Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Bisa Bersama Lagi


__ADS_3

Rafael bangun lebih dulu, saat menoleh ke samping langsung dibuat tersenyum melihat Reva yang masih tidur. Bibirnya sampai terbuka sedikit, terdengar dengkuran kecil juga. Sepertinya benar-benar kelelahan semalam, jadi membuatnya segan untuk membangunkan. Rafael pun turun dari ranjangnya untuk mandi.


"Aku kira kulkasnya akan kosong," ucap Rafael melihat isi lemari pendingin di apartemen. Ia jadi ingat saat Reva bilang bisa masak, membuatnya semakin yakin jika sepertinya istrinya itu sudah bisa masak.


"Tidak apa aku sekarang yang buat sarapan dulu, kasihan Reva pasti capek." Rafael pun memutuskan membuat nasi goreng, sudah lama juga tidak membuatnya karena di Amerika bahan-bahannya itu yang tidak lengkap.


"Aku bangunkan sekarang saja deh."


Rafael lalu masuk ke kamar Reva sambil membawa nampan dengan berisi sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Rafael terlebih dahulu menyimpan nampan itu di meja terdekat, setelahnya duduk di sisi ranjang untuk membangunkan.


"Reva bangun, sudah mau siang," ucapnya sambil menepuk-nepuk tangan Reva, tapi tidak ada tanggapan juga,


"Astaga apa aku semalam terlalu bersemangat ya?" Batin Rafael.


"Reva," panggil Rafael belum menyerah.


Perlahan kedua mata yang memiliki bulu mata lentik itu pun terbuka, Rafael pun tersenyum menyambutnya. Khawatir Reva tidur lagi, Rafael pun menarik tangannya untuk duduk. Dengan perhatiannya juga Rafael merapihkan rambut panjang Reva yang berantakan.


"Kamu tidur nyenyak banget, sampai ngorok," celetuk Rafael.


"Masa sih? Aku gak ngerasa ah," ucap Reva dengan suara serak khas bangun tidur.


"Pfftt namanya juga orang tidur, ya gak bakal nyadar lah." Tetapi Rafael tidak terganggu, Ia mengerti jika istrinya ini memang kelelahan.


"Sekarang jam berapa?" tanya Reva.


"Mau jam delapan, kita kan mau ke rumah Bunda sama Ayah, terus nanti sorenya ke rumah Papa."


"Hm."


"Nih sarapan dulu, aku buatin nasi goreng." Rafael lalu membawa nampan itu lagi, dan menyimpannya di pangkuan Reva.


Reva menatap makanan itu dalam diam, "Aku lupa kalau semalam sudah janji bakal buatin kamu sarapan," gumamnya.

__ADS_1


"Iya gak papa, kan nanti juga bisa, makan malam kamu deh yang buat."


"Ya sudah."


Merasa malas walau hanya menyendokan nasi, Reva pun merengek pada suaminya itu untuk disuapin. Dan Rafael hanya menggelengkan kepala walau tetap mengabulkan keinginan istrinya itu. Mereka pun akhirnya makan berdua, kadang saling menyuapi.


"Sudah kenyang?" tanya Rafael memastikan.


"Sudah." Sekarang Reva sudah tidak mengantuk lagi, perutnya yang lapar pun sudah terisi.


"Ya sudah sekarang mending mandi, nanti jam se puluhan kita berangkat."


"Kok jam sepuluh? Masih lama dong."


"Kita beres-beres dulu, apartemen kamu lumayan berantakan."


Reva pun menyengir kuda, "Hehe aku emang kadang bersih-bersih sih, tapi gak terlalu kotor juga, kan?"


Memang sih tidak terlihat kotor, namun tetap saja berdebu jika tidak setiap hari bersih-bersih. Rafael tidak marah, mengerti jika istrinya itu mungkin terlalu sibuk kuliah. Kalau dulu kan Rafael yang sering bersih-bersih, sekarang Reva yang harus mengerjakannya sendiri.


"Iya, biar aku cuci piring dulu."


Reva menatap kepergian suaminya itu dengan senyuman tipis. Rasanya sangat senang bisa melihat Rafael ada di sini lagi, pria itu bisa melengkapi dirinya dan mengurusnya lagi seperti dulu. Reva lalu berpikir sesuatu, mungkin selama Rafael di sini Ia akan manja saja. Kapan-kapan lagi, kan?


"Sudah bersih-bersihnya?" tanya Reva yang baru keluar kamar. Terlihat Ia sudah rapih dan cantik, bahkan berdandan sedikit.


"Belum, aku baru selesai cuci piring," jawab Rafael dari pantri.


"Ya sudah biar aku rapihin barang-barang, kamu yang sedot debu ya?" Reva memintanya sambil menunjukan ekspresi wajah lugu, meminta dengan manis pada suaminya itu.


"Hah iya-iya," desah Rafael pasrah. Kalau sudah digoda seperti itu, siapa juga yang tidak luluh.


Keduanya pun mulai membersihkan apartemen dengan bekerja sama. Rafael sesekali memperhatikan Reva, rasanya istrinya itu agak berbeda karena sekarang terlihat rajin. Kalau dulu kan selalu tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah, tapi sekarang dengan sukarela mau membantunya.

__ADS_1


"Kenapa lihatin aku terus? Aku cantik ya? Memang," ucap Reva penuh percaya diri sambil mengibaskan helaian rambutnya.


Rafael terkekeh kecil, "Kamu memang cantik, tapi aku cuman bingung sesuatu."


"Bingung apa?"


Rafael pun memilih menghentikan dahulu pekerjaannya, "Kayanya banyak yang terjadi ya selama aku ninggalin kamu sendirian di sini. Kamu bener-bener beda dari yang dulu. "


Ternyata masih sama jawabannya, "Iya lah harus beda, masa mau gitu-gitu aja. Aku juga kan belajar mandiri selama kamu gak ada, biar gak manja terus. "


"Oke bagus, aku bangga," ucap Rafael sambil memberikan jempol tangannya.


Padahal Reva itu kan dari kecil selalu hidup enak dan dilayani terus, mendengarnya yang mau berubah mandiri dan tidak bergantung terus tentu membuat Rafael pun senang. Tetapi di satu sisi ada rasa sedih juga, karena Rafael tidak akan bisa terus ada di sisinya, menemani Reva di saat perubahan itu.


Ternyata acara beres-beres itu lumayan lama juga, mereka sampai berkeringat lagi. Di pukul sebelas siangnya, pasangan suami istri itu baru berangkat. Tetapi tanpa diduga, di lobi lantai bawah Reva malah tidak sengaja bertemu dengan Evan yang sedang bersama Celine. Reva pun langsung menarik Rafael untuk menghampiri mereka.


"Kak Evan, Celine," panggil Reva lumayan keras sampai menggema di sana.


"Hai Reva," balas Evan sambil tersenyum.


"Hallo Kak Reva," sapa Celine membalasnya dengan riang.


Reva pun mencubit pipi Celine sebentar, "Kalian mau kemana?"


"Mau ke rumah Mama, kalau kamu?" tanya Evan balik.


"Aku juga sama mau ke rumah Bunda." Menyadari Evan yang dari terus melirik seseorang di sebelahnya, Reva pun segera mengenalkan dua orang itu, "Kak Evan dulu pernah bilang pengen ketemu suami aku, nah sekarang sudah ketemu."


Evan terperangah beberapa saat, "Jadi ini suami kamu? Sudah pulang dari Amerika?"


"Tidak, saya kebetulan sedang liburan tahun baru. Di sini mungkin seminggu lebih, nanti habis waktu liburan akan kembali ke Amerika lagi." Rafael lah yang menjawab dengan ramah.


Evan mengangguk lalu mengulurkan tangannya sambil mengenalkan diri, tidak lupa juga putrinya yang Ia minta untuk salim pada pria muda itu. Evan merasa senang sendiri bisa bertemu dengan suami Reva, dari dulu sangat penasaran. Seperti dugaannya di awal, suami Reva sangat tampan, bahkan wajah kedua orang itu hampir mirip.

__ADS_1


"Ini Kak Rafael ya?" tanya Celine sambil tersenyum-senyum, wajahnya seperti familiar di matanya.


Rafael merasa senang karena anak itu masih mengingatnya, Ia pun mencubit pelan pipi Celine, "Hei Celine, kamu makin cantik dan lucu aja ya," goda nya.


__ADS_2