
"Kok belum berangkat?" tanya Rafael.
Reva menoleh, "Bannya bocor, males bawa ke bengkel."
"Mau berangkat bareng?"
Melihat Reva yang belum menjawab, membuat Rafael tahu jika perempuan itu sedang bimbang. Hal yang sama-sama mereka pikirkan adalah perasaan khawatir bagaimana jika ada murid di sekolah yang melihat? Pasti akan menimbulkan kecurigaan.
"Gue naik taxi aja deh," tolak Reva.
"Gak papa bareng aja, nanti kamu turun agak jauh dari sekolah. Udah siang, takut telat."
"Ya udah deh."
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan, entah kenapa suasana terasa canggung saja. Padahal semalam mereka sudah membahas tentang ini, sekarang pagi ini kejadian. Masih teringat jelas juga obrolan semalam yang cukup dalam itu.
"Besok aku mau wakilin sekolah untuk lomba Biologi," ucap Rafael memberitahu.
"Dimana?"
"Di luar kota. "
"Berarti bakalan nginep dong?"
"Iya, sehari lah kira-kira. Jadinya malam ini aku berangkat sama guru perwakilan, mungkin besok sore atau malamnya baru pulang."
Reva menghela nafasnya, "Semoga lancar ya dan juara."
"Makasih."
Sebenarnya Reva sedikit sedih harus ditinggal Rafael ke luar kota, tapi pria itu ada tugas besar di sana. Memang suaminya itu sangat pintar, berbeda sekali dengan dirinya. Walaupun begitu, tentu Reva juga merasa bangga.
"Gue turun di sini aja deh," ucap Reva.
"Tapi masih lumayan agak jauh dari sekolah."
"Gak papa, nanti kalau makin depan pasti banyak murid."
"Ya sudah, Reva tinggal jalan kaki aja ya."
"Iya."
Setelah mobil berhenti, Reva pun turun dari mobil itu. Rafael pun kembali melanjutkan perjalanannya meninggalkannya. Begitu pun dengan Reva, hanya perempuan itu harus berjalan kaki, untung saja tidak terlalu jauh juga.
Tin!
"Astaga!" pekik Reva mendengar suara kencang di sebelahnya, saat menoleh terlihat Lucas yang tersenyum lebar padanya di atas motor.
"Hehe sorry," ucap Lucas.
"Ck ngagetin aja, kirain siapa."
"Sendirian aja, kenapa juga turun di sini?"
__ADS_1
"Ya gue emang sendirian."
"Masa? Tapi tadi gue lihat loh lo turun dari mobil, kenapa gak sampai depan gerbang sekolah?"
Lucas melihat? Astaga lagi-lagi Reva teledor tidak melihat sekitar, Ia kira semua akan baik-baik saja. Perasaan khawatir pun hinggap, apa mungkin Lucas pun tahu siapa yang mengantarnya?
"Bokap gue buru-buru."
"Oh yang nganterin lo bokap?"
"Iya, dia ada meeting pagi di kantor."
"Cukup membingungkan, padahal jalannya juga se arah."
Reva berdecak pelan, "Lagian terserah gue lah mau turun dimana aja, gue juga pengen jalan kaki," ketusnya.
"Iya-iya sorry deh." Lucas lalu menepuk jok bagian belakangnya, "Mau ikut gak?"
"Enggak ah, lagian sedikit lagi juga sampai."
"Tapi kalau jalan kaki mungkin ada beberapa menit, kalau naik motor cuma tiga puluh detik juga sampai."
"Hah karena lo maksa, ya udah gue terima."
Lucas hanya tersenyum mendengar akhirnya perempuan itu luluh juga. Saat Reva sudah duduk di belakangnya, Lucas sempat menggoda perempuan itu untuk memeluknya, tapi punggungnya malah dipukul lumayan keras. Memang Reva ini sangat menarik.
"Emangnya mobil lo kemana?" tanya Lucas.
"Bannya bocor, males nganterin ke bengkel."
"Hah?"
"Berarti hari ini gue bisa anter lo pulang, ya?"
Sebenarnya Reva sedikit enggan, tapi waktu itu Ia pun sudah janji dan sepertinya sekarang diterima saja. Lagi pula tidak masalah juga, kan Lucas mau membantunya. Kalau diantar pun lumayan bisa menghemat ongkosnya.
"Ya sudah," jawab Reva.
Tanpa perempuan itu sadari, Lucas sedang tersenyum lebar kesenangan. Bukankah ini adalah peluang baik untuk dirinya bisa semakin intens mendekati perempuan itu? Lucas akan menggunakan kesempatan ini dengan baik.
Saat memasuki gerbang sekolah, Reva merasa diperhatikan banyak murid. Mungkin mereka bingung melihatnya datang dengan Lucas, si murid baru tampan berwajah blasteran. Kebanyakannya sih para perempuan, mungkin mereka cemburu.
"Awas aja kalau nanti pas pulang lo kabur lagi," ucap Lucas sambil membuka helmnya.
"Ck gak akan, kali ini kan gue gak bawa mobil."
"Gimana kalau nanti jalan-jalan dulu?"
Tatapan Reva memicing, "Lagi cari kesempatan ya lo?"
"Hehehe tahu aja, kita ke Kafe dulu gitu buat makan-makan. Tenang aja, nanti gue traktir."
"Lihat aja nanti deh."
__ADS_1
"Oke."
Lucas lalu menunjuk wajahnya, "Luka lo udah diobati belum?"
"Udah kok, pakai salep."
"Harus sering, biar lukanya gak berbekas."
"Iya."
Kenapa si Lucas itu sok perhatian sekali sih? Batin Reva cukup tidak nyaman.
Keduanya berjalan bersisian menuju kelas. Sepanjang jalan pun terlihat Lucas yang lebih banyak bicara, sedang Reva hanya menanggapi sedikit saja. Reva sampai tidak sadar jika di parkiran ada Rafael yang memperhatikan dengan tatapan sendunya.
"Apa-apa an nih Reva, lo mau nikung gue?" tanya Ica dramatis.
Reva memutar bola matanya, "Jangan salah paham," ucapnya malas.
"Tapi katanya lo berangkat bareng Lucas ya? Huhu lo mau jadi pelakor ya?"
"Emang kalian udah jadian?"
"Belum sih, tapi masih pendekatan."
"Kalau gitu gue bukan pelakor, lagian gue juga sama dia cuma temenan."
"Tapi--"
"Kita gak berangkat bareng, tadi gue turun agak jauh dari sekolah terus dia tawarin tumpangan. Gue yang males jalan kaki ya terima aja, udah cuma gitu." Padahal Reva malas sekali menjelaskan, tapi karena Ica sahabatnya dan Ia takut membuat perempuan itu sedih.
"Gitu ya," gumam Ica.
Tata lalu menepuk punggung Ica, "Tapi kalau dilihat-lihat mereka tadi cocok juga."
Ica langsung menatap nyalang Tata, "Ih kok lo gitu sih?!"
"Cuma pendapat gue, enggak juga sih, kayanya semua yang lihat juga gitu." Tata menyeringai karena berhasil menggoda Ica.
"Ahh nyebelin lo Tata!"
Melihat keributan dari dua sahabatnya itu membuat Reva hanya menggeleng-gelengkan kepala. Memang Lucas itu jadi idaman di sekolah ini, pasti banyak perempuan yang menyukainya. Tetapi Reva tidak, Ia berbeda dengan perempuan lain.
"Gue mau bilang sesuatu takut lo sakit hati," ucap Reva.
Ica kembali menatapnya, "Apa?"
"Hari ini kan gue gak bawa mobil, terus si Lucas katanya nanti pulang sekolah mau nganterin gue pulang. Gak papa, kan?"
"Cemburu deh, gue belum pernah di anterin pulang sama Lucas."
"Makanya nanti coba jangan bawa mobil, terus lo telpon tuh si Lucas buat jemput lo, pasti pulangnya juga di anterin," usul Reva yang tidak tega melihat wajah memelas Ica.
"Boleh juga idenya, ya udah deh nanti."
__ADS_1
Reva mengangguk-anggukan kepalanya lalu melirik bangku Lucas yang tidak jauh darinya. Terlihat ada beberapa siswi kelas yang sedang mengajaknya mengobrol. Tetapi saat pandangan mereka bertemu, si Lucas itu malah mengedipkan sebelah mata ke arahnya, membuat Reva tersentak. Reva pun memilih memalingkan wajah dan bermain ponselnya.
Tadi Lucas terlihat playboy sekali.