
Ini sudah hampir dua pekan Rafael kembali ke Amerika, Reva pun harus menjalani aktivitas nya sendirian lagi. Saat bersama Rafael, Reva akan bersikap manja dan bergantung. Tetapi karena sekarang sendirian lagi, jadi Ia pun harus berani melakukannya sendiri.
"Gimana sama kerja partime kamu di restoran itu?" tanya Reva.
Sekarang Ia dan Vanessa sedang makan siang di kantin Kampus, tadi selesai mengikuti kelas dan sekarang sedang mengisi perut yang keroncongan. Mereka terus ber sama-sama, pertemanan pun semakin erat saja.
"Lancar, aku juga betah kerja di sana," jawab Vanessa.
"Terus biasanya kalau kerja, pulangnya suka jam berapa?"
"Biasanya sih jam sepuluh malaman."
"Kamu pasti capek ya? Apalagi kalau misal besoknya ada kelas."
Vanessa mengangguk, "Capek sih iya, tapi kerja juga penting buat aku karena untuk biaya kuliah."
"Semangat ya," ucap Reva sambil menepuk punggung tangannya pelan.
"Iya Reva, aku selalu semangat kok. Tapi kadang aku pernah berpikir, mungkin aku berhenti kuliah aja atau pindah," ungkap Vanessa pahit.
"Loh kenapa?" tanya Reva terkejut.
"Kayanya aku salah masuk Kampus, karena di sini kan Kampus paling bergengsi di Indonesia. Biayanya juga sangat mahal per semester, sedangkan aku masuknya gak lewat prestasi," jawab Vanessa.
"Yah jangan dong, terus kalau kamu pindah aku sama siapa?" tanya Reva setengah merengek. Sebenarnya Ia berteman dengan semua orang, tapi yang paling dekat dengannya ya hanya Vanessa.
Vanessa yang mendengar dirinya sangat dibutuhkan membuatnya tidak bisa menahan senyuman, "Tapi aku juga emang gak mau pindah, soalnya gak mau jauhan sama kamu."
"Oh ya?"
"Iya, berteman sama orang sebaik kamu itu adalah hal luar biasa untuk aku. Aku benar-benar beruntung bisa ketemu Reva, yang selalu ada saat aku membutuhkan ataupun enggak." Vanessa terlihat tulus saat mengatakannya.
"Kamu bisa saja," kekeh Reva malu-malu.
Reva pun melanjutkan lagi makannya, siang ini Ia makan dengan menu paketan khas pecel. Saat sedang asik mengunyah daging ayam gorengnya, Ia tidak sengaja melihat ternyata di ayam gorengnya itu masih ada darah dan belum matang.
Perutnya langsung bergejolak seperti akan mengeluarkan sesuatu, Reva pun langsung beranjak dan pergi dari sana. Mencari kamar mandi terdekat. Dengan buru-buru Ia pun masuk ke salah satu bilik kamar mandi, lalu memuntahkan makanan yang tadi dikunyah nya itu ke kloset.
"Hweekk!"
Setelah merasa lebih baik dan sudah dikeluarkan, Reva pun keluar dari bilik kamar mandi. Ternyata Vanessa mengikutinya, perempuan itu terlihat khawatir melihatnya. Reva hanya tersenyum tipis lalu membasuh wajahnya di wastafel.
__ADS_1
"Reva, kamu gak papa?" tanya Vanessa.
"Gak papa kok," jawabnya.
"Kamu sakit ya? Wajah kamu kok jadi pucat gitu ya?"
Reva lalu melihat ke arah cermin di depannya, dan ternyata benar kini wajahnya jadi agak pucat. Aneh sekali, padahal tadi tidak apa-apa. Reva lalu berkumur untuk menghilangkan rasa tidak enak di mulutnya itu. Setiap membayangkan ayam goreng yang belum matang tadi, selalu membuatnya mual.
"Ayam gorengnya belum matang, masih ada darah, aku jadi mual dan gak nafsu makan," ucap Reva memberitahu.
"Ya ampun, terus kamu muntahin tadi?"
"Iya, perut aku sampai gak enak."
"Ya sudah kita pulang sekarang aja yuk, lagian kan gak ada kelas lagi," ajak Vanessa.
Vanessa pun langsung dengan sigap menggandeng tangan Reva, berjalan di sisinya menjaganya khawatir kenapa-napa. Vanessa juga bahkan sampai membawakan tas Reva yang tadi sempat ditinggalnya di kantin, untung saja tidak ditinggalkan.
"Kamu punya obat gak di apartemen?" tanya Vanessa.
"Gak tahu, kayanya ada," jawab Reva asal.
"Boleh."
Reva pun berusaha kuat menyetir pulang, walaupun kepalanya berdenyut pusing. Vanessa ikut bersamanya, mungkin temannya itu khawatir kepadanya dan ingin menjaganya sebentar. Tidak lupa sempat berhenti di apotek, untuk membeli obat.
"Tunggu," cegah Reva sebelum Vanessa turun dari mobil.
"Iya ada apa?"
"Kamu bisa sekalian beliin test pack gak?"
"Apa?!"
Reva juga tidak tahu kenapa terpikirkan untuk membeli benda kecil itu, hanya melintas begitu saja di kepalanya. Setelah diingat lagi, datang bulannya belum datang sampai saat ini padahal sudah dua minggu lebih. Reva hanya ingin memastikan sesuatu.
"Reva, kamu hamil?" tanya Vanessa dengan mata berbinar nya.
"A-aku gak tahu, tapi aku terlambat datang bulan," jawab Reva sedikit gugup.
Vanessa tersenyum-senyum, "Ya ampun, aku bakalan seneng sih kalau misal kamu hamil," ujarnya.
__ADS_1
Lagi pula kan Reva sudah menikah, jadi tidak masalah dong kalau semisal benar hamil. Hanya saja memang sangat disayangkan kalau Reva dan suaminya itu harus menjalani hubungan jarak jauh, tidak bisa terus bersama.
"Kamu berani gak? Kalau malu gak papa gak usah," ucap Reva, tidak enak juga menyuruh itu.
"Aku gak malu kok, nanti sekalian aku beliin ya. Kamu butuh berapa test pack nya?" tanya Vanessa.
"Dua aja, buat mastiin bener enggaknya."
"Oke aku beliin, tunggu ya." Vanessa terlihat tidak keberatan, lagi pula dirinya sendiri yang berinisiatif membelikan.
Setelah menunggu sepuluh menit lamanya, Vanessa pun akhirnya kembali sambil membawa kresek putih. Perempuan itu setelah duduk langsung memberikan kresek putih berisi pesanannya pada Reva.
"Nanti kalau sudah sampai di apartemen mau langsung di cek? Tadi aku dikasih tahu sama penjaga apotek gimana cara gunain nya," ucap Vanessa.
"Oke nanti bantu aku ya."
"Siap."
Bukan hanya Vanessa yang berdebar-debar, tapi Reva pun lebih gugup dan cemas di waktu bersamaan. Sesampainya mereka di apartemen, terlebih dahulu menyimpan barang-barang di sofa. Reva lalu masuk ke kamar mandi, sedangkan Vanessa menunggu di luar.
Ceklek!
"Gimana hasilnya?" tanya Vanessa langsung.
"Belum, kita harus tunggu. Aku langsung gunain dua-duanya, biar jelas," jawab Reva sambil menunjukan dia test pack nya.
"Oke."
"Aku mandi dulu ya, gerah."
"Iya, sini test pack nya biar aku simpen." Tanpa rasa jijik Vanessa pun mengambil alih test pack itu, Ia lalu kembali ke ruang utama dan menyimpan dua benda kecil itu di meja.
Sambil menunggu Reva mandi, Vanessa tidak diam saja atau santai. Perempuan itu membantu membereskan apartemen Reva, kebiasaannya setiap datang kesini ya pasti bersih-bersih. Ini atas kemauannya sendiri, tanpa perintah dari Reva.
Saat sedang membersihkan debu di dekat sofa, pandangan Vanessa tidak sengaja tertuju ke meja. Kedua matanya langsung terbelak melihat hasil akhir dari dua test pack itu. Dengan perasaan senang, Ia pun segera membawanya dan mendekati kamar mandi. Tepat saat itu, Reva pun baru selesai mandi.
"Reva-Reva!" panggil Vanessa agak keras.
"Kenapa?"
"Lihat ini, garis dua. Ya ampun Reva, selamat ya kamu hamil. Aku ikut senang." Vanessa pun berhambur memeluk temannya itu, sedangkan Reva masih syok terdiam tidak menyangka mendengarnya.
__ADS_1