
Siangnya Rafael menepati janji untuk menemani Reva shopping ke Mall besar. Mungkin karena bukan hari libur, jadi suasana Mall siang itu tidak terlalu ramai. Sesampainya di sana Reva pun langsung menuju sebuat brand pakaian ternama yang sering didatangi nya, Rafael hanya mengikut saja dari tadi di belakang.
"Mau beli dress doang, kan?" tanya Rafael.
"Gak tahu, kayanya banyak yang menarik mata."
"Hm sudah aku duga," gumam Rafael yang pasrah-pasrah saja jika nanti isyrinya itu belanja banyak.
Reva lalu menemukan sebuah dress berwarna hitam yang menarik matanya. Gayanya cantik tanpa tangan, hanya tali tipis di setiap sisi. Reva bisa bayangkan jika dress ini pasti akan membentuk tubuhnya, pasti dirinya pun akan sangat cantik jika memakai nya.
"Gimana sama yang ini?" tanya Reva sambil menunjukannya.
Terlihat kernyitan di kening Rafael, Ia pun mengambil alih dress hitam yang berkilau-kilau itu dan memperhatikannya dalam. Tidak bisa Rafael bayangkan jika Reva memakai pakaian seksi seperti ini ke pesta nanti malam, sudah pasti akan menjadi perhatian banyak laki-laki.
"Jangan gila deh!" dengus Rafael sambil melempar pelan dress itu, untung saja Reva dengan sigap menangkapnya.
"Apa?"
"Jangan beli itu, jangan aneh-aneh."
"Loh emangnya kenapa? Kan bagus, lo sih gak tahu styles," ledek Reva.
"Bajunya terlalu seksi, nanti kalau kamu pakai bakalan gak nyaman juga."
"Tapi ini bagus, gue pengen beli."
"Ya sudah pakai uang sendiri, aku gak akan bayarin," ucap Rafael agar Reva tidak jadi membelinya.
Reva menghentakkan kakinya kesal, "Kok gitu sih? Katanya lo yang bakal belanjain," protesnya. Apalagi Reva sengaja tidak bawa dompet hari ini, karena Ia tidak mau mengeluarkan sepersen pun, jadi semuanya Rafael yang menanggung.
__ADS_1
"Aku gak suka bajunya, kamu bisa pilih yang lain lagi." Ternyata Rafael tetap kekeuh pada pendiriannya, jangan sampai Reva membeli baju haram itu.
"Dasar pelit!" Dengan terpaksa Reva pun kembali menyimpan dress itu di tempatnya tadi, lalu pergi dari sana untuk mencari dress lain. Terlihat bibirnya tertekuk ke bawah, tanda jika sedang ngambek.
Rafael yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, tapi Ia sama sekali tidak merasa bersalah karena tahu keputusannya yang terbaik. Masa saja Rafael membiarkan Reva memakai baju terbuka begitu, nanti Rafael pun akan terus dilanda perasaan tidak nyaman karena pasti Reva diperhatikan banyak pasang mata jahat yang memperhatikan tubuhnya.
"Yang ini bagus nih, pakai yang ini aja," ucap Rafael sambil menunjuk salah satu dress di sebuah maneken.
Reva yang berdiri agak jauh pun mendekat untuk melihatnya, "Ck gak cocok banget dipakai ke pesta nanti malam. Ini mah cocoknya dipakai ke pantai." Memang dasar si Rafael itu, Reva sudah bilang kampungan sekali kalau masalah gaya.
Dress yang dipilih Rafael memang bagus dan cantik, tapi untuk dipakai ke pesta prom night tidak cocok sama sekali. Selain warnanya yang cerah, juga gayanya anggun sekali. Lebih cocok dipakai jalan-jalan ke tempat wisata yang indah.
"Ya sudah gak papa kamu beli ini juga, mungkin nanti butuh pas kita jalan-jalan," ucap Rafael. Pria itu sudah membayangkan Reva memakainya dan pasti sangat cantik.
"Beneran nih? Tumben, ya udah deh gue ambil ya." Tentu saja Reva senang karena yang membayarkan Rafael, dressnya juga cantik dan Ia suka. Reva pun memasukannya ke dalam keranjang yang Rafael bawa.
Mereka cukup bebas di toko itu, apalagi pengunjungnya cukup sepi siang itu. Setelah berkeliling lumayan lama, Reva pun menemukan dua dress yang cantik dan menurutnya bagus jika dipakai ke pesta nanti malam. Satunya berwana putih dan satunya lagi berwarna hitam.
Rafael terdiam beberapa saat sedang berpikir keras memperhatikan dia pakaian di tangan Reva, "Kalau menurut aku yang warna putih ini, tapi aku kurang suka bagian atasnya karena pasti bakal nunjukin bahu kamu." Tetapi untuk yang hitam menurut Rafael lebih cocok dipakai ke kantor, bukan acara pssta begitu, jadi Ia memutuskan memilih yang putih.
"Ya udah berarti yang putih aja," ucap Reva memutuskan, Ia pun menyukainya.
"Tapi nanti pas dipakai, bagian tangannya itu ke atasin ya harus nutupin bahu kamu."
"Ya gak bisa lah Rafael, stylenya kan udah begini." Reva dibuat menggeleng-geleng mendengar itu, ada-ada saja memang si Rafael itu.
"Ya udah kalau gak bisa, cari yang lain lagi."
"Ih enggak ah, gue udah capek dari tadi nyariin satu dress doang," rengek Reva.
__ADS_1
"Tapi--"
"Jangan berlebihan deh, lagian dress ini paling normal di banding yang hitam tadi. Kalau gak beli yang ini, berarti yang item tadi." Reva berusaha membujuk, sudah pasti Rafael itu akhirnya akan mengalah.
"Hah ya sudah deh yang ini aja," desah Rafael pasrah. Dari pada yang tadi, sudah membentuk tubuh, dress nya pun sangat pendek dan terbuka. Sudah seperti akan pergi ke kelab malam saja.
Rafael sendiri membeli sebuah topi hitam, untuk dipakainya nanti ke gym jika malu bertemu banyak orang di sana. Sedangkan Reva hanya dua dress tadi saja. Sebenarnya banyak yang menarik, tapi Rafael pasti akan mengomelinya karena belanja berlebihan. Padahal uang pria itu banyak, tidak akan habis juga.
"Sekarang mau kemana lagi? Kamu butuh apalagi?" tanya Rafael.
"Tumben nawarin, gak takut gue belanja banyak?"
"Biar sekalian aja, kalau nanti repot lagi."
"Gak ada sih, high heels juga masih bagus-bagus, tasnya juga punya yang senada untuk gaya baju ini," gumam Reva. Bukankah seharusnya Ia memanfaatkan kesempatan ini? Kapan lagi Rafael berbaik hati mengizinkan belanja ini itu, tapi sayangnya hari itu Reva sedang malas dan ingin cepat pulang.
Setelah selesai membayar, keduanya pun keluar dari Mall itu dan memutuskan langsung pulang. Di perjalanan tidak lupa memesan beberapa menu makanan cepat saji untuk mengisi perut keroncongan, nanti akan dimakan setelah sampai di apartemen.
"Kalau nanti malam lo udah siapin bajunya?" tanya Reva yang baru mengingat ini. Lucu saja kalau misal ternyata Rafael belum menyiapkan, malah sibuk menemaninya belanja.
"Udah kok, lagian aku punya banyak kemeja dan jas," jawab Rafael sambil tetap fokus menyetir.
"Bagus deh, terus warnanya apa?"
"Hitam aja, formal biasa."
"Gak punya warna putih? Biar serasi sama gue."
Rafael menggeleng, "Jangan dong, nanti terlalu mencolok dan malah nganggap aku pengantin yang mau nikah," celetuknya.
__ADS_1
"Benar juga." Batin Reva.
"Ya udah lah pakai apa aja, yang penting jangan pakai dalaman doang," sahut Reva membuat Rafael tergelak dan tidak bisa menahan tawanya.