Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
32 Sengaja Menghindari


__ADS_3

"Kerjakan tugas kelompoknya ya, besok sudah dikumpulkan karyanya."


"Baik Bu."


"Ya sudah, sampai bertemu nanti lagi."


Helaan nafas lirih keluar lewat celah bibir Reva, merasa terbebani karena tugas dari guru Seni Budaya itu. Satu persatu murid pun beranjak pulang, berbeda dengan dirinya yang masih duduk di sana sedang memikirkan sesuatu.


"Reva, ayo kita kerjakan sekarang," ajak Lucas.


Reva mengangkat kepalanya menatap pria itu, "Harus sekarang?"


"Iya lah, besok kan sudah dikumpulin." Lucas lalu terpikirkan sesuatu, "Kita ngerjainnya di Kafe Mall aja yuk, sekalian makan."


"Em itu--"


"Kalau gak mau di luar, di rumah lo juga gak papa."


"Jangan deh, di luar aja."


"Ya sudah."


Ica yang kebetulan duduk di depannya berdehem pelan, "Lucas, terus aku gimana dong pulangnya?"


"Sorry ya Ca, kayanya gak bisa nganterin. Gue sama Reva mau langsung ngerjain tugasnya, takut keteteran."


"Huft ya sudah deh gak papa, tapi lain kali berangkat bareng lagi ya."


"Hm." Lucas hanya berdehem tidak meyakinkan.


Reva lalu beranjak dari duduknya sambil menggendong tasnya, Ia berpamitan pada dua sahabatnya. Sebenarnya tidak tega melihat Ica yang memelas, pasti cemburu karena Ia satu kelompok dengan Lucas. Setiap kelompok memang hanya terdiri dari dua orang.


"Kalau di Mall kan bisa sekalian beli bahan-bahannya," usul Lucas.


"Iya sih."


"Reva bisa gak buat tugas begitu?"


"Lumayan ngerti, kalau lo?"


"Bisa kok, tenang aja."


Mereka berangkat menaiki kendaraan masing-masing menuju Mall besar. Seperti biasa sore hari di jam begini cukup banyak remaja yang masih memakai seragam sekolah, memang melepaskan lelah itu paling tepat ke Mall.


Terlebih dahulu keduanya membeli bahan-bahan untuk mengerjakan karya seni itu, setelah dirasa lengkap langsung mencari tempat untuk mengerjakannya. Lucas beranjak untuk membelikan minuman dengan cemilan, sedang Reva hanya duduk saja menunggu.


"Minum dulu."


"Thanks."


Lucas dari tadi tidak bisa menyembunyikan senyumannya, merasa senang karena bisa bekerja sama dengan Reva mengerjakan tugas. Akhirnya mereka bisa bersama lagi, kalau Ia yang berinisiatif lebih dulu, Reva terlihat sekali enggan.


"Nanti kalau udah selesai, gimana kalau kita nonton?" tanya Lucas.


Reva hanya melirik nya sekilas, "Enggak ah, gue pengen langsung pulang," tolak nya.

__ADS_1


"Kenapa? Takut dimarahin bokap nyokap ya pulang telat?" gurau Lucas.


"Enggak juga."


"Reva, lo gak nyaman ya kalau sama gue?"


"Hah?"


"Gue ngerasa sih sikap lo agak dingin dan suka ngehindar gitu, kenapa?"


"Masa sih? Gue orangnya emang gini ah."


"Tapi gue lebih suka pas lo waktu itu yang ramah sampai ngajak gue main ke rumah lo dan berangkat sekolah bareng."


Ternyata si Lucas itu sudah terbawa suasana, padahalkan waktu itu Reva tidak serius karena hanya sedang ingin membuat Rafael cemburu saja. Jadi waktu itu Reva seperti memberikan Lucas harapan ya?


"Tapi kan kita juga gak terlalu dekat."


"Bisa kok deket, kalau Reva gak ketus."


"Kalau boleh jujur, sebenarnya gue emang gak terlalu nyaman sama lo," celetuk Reva.


"Kenapa?"


"Lo terlalu kelihatan suka sama gue, dan gue jadi terbebani."


Lucas mengangguk pelan, "Jujur aja gue emang suka sama lo, malah mungkin dari awal kita ketemu."


"Tapi kemarin gue udah bilang, kan?"


"Kalau temen doang sih gak papa."


"Oke."


Selanjutnya keduanya pun mencoba fokus mengerjakan tugas, saling membantu jika ada kesulitan. Setelah percakapan tadi, suasana selalu menjadi canggung. Kenapa sih si Lucas itu membahasnya? Padahal Reva hanya ingin mengerjakan tugas sekolah saja tanpa membahas hal pribadi.


"Reva."


Perhatian Reva teralih saat mendengar namanya dipanggil. Saat menoleh pada seseorang yang berdiri di sebelahnya, membuatnya terkejut dan langsung beranjak dari duduknya.


"Loh kok Papa di sini?" tanyanya.


"Papa sudah bertemu Manajer Mall, ada sedikit pekerjaan."


"Oh gitu."


"Kamu lagi ngapain di sini? Dan siapa itu?"


Lucas ikut berdiri, "Selamat sore Om, perkenalkan nama saya Lucas. Saya teman sekelasnya Reva."


"Oh teman kelas, Papa kira.."


"Ekhem kita lagi ngerjain tugas sekolah," ucap Reva tidak mau Papanya salah paham.


"Kirain lagi nge-date," celetuk Papanya.

__ADS_1


Kedua mata Reva langsung terbelak, "Ih Papa ngomong apaan sih? Gak mungkin lah haha," bantah nya sambil tertawa canggung.


Berbeda dengan yang ditanggapi Lucas, pria itu langsung merasa sedih karena Reva seperti memang tidak mau berhubungan dengannya, bahkan menolak di depan Papanya langsung. Lucas sedikit malu, tapi Ia mencoba baik-baik saja.


"Iya sih gak mungkin," gumam Papanya. Toh putrinya itu kan sudah menikah, tadi Ia hanya sedang bergurau saja.


"Reva sebentar, aku angkat telpon dulu." Lucas juga pamit pada pria paruh baya itu, lalu sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan.


Setelah Lucas tidak di sana, suasana terasa lebih santai. Reva lalu melirik Papanya, bisa melihat tatapan pria itu yang memicing seperti tidak suka. Reva tahu apa yang dipikirkan Papanya itu.


"Apaan?" tanyanya.


"Beneran kalian lagi ngerjain tugas?"


"Iya lah, tuh lihat karyanya sebentar lagi juga jadi."


Papanya lalu melirik ke arah meja mereka, "Papa kira kamu lagi jalan sama cowok lain, kalian beneran cuma temen kan?"


"Astaga iya Papa, kok kaya gak percaya gitu sih?"


"Papa cuma gak mau kamu mempermainkan pernikahan, Papa juga khawatir kamu malah punya pacar di luar sana, secara gak langsung selingkuh dari Rafael."


"Ck enggak lah." Papanya itu tidak tahu saja jika Rafael juga sedang dekat dengan perempuan lain, hanya main aman saja.


"Rafael katanya lagi keluar kota ya?"


"Iya, dia ada lomba Biologi."


"Pas dia pergi, kamu jangan aneh-aneh di sini."


"Aneh-aneh apaan?"


"Aneh-aneh aja," jawab Papanya, "Setelah tugasnya selesai, langsung pulang. Jangan lanjutkan jalan dengan dia, nanti bisa buat salah paham."


Salah paham bagaimana sih? Toh tidak ada yang tahu jika sebenarnya Reva sudah menikah, memang konyol sekali Papanya ini. Sikapnya jadi mengingatkan Reva pada Rafael yang juga menasehati seperti ini.


"Sudah ah Papa mending pulang, aku juga mau selesain tugasnya," suruh Reva.


"Ingat ya, langsung pulang."


"Iya."


Sebelum Papanya itu pamit, kebetulan Lucas pun sudah kembali. Lucas dengan sopannya menyalami tangan pria itu, hanya ingin memberikan kesan yang baik saja di depan orang tua perempuan yang Ia sukai.


"Papa kamu kelihatan masih muda, dia juga ganteng," ucap Lucas.


"Umur dia udah lima puluh tahunan."


"Wah masa? Tapi kaya gak setua itu."


"Maklum aja dia suka perawatan ke dokter."


"Oh gitu ya."


"Ayo lanjut kerjain, biar cepet selesai," ajak Reva.

__ADS_1


"Iya." Padahal Lucas inginnya mengerjakan dengan santai agar bisa berlama-lama dengan Reva.


__ADS_2