Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
Tidak Tahu Tempat


__ADS_3

"Awas aja ya kalau nanti gak nginep," ucap Alisa dengan nada ketusnya, ngambek.


"Iya Bunda tenang aja, pasti kita bakal nginep kok," sahut Rafael mencoba memberikan pengertian.


"Terus sekarang kalian mau kemana?" tanya Ayah.


"Kita mau ke rumah Papa, sengaja agak sore soalnya Papa biasanya selalu sibuk di kantor." Reva lah yang menjawab.


"Oh iya, kalau gitu nanti titip salam ya untuk Papa kamu Reva."


"Siap Yah."


"Hati-hati di jalan," ucap Bundanya.


"Iya, kalau gitu kita pulang dulu," pamit Rafael. Mereka pun menyalami tangan kedua orang tuanya, setelahnya masuk ke mobil.


Mereka tadi cukup lama main di rumah kedua orang tuanya, tapi Bunda dan Ayah terlihat enggan sekali membiarkan pulang. Sepertinya nanti Rafael harus menyempatkan waktu juga jalan-jalan menghabiskan waktu bersama, mumpung sedang liburan.


"Kenapa kita gak nginep aja?" tanya Reva. Bukan Ia yang menolak, tapi suaminya ini.


"Nanti aja, sekarang aku masih pengen habisin waktu berdua sama kamu," jawab Rafael sambil tersenyum lebar.


"Kan sama aja, di sana juga tetep bareng."


"Enggak, takut Ayah sama Bunda ganggu."


Kernyitan terlihat di kening Reva, "Ganggu apa emangnya?"


"Ganggu kita bermesraan lah, kan gak enak kalau diganggu. Mending di apartemen, berdua jadi gak ada yang ganggu hehe."


Setelah mendengar penjelasan itu, membuat Reva mendengus dan mencebikkan bibirnya. Memang pikiran suaminya ini ke arah dewasa mulu, padahal dulu Rafael tidak seperti ini. Untung saja Reva pun sudah terbiasa, sudah menerima juga sikap nakal Rafael itu.


"Kapan-kapan kamu ya yang liburan ke Amerika," ucap Rafael mengalihkan obrolan.


"Gak mau ah jauh," tolak Reva.


"Emang sih jauh, tapi kan sekalian jalan-jalan aja di sana. Kamu sudah pernah ke Boston belum?"


"Belum sih, palingan New York. Ah sama aja." Lagi pula Reva tidak terlalu suka liburan ke negara Paman Sam itu, jauh sekali dari ekspetasi nya.


"Ya gak papa dong, kan mumpung aku tinggal di sana juga. Kapan lagi bisa jalan-jalan sama aku. Yaya?" bujuk Rafael belum menyerah.


"Hah lihat aja nanti deh," desah Reva.

__ADS_1


Masalahnya perjalanannya sangat panjang, Reva malas melewati perjalanan lama seperti itu, badannya selalu pegal-pegal. Tetapi kalau dipikir kasihan juga Rafael yang selalu menghampirinua lebih dulu, mungkin Reva nanti yang akan kesana.


Sesampainya di rumah Papa, keduanya langsung turun. Saat menanyakan pada pembantu, katanya Papa belum pulang. Jadinya mereka menunggu di ruang utama. Rafael menonton bola, sedangkan Reva sedang melihat-lihat sosial medianya.


"Reva," panggil Rafael tiba-tiba.


"Apa?" tanya Reva tanpa menatap.


"Kamu gak mau ngasih aku hadiah juga gitu?"


Reva pun akhirnya baru menatap Rafael, "Hah?"


"Ekhem tadi kan aku sudah ngasih kamu bunga tuh, kamu gak mau balas hadiahnya?"


"Katanya itu kan sebagai permintaan maaf," ujar Reva.


"Emang sih, tapi setidaknya aku juga pengen dikasih hadiah."


"Mau apa emangnya?" Reva lalu membatin, berpikir suaminya itu perhitungan.


Rafael tersenyum lebar lalu mencondongkan wajahnya, "Kiss aja," pintanya.


"Huh dasar cari kesempatan!" dengus Reva.


"Ayolah, cuman kiss doang," rengek Rafael.


"Apaan di pipi? Enggak, di bibir," tegas Rafael.


Reva berdecak lagi melihat suaminya itu yang tidak ada habisnya mencari kesempatan. Tetapi Reva juga tidak mungkin menolak. Mereka kan pasutri, jadi berhubungan romantis begini pasti sudah biasa. Reva pun meminta suaminya itu untuk menutup mata, Ia terlalu malu melakukannya lebih dulu.


"Silahkan Reva," ucap Rafael menggoda, menunggunya dengan tidak sabaran.


Kedua mata Rafael memang terpejam, tapi Ia bisa merasakan perlahan perempuan itu yang mendekatkan wajahnya. Saat bibir mereka bertemu, dengan cepat Rafael pun menahan tengkuk Reva dan menarik tubuhnya mendekat. Perempuan itu pun memberontak, tapi tidak Rafael lepaskan.


"Hmmmp!"


Reva menggerutu di dalam hati, memang Rafael ini tukang cari kesempatan. Padahal tadinya setelah Ia memberikan kecupan singkat akan selesai, tapi Rafael memanfaatkan kesempatan itu dengan menahannya. Sekarang pria itu sedang menikmati bibirnya dengan Khidmat.


"Ekhem!"


Deheman lumayan keras itu, membuat kegiatan panas mereka terhenti. Rafael langsung melepaskan Reva saat melihat keberadaan Papa mertunya yang entah sejak kapan berdiri di depannya. Rafael meringis menahan malu, apa jangan-jangan mertuanya itu menonton dari tadi?


"Eh Papa, sudah pulang?" tanya Reva mencoba bersikap biasa. Perempuan itu pun beranjak menghampiri dan menyalami tangan Papanya.

__ADS_1


"Dari kapan kalian di sini?" tanya Papa.


"Em beberapa menit lalu kayanya."


"Beneran? Bukan dari tadi, kan?"


"Bu-bukan kok."


Melihat wajah putrinya memerah seperti salah tingkah, membuat Harry berusaha menahan senyumannya. Ia memang terkejut saat datang melihat anak-anaknya itu sedang bermesraan, dadanya sampai berdetak tidak karuan. Canggung saja rasanya melihat putrinya sendiri yang sedang begituan dengan lelaki lain.


"Rafael, kapan kamu pulang? Maaf Papa gak ikut jemput ke bandara," tanyanya.


Rafael ikut beranjak menghampiri, "Aku pulang kemarin malam, dan memang sengaja pulang lebih dulu gak bilang siapapun, biar kejutan," ujarnya.


"Benarkah?"


"Iya, aku juga kaget pas lihat Rafael tiba-tiba ada di apartemen," sahut Reva menjelaskan.


Papa lalu menepuk-nepuk bahu Rafael, "Kamu memang bisa saja Rafael."


Rafael ikut tersenyum, saat teringat sesuatu Ia pun segera membawa paperbag dan memberikannya pada mertuanya, "Ini oleh-oleh untuk Papa, maaf ya gak banyak."


Harry menerimanya dengan senang hati, "Ya ampun Rafael repot-repot beliin, makasih ya."


"Gak papa Pah, bukan apa-apa kok."


Selanjutnya Papanya mengajak anak-anaknya itu makan dahulu, kebetulan mereka memang belum sempat makan malam di rumah Bunda. Papa juga memutuskan makan dahulu, menyisihkan waktu dulu dengan anak-anaknya.


"Kalian mau menginap?" tanya Papa.


"Em kayanya enggak, tapi nanti sebelum aku ke Amerika lagi pasti nginep dulu kok Pah," jawab Rafael.


"Hm begitu ya, tidak papa, Papa paham kok." Walaupun sudah tidak muda lagi, tapi Harry tahu apa yang dipikirkan Rafael. Mereka kan sama-sama laki-laki.


"Terus Rafael mau berapa lama di Indonesia?" tanya Harry lagi.


"Sepuluh harian kayanya Pah."


"Lumayan lama juga," ucap Harry sambil menganggukan kepalanya, "Apa Reva mau ikut?"


Reva yang dari tadi fokus makan langsung mengangkat kepala, "Ikut kemana?" tanyanya.


"Ke Amerika."

__ADS_1


"Enggak lah, kan aku juga kuliah di sini." Sebenarnya Reva juga ingin, tapi jauh dan Ia juga harus kuliah.


Selama sepuluh hari ini pun mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu, pasti akan selalu berdua terus kemanapun itu. Karena nanti setelah berpisah lagi akan sangat lama untuk bertemu lagi, menjalani hubungan jarak jauh itu benar-benar tidak mudah.


__ADS_2