
"Ekhem kayanya wortel nya udah semua, gue bawa ke belakang dulu ya." Tetapi tangan Reva langsung ditahan Rafael, membuatnya jadi tidak pergi. Hanya saja Reva mengalihkan pandangan kerena malu harus menatap Rafael yang sudah berdiri di depannya.
"Selama ini kita sudah hidup bersama, banyak kejadian juga sudah kita lewati. Mungkin karena itu buat aku terbiasa sama kamu, aku juga sadar sekarang orang yang aku sukai itu cuman kamu Reva," ungkap Rafael jujur.
"Terus gimana sama Dinda?" Reva tentu tahu Rafael menyukai musuh bebuyutannya itu.
"Aku sudah tolak dia dari lama, kamu pasti baru tahu ini."
Reva menatap Rafael tidak menyangka, "Serius lo tolak dia? Jadi si Dinda yang nyatain cintanya sama lo?" Jadi mereka saling menyukai? Reva pikir hanya Rafael, tapi tanpa diduga Dinda pun memiliki perasaan.
"Aku baru sadar jika selama ini Dinda cuman manfaatin aku, maaf karena dulu sempat gak percaya. Mungkin dia ngerasa aku menjauh, Dinda pun jadi berbalik yang suka deketin aku lebih dulu. Terus tanpa diduga, dia malah nyatain perasaannya. Aku pikir dia bercanda dan cuman mainin aku lagi, tapi katanya itu dari dalam hati dia."
Mendengar cerita itu membuat Reva menelan ludah kasar, dadanya tiba-tiba merasa panas saja ada perempuan yang tertarik pada suaminya, "Bukannya bagus perasaan lo berbalas? Kenapa gak Terima dia aja?" Rasanya Reva tidak rela sekali mengatakan ini, tapi Ia hanya sedang menguji Rafael.
"Karena aku mikirin kamu." Rafael mengatakan itu seperti Reva yang tadi mengatakan untuknya.
"Kenapa?" Reva menunggunya dengan detak jantung cepat.
"Aku mau fokus sama kamu, aku sadar kalau orang yang aku suka itu kamu."
"Lo gak bohong, kan?"
"Menurut kamu aku lagi bohong sekarang?" tanya Rafael balik.
Entahlah, ekspresi wajah Rafael itu menurut Reva sangat sulit dibaca. Tetapi dari tatapan dalamnya itu, mampu membuat Reva berdebar dan merasa jika Rafael sekarang sedang serius. Mereka sebelumnya tidak pernah bicara sedalam ini. Suasananya pun tiba-tiba berubah.
"Gimana dengan Reva? Apa Reva juga ada perasaan ke aku?" Rafael tidak mau banyak berharap, tapi Ia hanya ingin tahu saja bagaimana perasaan perempuan itu kepadanya.
"Gak tahu," Jawab Reva pelan.
"Huft ya sudah tidak papa, aku bakal tungguin Reva." Setelah mengatakan itu, tanpa diduga Rafael malah mengecup tangannya.
"Ih Rafael jangan!" tolak Reva sambil menarik tangannya itu.
"Kenapa?" Rafael terkejut sendiri mendapatkan penolakan itu, apakah Reva tidak menyukainya?
__ADS_1
"Tangannya kotor," cicit Reva sambil menahan malu.
Rafael menghela nafasnya lega, pria itu pikir Reva menolaknya tapi ternyata dengan alasan lain, "Gak papa kok," ucapnya.
Rafael lalu mengambil alih ember berisi beberapa wortel yang sudah di cabut tadi oleh Reva, "Sini biar aku bawain, terus ini di kemanain?" tanyanya.
"Di ke mbok in di dapur, katanya mau buat sayur untuk nanti siang."
"Oh ya sudah aku ke dapur dulu."
Reva menatap suaminya itu dengan senyuman tipisnya, Ia sedang salah tingkah sekarang karena kejadian tadi bersama Rafael. Reva lalu tidak sengaja melirik ke gazebo, terkejut karena di sama ada Omanya. Apakah wanita paruh baya itu menonton dari tadi? Jika pun benar, ini benar-benar memalukan.
"Kamu sudah baikkan dengan Rafael?" tanya Omanya saat melihat Reva menghampirinya.
"Oma lihat ya dari tadi?" protes Reva dengan bibir cemberut.
"Oma kan dari tadi juga duduk di sini, ya pasti lihat dong," jawabnya sambil terkekeh kecil. Antara gemas tapi juga membuatnya nostlagia pada kejadian saat muda dulu.
"Ih Oma jangan ngetawain dong," rengek Reva, Ia kan sangat malu.
"Gak papa, Oma malah senang lihat kalian bisa baikkan dan akur lagi. Jadi salah paham itu sudah selesai?"
"Bagus lah kalau begitu, kalian memang butuh waktu bicara berdua untuk menyelesaikannya. Sudah ya jangan ngambek lagi, kasihan pasti suami kamu itu kepikiran terus."
"Hm."
"Sudah sana kamu mandi, kotor ih." Omanya sampai mengedikan bahu melihat penampilan cucunya itu, tapi merasa gemas juga karena mengingatkannya saat Reva kecil dulu yang suka kotor-kotoran main tanah.
"Tapi tadi pagi udah mandi, masa sekarang mandi lagi?"
"Terserah kamu mau mandi atau enggak, yang penting ganti baju aja."
"Iya, ya sudah aku masuk dulu. Oma mau masuk juga?"
Omanya menggeleng, "Enggak, Oma mau santai di sini aja." Gazebo yang berhadapan langsung dengan kolam ikan itu memang tempat terbaik untuk bersantai dan menenangkan diri, tempat favorit di rumahnya pun di sana.
__ADS_1
Reva menaiki tangga menuju kamarnya, Ia tidak menemukan Rafael di dalam, entah kemana suaminya itu. Melihat dirinya yang memang lumayan kotor, Reva pun memutuskan untuk mandi lagi. Ia memakai baju santai sambil menggelung rambutnya, lalu turun lagi menuju dapur. Ternyata benar dugaannya jika suaminya itu ada di sana.
"Lagi apa Rafael?" tanya Reva menghampiri. Memperhatikan pria itu yang terlihat lihai memotong wortel.
"Mau buat sayur," jawab Rafael tanpa menatap karena sedang fokus.
"Terus mbok dimana?" Reva memperhatikan dapur, tapi pembantu tua di rumah ini tidak terlihat.
"Mbok katanya pusing, terus aku minta dia istirahat aja."
"Ya ampun, mungkin tadi dia panas-panasan bareng gue di belakang." Reva jadi merasa bersalah karena meminta pembantu itu menemaninya, padahal mbok punya kesibukan lain.
"Terus kamu gak papa, kan?"
"Hah emangnya gue kenapa?" tanya Reva balik.
"Kamu gak ngerasa pusing juga?" Rafael juga masih ingat istrinya itu tadi saat di belakang tidak memakai topi atau penutup kepala.
"Oh enggak kok, gue kan kuat."
"Bagus deh, tapi nanti jangan panas-panasan lagi."
"Iya." Walaupun seperti sedang dinasehati layaknya anak kecil, tapi Reva tetap senang mendapat perhatian begitu dari Rafael.
Reva pun berinisiatif membantu, awalnya Rafael menolak tapi Reva tetap memaksa. Akhirnya Reva pun hanya diberikan tugas mudah, yaitu mencuci sayuran yang tadi di petik nya di belakang. Mereka pun melakukan pekerjaannya masing-masing sambil tetap mengobrol.
"Terus gimana hubungan kamu sama Lucas?"
Ditanyai seperti itu, membuat Reva sejenak menghentikan pekerjaannya, "Sudah selesai lah, malahan Om Dion marahin Lucas dan bakalan jagain dia buat gak gangguin gue lagi."
"Bagus deh kalau Om Dion pengertian." Rafael menduga jika pria itu tidak mau putranya mengganggu hubungan orang lain, apalagi anak dari klien kerjanya.
"Ya semoga aja di Lucas itu gak ganggu lagi atau maksa, tapi sekarang gue jadi khawatir."
"Kenapa? Takut dia nyebarin berita kalau kita suami istri? "
__ADS_1
"Iya."
Rafael lalu mendekati Reva dan memeluknya dari belakang, sikapnya itu sangat berani karena cukup intim, "Memang kenyataannya kita suami istri, lagian kita juga sebentar lagi lulus, aku sudah gak peduli rahasia kita itu bocor."