membangunkan Reva karena merasa tidak tega. Beberapa menit kemudian, pintu apartemen terbuka begitu saja dan masuklah kedua orang tua Reva. Intan dan Harry sempat bertatapan saat melihat Reva yang tertidur dalam posisi duduk di sofa.
"Reva bangun, ini Papa," ujar Harry sambil mengusap kepalanya.
Dan tanpa waktu lama kedua mata itu terbuka, Reva mengerang pelan karena tidur nyamannya terganggu. Melihat jika itu kedua orang tuanya, membuat Reva langsung tersenyum. Tidak lupa Ia terlebih dahulu menyalami tangan mereka.
"Aku ketiduran kayanya, memangnya sekarang jam berapa?" tanya Reva balik.
"Jam enam lebih," jawab Intan.
"Ya ampun aku lama juga tidur."
Saat teringat sesuatu, Reva langsung beranjak dari duduknya menuju pantri untuk memastikan apakah masakannya sudah siap atau belum. Padahal tadi Reva hanya ingin tidur sebentar, mungkin karena kepalanya juga sedang pusing jadi nyenyak.
"Vanessa, kamu dimana?" tanya Reva setengah berteriak karena tidak menemukan temannya itu di sana.
Saat melirik ke arah meja makan, Reva terdiam melihat makanan sudah terhidang semua di sana dengan lengkap. Ini pasti Vanessa yang membuatnya sendiri, Reva jadi merasa tidak enak karena sudah merepotkan. Perempuan itu pun memutuskan menghubungi Vanessa.
["Iya Reva sama-sama, sudah gak papa kok. Aku tadi gak tega bangunin kamu, jadi langsung pulang. Nikmati makan malamnya ya, aku tahu malam ini pasti kamu mau ngasih tahu kabar bahagia ini. Semoga lancar."]
Itulah kalimat terakhir Vanessa setelah mereka saling ber teleponan. Reva sempat bilang akan membayar temannya itu karena sudah bekerja keras, tapi lagi-lagi Vanessa selalu menolak.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Bunda dan Ayah yang baru datang mengucap itu dengan suara lantang.
Ketiganya pun langsung menjawabnya. Para besan itu sempat berpelukan sebentar saling menyapa, sudah lumayan lama tidak bertemu. Terakhir itu ya pas mengantar Rafael ke bandara saja, berarti dua minggu yang lalu.
"Sayang kok wajah kamu pucat?" tanya Bunda yang paling menyadari.
Semua orang pun langsung menatap Reva, membuat perempuan itu menggeleng cepat, "Aku gak papa, gak sakit juga. Jangan khawatir," ucapnya.
"Beneran?" tanya Harry memastikan.
"Iya beneran, sudah yuk mending kita makan sekarang," ajak Reva semangat.
Ternyata makanannya juga ada beberapa yang masih hangat, itu berarti Vanessa pun baru pergi. Masakan Vanessa sudah pasti enak dan jangan diragukan, bahkan mungkin lebih enak dari masakan Reva.
"Kamu bilang ada sesuatu yang ingin disampaikan saat makan malam ini, memangnya apa?" Harry benar-benar penasaran dari kemarin.
Reva menghentikan makannya sejenak, "Mau dengar sekarang?" tanyanya pada semua orang.
Melihat kedua orang tuanya dan mertuanya mengangguk, membuat Reva pun memutuskan beranjak bangun dari duduknya. Ia masuk ke kamarnya lalu membawa dua kotak kado berukuran kecil. Setelah kembali ke meja makan, langsung memberikan masing-masing pada Ayah dan Papanya.
"Apa ini Reva?" tanya Intan sambil tersenyum, entah kenapa dadanya jadi berdebar.
"Ayo buka aja biar kalian gak penasaran lagi," jawab Reva.
Setelah ke empat orang tua itu membuka kotaknya, mereka langsung terpekik merasa terkejut sendiri dengan isi dalamnya. Sebuah test pack yang menunjukan garis dua. Harry yang terlebih dahulu berdiri, pria itu pun langsung memeluk putrinya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Sayang, kamu hamil?" tanyanya lirih.
"Iya Papa, aku hamil. Aku baru tahu ini kemarin, makanya mutusin langsung ngasih tahu kalian," jawab Reva sambil tersenyum.
Melihat reaksi bahagia dari orang tuanya, membuat Reva merasa terharu dan lega sendiri. Mereka terus mengucapkan selamat kepadanya, bahkan sampai mengelus perutnya juga. Para Ayah memang berusaha menahan tangis, berbeda dengan Bunda dan Mamanya yang sudah menangis terharu.
"Apa Rafael sudah tahu?" tanya Ayahnya baru ingat.
Reva pun mengangguk, "Sudah kok, kemarin aku juga kabari dia."
__ADS_1
"Lalu bagaimana reaksi dia?"