
Setelah perdebatan lumayan panjang di antara Reva dan Vanessa itu, akhirnya Reva mengalah karena luluh melihat Vanessa yang terus memohon untuk jangan membongkar keburukan Ivana pada siapapun, termasuk melaporkannya pada polisi. Saat itu pun Reva merasa jika Vanessa terlalu polos dan bodoh di waktu bersamaan.
"Terus kapan kamu mau masuk Kampus lagi? " tanya Reva mengalihkan obrolan.
"Lusa kayanya, lukanya belum kering," jawab Vanessa sambil mengusap wajahnya yang masih babak belur.
"Sebenarnya sih bisa aja di tutupin pakai make up, tapi kalau misal kamu memang belum agak baikan ya jangan dipaksa, tidak papa."
Vanessa lalu menyenggol tangan Reva, "Kenapa? Reva kesepian ya gak ada aku di Kampus?" godanya.
"Iya emang."
Sebenarnya Vanessa tidak serius dan terlalu percaya diri jika dirinya adalah teman terdekat Reva. Reva itu mudah bergaul, banyak juga orang-orang yang ingin menjadi temannya. Tetapi Vanessa juga tentu berharap jika dirinya adalah yang paling spesial bagi Reva sebagai teman, karena Ia pun menganggap perempuan itu begitu.
"Mobil aku sudah balik," cerita Reva.
"Oh ya? Syukurlah, aku ikut senang." Vanessa sampai mengucap hamdalah karena senang akhirnya kendaraan temannya itu kembali. Kalau dihitung dari hilangnya sudah mau satu bulanan, cukup lama.
"Pelakunya juga udah ditangkap, ternyata bener mereka banyakan makanya waktu itu mobil aku cepet banget hilangnya."
"Mereka akan masuk penjara, kan? Pokoknya harus."
"Iya lah pasti, Papa aku juga sudah serahin semua ke pengacara nya."
Reva lalu melihat jam tangannya, tidak terasa sudah mau malam lagi dan Ia cukup lama berada di sini. Walaupun hanya mengobrol di dalam kamar, tapi jika dengan teman dekat pasti suka lupa waktu karena banyak yang dibicarakan. Reva lalu beranjak dari duduknya untuk pamit pulang.
"Bibi kamu kemana sih? Padahal aku pengen ketemu dia," tanya Reva memperhatikan sekitar rumah. Vanessa akan mengantarnya sampai depan.
"Gak tahu, bibi emang sibuk banget kerja di sini."
"Emangnya di sini ada berapa banyak pelayan?"
__ADS_1
"Ada lima mungkin, sama aku. Aku paling muda di sini, kebanyakannya sudah pada tua."
Reva mengangguk pelan tidak mau menanyakan apa temannya itu betah di sini atau tidak, sudah pasti jawabannya tidak karena selalu mendapat kekerasan fisik dari Ivana. Saat akan keluar rumah, mereka malah tidak sengaja bertemu dengan Ivana. Reva pun tanpa sadar mendengus kasar melihat perempuan munafik itu.
"Reva, sudah mau pulang lagi?" tanya Ivana mendekat. Sempat melirik Vanessa dengan sinis, tapi hanya sebentar karena kembali tertuju pada Reva.
"Iya." Hanya itu yang Reva katakan, enggan sekali ber basa-basi.
"Jangan sungkan kalau mau main kesini, tapi aku bakal lebih senang kalau Reva mau mainnya sama aku," celetuk Ivana penuh harap.
Reva hanya tersenyum kikuk tidak ikhlas, pede sekali pikirnya si Ivana itu. Mana mau Reva berteman dengannya, Ivana dari dulu tidak menyerah juga mendekatinya. Sebenarnya apa maksudnya?
"Ekhem aku mau pulang sekarang, sudah malam," dehem Reva.
"Oh iya, Hati-hati Reva." Ivana melambaikan tangannya pada Reva, perempuan itu pun sampai mengantarnya ke depan dengan Vanessa.
Reva masuk ke mobilnya dan menyalakan mesinnya. Beberapa detik Ia melihat dua perempuan itu di luar yang berdiri saling berhadapan, setelah merasa cukup Reva pun menjalankan mobilnya keluar dari gerbang rumah itu. Entah kenapa setelah tahu Ivana sering jahat pada Vanessa, Reva jadi tidak enak hati dan khawatir Ivana semakin semena-mena pada Vanessa.
Sesampainya di apartemen, Reva sedikit terkejut dengan kehadiran Papanya. Pria itu sudah pasti tahu sandi apartemennya, jadi bisa masuk tanpa kunci sekalipun. Terlihat Papanya sedang menonton TV, tapi yang membuat Reva bingung adalah penampilan Papanya yang sudah rapih dengan jas.
"Papa dari kapan di sini?" tanya Reva sambil duduk di sebelahnya.
"Sudah dari tadi, Papa nungguin kamu ih." Papanya terlihat kesal, tapi tidak serius juga.
"Kenapa nungguin aku? Kenapa juga Papa gak bilang mau kesini?"
"Papa mau ajak kamu makan malam sama seseorang di restoran, mejanya juga sudah dipesan dari kemarin. Kenapa kamu juga baru pulang?"
"Aku pulang kuliah langsung jenguk temen yang sakit, emang agak lama di sana jadi baru pulang. Emangnya mau makan malam sama siapa?" Tumben sekali pikirnya Papanya itu mengajaknya, biasanya jika dengan klien kerja kan Reva tidak suka diajak.
Papanya tersenyum menyeringai, "Ada deh," sahutnya.
__ADS_1
Tatapan Reva memicing, reaksi Papanya terlihat seperti seseorang yang sedang kasmaran, "Jangan-jangan Papa mau kenalin aku sama pacar Papa ya?"
"Eh kok kamu tahu sih?"
"Tuh kan benar, cie jadi sudah punya pacar nih. Siapa-siapa?" tanya Reva penasaran mendesak sampai menarik-narik tangan Papanya.
"Sebenarnya bukan pacar juga, tapi kami cukup dekat. Itu loh yang waktu Papa ceritain kalau Papa tertarik sama dia, namanya Intan."
"Oh yang itu." Reva menganggukan kepalanya masih ingat walau sudah lumayan lama.
"Kamu mau ikut, kan?"
"Ck mau lah, aku harus kenal pokoknya sama cewek yang deket sama Papa. Harus aku lihat gimana wajah apalagi sifatnya."
"Hahaha kamu bisa saja, ya sudah sana siap-siap. Tiga puluh menit ya, nanti takut telat."
"Ih kok cepet banget," rengek Reva protes. Tetapi perempuan itu segera masuk ke kamarnya untuk bersiap, Ia pokoknya harus ikut makan malam penting ini.
Di pukul tujuh malamnya mereka pun berangkat ke restoran bintang lima yang ada di sebuah gedung tinggi. Papanya bilang waktu bertemu di sana memang jam segini, tapi Papanya sudah bersiap satu jam lebih awal sanking terlalu semangat dan sekalian menjemput Reva dahulu.
"Kok aku deg-deg an ya Pah?" tanya Reva yang berjalan di sebelah Papanya. Mereka sedang naik lift menuju lantai tempat makan fancy itu.
"Kok kamu yang deg-deg an? Harusnya Papa dong," sahut Papanya. Tidak bisa menahan tawa melihat reaksi putrinya itu.
"Aku juga aneh kenapa deg-deg an begini, mungkin aku mau ketemu calon Mama tiri."
"Kamu terlalu jauh Reva, belum pasti juga dia mau sama Papa."
"Ck jangan putus asa dong, aku yakin Papa juga pasti sudah berjuang kan deketin dia?" Reva kan waktu itu memberikan beberapa masukan dan dukungan pada Papanya, yakin jika Papanya pun melakukannya.
"Iya sih, tapi Papa gak tahu apa dia sudah ada perasaan sama Papa atau belum." Papanya terlihat rendah hati sekali, padahal dari pria itu tidak ada satu pun yang minus.
__ADS_1
"Semoga aja."