
"Kamu baik-baik aja?" Hal itulah yang pertama Rafael tanyakan setelah keheningan beberapa saat di antaranya dengan Reva. Mereka kini berduaan, jadi bisa lebih bebas mengobrol dengan santai.
"Gak papa kok," jawab Reva tanpa menatap. Entah kenapa, rasanya malu saja. Kenapa jadi begini ya?
"Dari tadi aku terus mikirin kamu, aku tahu kamu dari kemarin terus mikirin ini."
"Oh ya?" tanya Reva baru menatap Rafael, "Terus kalau dari tadi mikirin gue, kenapa gak hampirin?" Apakah pria itu terlalu asik bersama Dinda?
"Soalnya aku takut makin heboh, dan kamu makin tertekan," jawab Rafael.
"Masa? Bukan karena khawatirin perasaan si Dinda?"
Sebelah alis Rafael terangkat, "Kenapa aku khawatirin perasaan dia?"
"Dia kan katanya ada perasaan sama lo, lo dulu juga sempat suka. Gimana reaksi Dinda pas tahu ini? Dia pasti sakit hati."
Rafael malah tersenyum mendengar tuduhan itu, dari nada bicara Reva terlihat jelas sekali sedang cemburu. Rafael sempat memperhatikan sekitar, merasa tidak ada siapapun di sana Ia memberanikan diri mengusap puncak kepala Reva.
"Kenapa jadi bahas dia sih?" tanya Rafael.
"Ya lo kan--"
"Syutt udah ah jangan bahas dia lagi, kenapa juga jadi mikirin perasaan orang lain sih? Fokus ke kita aja." Rafael lalu menarik tangan Reva dan mereka pun duduk di bangku panjang di sana. Keadaan sekolah sudah sepi karena jam pelajaran sudah masuk, untuk kelas akhir kan sedang bebas jadi tidak belajar.
"Sebenarnya gue udah duga sih dari kemarin kalau hari ini di sekolah bakalan heboh tentang berita ini," gumam Reva.
"Mereka semua kelihatan kaget dan gak nyangka. Mungkin mereka gak nyangka cowok biasa dan culun kaya aku bisa dapetin kamu," sahut Rafael.
Reva langsung melirik nya, "Mereka juga gak nyangka cewek brandalan kaya gue punya suami baik-baik kaya lo," celetuknya dan mereka berdua pun tertawa bersama.
"Terus gimana tanggapan dia?" tanya Rafael.
__ADS_1
"Dia siapa? "
"Lucas, mantan pacar kamu." Rafael terlihat tidak ikhlas sekali saat mengatakannya, bibirnya bahkan mencebik mengejek.
"Dia gak sekolah." Reva merasa lega akan hal itu, Ia juga belum siap bertemu Lucas lagi karena hubungan mereka kan sekarang jadi merenggang karena masalah itu.
"Bagus deh, kalau dia sekolah aku takut kamu kenapa-napa."
"Maksudnya si Lucas bakal aneh-aneh gitu sama gue?" tanya Reva.
Rafael mengangguk, "Dia kan orangnya nekad, gimana kalau dia macam-macam sama kamu?" Membayangkan Reva terluka, membuat Rafael rasanya khawatir sendiri. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Enggak lah, Lucas gak bakal sampai segitu nya," ucap Reva. Jangan salah paham, Reva bukan berarti sedang membela Lucas. Hanya saja Reva merasa pria itu selama ini selalu memperlakukannya baik dan tidak bertindak kasar juga, walau memang sering mengintimidasi.
"Gue juga udah lost kontak sama Lucas dari akhir pertemuan kita, gak tahu kabar dia gimana sekarang," lanjut Reva sambil mengedikan bahunya.
Tatapan Rafael memicing, "Reva mikirin keadaan dia terus?"
"Karena sekarang kalian udah gak ada lagi hubungan, jadi Reva jangan sampai hubungin dia lagi yah. Sekarang aku punya banyak mata-mata di sekolah. Jadi kalau misal Reva aneh-aneh sama cowok lain, pasti ada yang laporin."
"Hah mata-mata?" tanya Reva bingung.
"Iya lah, semua siswa kan sekarang tahu kalau kita suami istri. Ngerti?"
"Ih kirain mata-mata khusus, kalau itu mah mereka juga mata-mata gue dong," balas Reva membuat Rafael terkekeh kecil. Contohnya Ica saja tadi, sahabatnya itu kan yang melaporkan saat menemukan Rafael sedang berduaan dengan Dinda.
Di tengah asiknya obrolan, Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka. Murid itu memberitahu jika Reva dan Rafael dipanggil ke kantor menghadap kepala sekolah. Pasangan itu sempat tersentak dan gugup, tapi mereka harus tetap pergi karena itu adalah perintah dari orang tertinggi di sekolah. Sepanjang perjalanan merasa gugup, tapi berusaha saling menguatkan.
Tok tok!
"Permisi Pak," ucap Reva sambil nengetuk pintunya.
__ADS_1
"Silahkan masuk Reva," sahut Kakeknya dari dalam.
Saat keduanya masuk, Kakeknya itu langsung menyuruhnya duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Tetapi Kakeknya itu tidak langsung membahas inti obrolan, terlihat masih sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya. Untuk membunuh bosan, Reva dan Rafael pun memperhatikan ruang kantor itu dengan seksama.
"Hari ini Kakek dengar sesuatu yang heboh di sekolah, tentang kalian," ucapnya baru membuka suara, walau begitu tatapannya tidak lepas sedikit pun dari kertas-kertas di tangannya.
Reva menggigit bibir bawahnya gugup, "Maaf Kek," ucapnya pelan. Reva merasa dirinya selalu mempermalukan Kakeknya itu, tidak pernah membuatnya bangga.
"Saya juga minta maaf karena ini, kami sudah membuat Kakek ikut terbawa lagi dalam masalah." Rafael ikut meminta maaf, merasa dirinya di sini yang paling bertanggung jawab sebagai suami.
"Tidak perlu minta maaf, tidak apa-apa kok," ucap Kakeknya baru menghentikan kegiatannya.
"Tapi pasti banyak yang merasa tidak terima mendengar kabar ini. Aku khawatir Kakek ikut terseret, padahal aku dan Rafael yang memiliki masalahnya." Kakeknya itu harus menjaga nama baik sebagai kepala sekolah, dengan masalah ini takutnya Kakeknya dianggap tidak profesional dan bersikap tidak adil.
"Memang pasti ada beberapa yang tidak terima mendengar ini, kalian juga masih muda dan sekolah. Tetapi ingat, usia kalian juga sudah bisa untuk menikah. Apa salahnya? Sebelum rahasia ini bocor pun, kalian dapat menjadi murid yang baik di sini dan belajar dengan tekun juga, kan?" Kakeknya terlihat berwibawa sekali, tidak memojokan cucu-cucunya itu dan berusaha memberikan ketenangan.
"Apa kami tidak akan kenapa-napa?" tanya Reva, khawatir saja ini menjadi penghalang mereka untuk lulus.
"Tenang saja, serahkan semuanya pada Kakek."
"Sekali lagi maaf Kek sudah merepotkan, terima kasih juga sudah berusaha membela kami," ucap Rafael tulus, Ia tahu pria parug baya itu ada di kubu mereka.
"Lagi pula sebentar lagi juga kalian lulus, tinggal menunggu nilai keluar setelah itu kalian bisa pergi dari sekolah ini." Kakeknya lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, "Malahan kalian hebat loh bisa sembunyi-sembunyi begini, rahasia pun tersebar di waktu yang tepat."
Mungkin inilah takdir Tuhan, Tuhan yang paling tahu kapan waktu terbaik seseorang itu. Reva dan Rafael hanya bisa menerima saja, mereka juga tidak mau banyak mengeluh dan menerima semua yang diatur-Nya. Benar yang dikatakan Kakeknya, jika ini adalah waktu yang tepat.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan ya, dengan kabar ini tidak akan sampai mempengaruhi kelulusan kalian," ucap Kakeknya sambil tersenyum.
"Iya Kek, terima kasih."
"Sama-sama, kalian itu cucu Kakek dan tanggung jawab Kakek juga. Selalu bahagia dan saling menjaga ya."
__ADS_1
"Iya," ucap Rafael dan Reva bersamaan.