Pasutri Gak Jelas

Pasutri Gak Jelas
70 Menghabiskan Hari Bersama


__ADS_3

Sore harinya Rafael dan Reva akan belanja untuk kebutuhan dapur di rumah Oma, sekalian jalan-jalan juga. Kebetulan mbok kan sedang sakit, jadi mereka dengan senang hati menggantikan. Besok paginya kan keduanya sudah pulang lagi ke Jakarta, jadi harus menikmati waktu selama di Surabaya.


"Gue jadi inget waktu itu," ucap Reva tiba-tiba setelah memasukan tepung serba guna ke dalam trolli.


Rafael yang bertugas mendorongnya menaikkan sebelah alis mendengar itu, "Inget apa?" tanyanya.


"Pas kita lagi belanja, gak tahu kapan tapi sudah lumayan lama. Waktu itu gue gak sengaja ketemu Lucas di Mall." Kejadiannya tentu sebelum Lucas tahu rahasia Ia dan Rafael adalah suami istri.


"Apa pas ada aku juga?" tanya Rafael sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kebetulan kita emang lagi belanja bareng. Ada satu barang yang ketinggalan pas kita mau bayar, tapi gue yang bawa jadi cuman sendirian. Pas waktu itu malah gak nyangka ketemu Lucas di sana." Saat itu Reva panik dan cemas sendiri, padahal Rafael sedang tidak bersamanya. Tetapi tetap saja Reva khawatir Lucas tahu dan melihat.


"Terus apa dia lihat aku?"


"Kayanya enggak, mungkin?" Tetapi Reva pernah ingat, jika Lucas yang katanya sering curiga dengan kedekatannya bersama Rafael. Pria itu mudah sekali membaca situasi, Reva tidak bisa menduga juga jika Lucas baru tahu rahasia itu dari Papanya. Bisa saja kan sebelumnya juga sudah tahu?


"Kenapa gak bilang?"


"Soalnya gue waktu itu takut, tapi kayanya Lucas juga gak curiga."


Rafael terlihat menghela nafasnya, "Kamu ini selalu saja mendam sendiri, gak mau cerita apapun ke aku. Aku sedih loh Reva, padahal aku suami kamu dan seharusnya tahu."


Reva menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, merasa bersalah begitu saja karena sudah menyinggung perasaan Rafael, "Sorry, gue cuman gak mau lo kenapa-napa."


"Kamu ini bilang apa sih, malahan aku khawatir kalau kamu mendam sendirian." Rafael masih ingat Reva yang jadi pendiam sebelum jadian dengan Lucas, sepertinya terbebani karena merahasiannya sendirian.


"Nanti kalau ada masalah pokoknya harus cerita, biar aku juga bisa bantu," ucap Rafael sambil mengusap tangannya.


"Iya." Reva tersenyum tipis mendengar itu, selanjutnya mereka pun melanjutkan acara belanja itu.


Oma sudah mewanti-wanti keduanya untuk tidak belanja terlalu banyak, karena hanya untuk satu minggu saja. Rafael dan Reva membeli beberapa bahan makanan yang sehat, Omanya memang harus di atur pola makan di usianya yang sudah senja itu. Tidak lupa juga buah-buahan pastinya, agar nutrisinya pun seimbang.


"Mau nonton sebelum pulang?" tawar Rafael menunjuk salah satu poster film di dinding.


"Boleh, tapi gimana kalau makan dulu?"

__ADS_1


Rafael terbelak mendengar itu, "Bukannya tadi di rumah sudah makan?"


"Ih itu kan makan siang, sudah dua jam dan sekarang lapar lagi," keluh Reva sambil mengerucutkan bibirnya.


"Dasar, aku gak tahu kamu bisa makan banyak begitu."


"Gak tahu, akhir-akhir ini emang gampang laper," sahut Reva menyadari perubahan dirinya.


Tatapan Rafael memicing, pria itu pun verbisik di telinganya, "Jangan-jangan kamu hamil lagi?"


Plak!


Reva tanpa sadar memukul pelan tangan Rafael, terlalu terkejut mendapat tuduhan seperti itu. Tetapi Rafael hanya tertawa kecil sambil mengusap tangannya yang dipukul nya itu, ekspresi wajahnya terlihat puas sudah menggodanya.


"Enak aja, masa gue hamil?" dengus Reva, Ia bisa merasakan wajahnya menjadi panas.


"Ya bisa lah, apalagi kamu sudah punya suami."


"Ck tapi kan--"


"Oh jadi Reva sudah siap punya anak?" goda Rafael sambil menaik turunkan alisnya.


Rafael menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Reva yang sedang salah tingkah. Sebenarnya kalau ditanya apa Rafael sudah siap punya anak? Jawabannya belum. Tadi Ia hanya sedikit menggoda istrinya itu saja, mereka kan sudah baikkan dan akur lagi jadi tidak masalah dong.


"Totalnya semua jadi lima ratus tujuh puluh ribu," ucap si kasir menyebutkan jumlah belanjaan mereka.


Rafael pun langsung memberikan kartu debit nya, Ia memang yang akan membayarkan. Walaupun masih sekolah dan muda, tapi jangan salah karena Rafael sudah punya penghasilan sendiri. Bahkan kedua orang tuanya tidak memberikannya lagi uang jajan, jadi Rafael usaha sendiri. Ia mendapatkan uang dari saham yang ditanam nya di perusahaan keluarganya.


"Aku sudah pesan tiketnya, ambil yang satu jam lagi," ucap Rafael sambil menunjukan dua tiket bioskop.


"Ya sudah, yuk kita nyemil dulu. Laper, apalagi tadi habis belanja," ajak Reva kesenangan sendiri.


"Iya, Reva emangnya mau makan dimana?"


"Lagi pengen makan toppoki," jawab Reva sambil memperhatikan setiap Kafe. Di mall seperti ini tentu banyak penjual makanan berbagai macam, apalagi makanan Korea. Setelah mendapatkannya, keduanya langsung duduk dan memesan.

__ADS_1


"Aku mau jajangmyeon sama toppoki ya," ucap Reva menyebutkan pesanannya, tidak lupa minumannya pun. Perempuan itu lalu menatap Rafael, menanyakan pria itu mau makan apa.


"Em kalau saya ramen aja," ucap Rafael. Perutnya tidak terlalu lapar, jadi hanya itu makanan yang Ia pesan. Sambil menunggu, keduanya kembali melanjutkan obrolan.


"Kenapa?" tanya Reva yang tidak nyaman dari tadi terus di perhatikan Rafael, kebetulan posisi duduk mereka memang saling berhadapan.


"Gak papa, cuman ngebayangin aja hubungan kita ke depannya," celetuk Rafael.


"Apa aja yang lo bayangin?" tanya Reva penasaran.


Rafael terdiam beberapa saat seperti sedang berpikir keras, "Perjalanan kita masih panjang, pasti banyak juga yang akan terjadi dan harus kita lewati."


"Iya bener," gumam Reva setuju.


"Aku gak tahu masalah apalagi yang bakal datang, tapi aku harap gak sampai buat hubungan kita merenggang lagi." Rafael terlihat dewasa sekali saat mengatakannya.


"Kalau gitu jangan sampai deh ada masalah besar, ya semoga aja." Tetapi Reva tidak bisa memastikannya sendiri, toh Ia merasa sikapnya belum bisa sedewasa itu dan emosinya masih naik turun.


Obrolan mereka pun terhenti sejenak saat pesanan yang ditunggu akhirnya datang juga. Melihat Reva yang terlihat senang melihat makanan di meja, membuat Rafael tertawa kecil merasa terhibur sendiri. Terlihat lucu sekali, pikirnya.


"Ramennya kelihatan enak," ucap Reva mengkode.


Rafael menatapnya, "Kenapa? Mau?" tanyanya padahal sudah tahu.


"Hehe nanti minta ya sedikit, nyobain."


"Enggak," tolak Rafael cepat sambil menahan senyumannya, pasti sebentar lagi akan ada protesan keras.


"Ih kok pelit banget sih? Cuman minta sedikit juga!"


Nah kan benar dugaan Rafael, batinnya sambil menahan senyuman.


"Iya-iya Reva, aku cuman bercanda tadi," ucap Rafael mengalah, tidak enak juga di dengar pelanggan lain jika mereka ribut.


"Nanti lo juga bisa minta punya gue, tapi sedikit aja ya." Dasar Reva itu, sekarang jadi pelit jika tentang makanan.

__ADS_1


***


Terima kasih yang sudah mampir dan yang rajin ngasih like 😄


__ADS_2