Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
91 Agar Tidak Ngambek


__ADS_3

Dari tadi Reva tidak menemukan keberadaan Rafael, Kira-kira kemana suaminya itu? Ia memang sedang ngambek, jadi enggan juga menghubungi karena nanti dianggap terlalu khawatir. Hari masih sore, jadi Reva akan ber jalan-jalan ke bawah tempat kolam renang. Dari lantai atas Ia melihat sedang banyak anak-anak berenang di sana.


"Gak berenang mbak?" tanya salah seorang wanita paruh baya pada Reva, sepertinya menyadari dirinya dari tadi hanya diam berdiri di sisi kolam.


"Hehe enggak ah Bu, dingin," jawab Reva sambil tertawa kecil.


"Siapa namanya? Mbak artis ya?"


Ditanyai seperti itu membuat Reva salah tingkah sendiri, "Nama saya Reva, tapi saya bukan artis Bu." Tetapi Reva cukup bangga dan senang diduga begitu, mungkin karena wajahnya cantik jadi mendukung.


"Mirip artis yang suka main sinetron," celetuk Ibu itu masih memuji.


"Haha Ibu bisa saja, tapi makasih ya pujiannya."


"Iya neng emang cantik. "


Reva kembali menatap ke depan pada anak-anak yang sedang asik berenang di salah satu kolam yang kedalamannya rendah, "Ibu lagi nyantai juga di sini?" tanyanya kembali memulai obrolan.


"Iya sekalian jagain cucu Ibu, tuh yang cewek pakai ban bentuk bebek warna kuning." Si Ibu menunjuk salah satu anak di tengah kolam.


"Cucu Ibu? Aku kira anaknya," celetuk Reva.


"Haha kamu bisa saja, tapi Ibu sudah tua. Anak Ibu sudah menikah dan sekarang sudah punya cucu umur lima tahun."


"Tapi Ibu kelihatan masih muda, awet muda banget."


"Terima kasih ya pujiannya, Ibu seneng deh dipuji muda begitu."


Keduanya pun asik mengobrol, padahal baru pertama bertemu tapi sudah menyambung mengobrol ini dan itu. Tetapi obrolan mereka harus terhenti saat mendengar deheman dari seseorang, keduanya pun langsung beralih melihat pada seorang pria tampan berpakaian rapih khas kantoran.


"Eh Evan kamu sudah pulang, akhirnya pulang juga," ucap Bu Tamara berdiri dari duduknya, dan pria tampan itu pun menyalami tangannya.


"Maaf ya Bu aku repotin, katanya baby sitter nya baru bisa kerja besok."


"Gak papa, lagian kan Celine cucu Ibu, Ibu seneng kok jagain dia." Perhatian Tamara teralih pada Reva, melambaikan tangannya meminta perempuan muda itu mendekat, "Nah Evan, ayo kenalan sama Reva."

__ADS_1


Dua orang itu pun saling bertatap lalu membalas senyuman satu-sama lain dengan canggung. Mereka pun saling menjabat tangan sambil menyebutkan namanya masing-masing.


"Tadi Ibu gak sengaja ketemu Reva di sini, terus kami ngobrol deh lama sanking asiknya hehe," ucap Tamara sambil tertawa kecil.


"Kamu penghuni apartemen ini juga Reva?" tanya Evan.


"Iya, aku sudah beberapa bulan tinggal di sini." Reva menjawabnya dengan ramah.


"Oh kalau saya baru hari ini, jadi masih baru."


"Semoga betah ya," ucap Reva. Jangan salah paham, mereka kan sekarang otomatis jadi tetangga juga.


"Kamu tinggal di lantai berapa memangnya?" tanya Evan.


"Aku lantai sepuluh."


Evan mengangguk, "Saya dua lantai di atas kamu."


"Wah deket dong ya, berarti nanti kalian bisa main ke apartemen masing-masing," celetuk Tamara entah apa maksudnya, Reva hanya tersenyum kikuk tidak protes karena takut dianggap tidak sopan.


"Ini siapa Papa? Apa pacar baru Papa?" tanya Celine sambil menunjuk Reva.


"Hah? Haha bukan sayang, ini tante Reva." Evan sempat gugup dianggap begitu, Ia pun mencoba menjelaskan dengan baik kepada putrinya karena khawatir membuat Reva tidak nyaman.


Reva membungkukan badannya, "Hallo Celine, kamu cantik banget," puji nya karena memang anak kecil itu sangat cantik dan menggemaskan.


"Makasih, tante juga cantik mirip Mama." Setelah mengatakan itu, Celine pun bersikut sembunyi di belakang kaki Evan sambil tersenyum malu-malu.


Melihat tingkah menggemaskan nya itu membuat Reva terhibur sendiri. Padahal Ia tidak terlalu suka anak kecil, tapi sepertinya Celine anak yang baik dan tidak nakal, jadi Ia pun suka. Melihat waktu yang sudah hampir malam, Reva memutuskan pamit pergi lebih dahulu. Mungkin nanti akan bertemu mereka lagi.


Ceklek!


"Surprise."


Reva tersentak kaget saat masuk ke dalam apartemen mendengar suara keras itu, ditandai dengan munculnya Rafael yang tiba-tiba hadir sambil menyodorkan buket bunga mawar besar ke arahnya. Rafael hanya tertawa kecil tanpa merasa bersalah melihat ekspresi keterkejutan di wajah istrinya itu.

__ADS_1


"Ih ngagetin aja!" dengus Reva sambil mengusap dadanya.


"Hehe maaf, namanya juga kejutan."


Reva pun menerima buket bunga mawar itu dengan sedikit kesusahan karena bentuknya yang lumayan besar, "Apa ya maksudnya ini?" tanyanya dengan nada masih ketus, berusaha tidak terlalu mudah untuk luluh.


"Biar kamu gak ngambek lagi," Jawab Rafael dengan kedua tangannya yang dimasukan ke dalam saku celana.


"Oh jadi ceritanya lagi nge bujuk?"


"Iya," angguk Rafael, "Jadi apa sekarang masih ngambek?"


"Kalau cuman dikasih bunga doang kayanya belum bisa bujuk aku deh," ucap Reva mengkode tanpa menatap Rafael.


"Terus kamu mau apalagi?"


Seringai lalu terukir di bibir Reva, "Shoping," jawabnya cepat.


Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Rafael, "Kamu ini emang gak bosen apa shoping terus? Mau belanja apalagi emangnya?" tanyanya lelah.


"Make up aku ada beberapa yang udah mau habis, jadi pengen beli lagi."


"Habisnya cuman satu tapi nanti kalau di sana pasti kalap belinya lima," celetuk Rafael yang langsung diketawai Reva.


"Ayolah kan katanya mau bujuk aku biar gak marah lagi," rengek Reva sambil menggoyangkan tangan Rafael membujuknya dengan gaya menggemaskan.


Melihat itu membuat Rafael tidak bisa menahan senyumannya, "Dasar ngelunjak ya, ya sudah deh," desahnya pasrah.


"Yeay asik, apa sekarang shoping nya? Gimana kalau nanti sekalian makan malam di luar aja?"


"Iya-iya." Rafael hanya mengikuti saja semua kemauan istrinya itu, yang terpenting kan Reva tidak ngambek lagi.


"Okey aku siap-siap dulu ya." Reva terlihat bersemangat, wajahnya pun sudah tidak cemberut lagi. Padahal kalau dilihat perempuan itu sudah tidak marah lagi, tapi kan kemauannya harus terpenuhi dulu agar benar tidak ngambek.


Sebelum perempuan itu pergi, Rafael menarik tangannya lalu berbisik di telinganya, "Tapi nanti setelah shoping aku minta bayarannya ya."

__ADS_1


Reva menatap Rafael bingung, "Bayaran apa?" Tetapi tanpa pria itu menjawab, hanya dengan seringai nakal di bibirnya saja sudah membuat Reva paham jika bayarannya itu ke hal yang berbau dewasa. Reva pun memukul pelan tangannya lalu berlari kecil ke kamarnya.


__ADS_2