
Sepulang dari Kampus, seperti janji waktu itu Vanessa benar datang ke apartemen Reva dahulu karena mereka akan belajar masak. Tetapi sebelum ke apartemen, harus ke Mall dahulu belanja karena bahan makanan di kulkasnya kosong.
"Jadi dulu yang sering masakin itu suami Reva?" tanya Vanessa yang baru tahu setelah temannya itu cerita.
"Hehe iya, gimana menurut kamu?"
"Kalau menurut aku romantis."
"Reaksi kamu di luar dugaan, aku kira kamu bakal ngejek aku," ucap Reva terpana sendiri, baru kali ini ada yang bereaksi begitu padanya.
"Ngejek kenapa?" tanya Vanessa balik.
"Masak itu kan biasanya tugas istri, tapi beda sama suami aku yang malah dia masak dan beres-beres rumah."
"Tapi kan katanya pekerjaan rumah itu bukan kewajiban istri, suami juga harus bantu. Menurut aku malahan suami Reva itu sangat romantis, dia pasti pengertian banget kan sama Reva?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Reva hanya tersenyum tipis. Rafael itu menurutnya memang sosok suami yang baik dan sangat pengertian, Ia juga sangat bersyukur memilikinya. Reva tidak bisa bayangkan saja dijodohkan dengan lelaki yang memiliki ego tinggi sama sepertinya, akan jadi seperti apa? Almarhum Mamanya memang paling tahu mana yang terbaik untuk nya.
"Apa Reva kangen sama suami?" tanya Vanessa sambil menyenggol tangannya menggoda.
"Haha iya lah kangen, malahan jujur aku pernah nangis karena harus LDR sama dia." Reva terlihat tidak malu menceritakannya, itu berarti Ia memang sudah sangat mempercayai Vanessa.
"Iya sih pasti kangen, apalagi kalian sudah suami istri."
Acara belanja itu tidak terlalu lama karena Reva yang merasa kasihan sendiri melihat Vanessa yang kepayahan berjalan dengan kruknya itu. Mereka pun melanjutkan pulang dengan menaiki taxi, mobil Reva kan masih hilang jadi Ia sekarang harus memesan mobil online.
"Ayo masuk," ajak Reva sambil membukakan pintu apartemennya.
Setiap masuk ke tempat tinggal Reva, Vanessa selalu merasa terkagum-kagum sendiri. Masih tidak menyangka juga bisa memiliki teman yang baik dari kalangan orang berada, karena selama ini mana ada yang mau berteman dengan orang biasa sepertinya.
"Jadi kita akan masak apa hari ini?" tanya Reva bersemangat. Ia benar-benar ingin bisa masak, agar nanti bisa Ia tunjukan pada Rafael saat pulang.
"Tadi katanya Reva pengen bisa buat nasi goreng ya?"
"Iya nasi goreng kimchi," angguk Reva, "Sebenarnya dulu Rafael juga pernah ngajarin, tapi udah agak lama dan lupa lagi caranya."
__ADS_1
"Tenang aja, kalau misal Reva serius belajarnya pasti bisa kok. Tapi maaf ya kalau pergerakan aku agak terbatas, kamu tahu sendiri," ucap Vanessa sambil menunduk melihat kakinya, dan Reva pun hanya mengangguk mengerti.
Terlebih dahulu keduanya mencuci tangan, mengeluarkan bahan-bahan untuk mulai masak. Vanessa akan bertugas memperhatikan dari samping, memberi Reva petunjuk cara memasaknya. Reva pun terlihat menurut saja, kadang bertanya jika ada yang tidak mengerti.
"Gimana rasanya?" tanya Vanessa penasaran dengan hasil masakan temannya itu.
"Kalau menurut aku enak, malahan lebih enak dari pas pertama buat. Tapi kamu coba deh cicipin." Reva lalu menyendokan nasi goreng itu, Ia tiup-tiup sebentar agar tidak panas lalu baru menyuapkannya pada Vanessa.
"Enak Reva, kamu hebat buat nya," puji Vanessa sambil menunjukan jempol jarinya.
"Beneran nih? Jangan bohong dong." Reva kan jadi malu dipuji begitu.
"Haha iya beneran kok, kalau kamu rajin masak pasti bisa."
Karena Reva membuat nasi goreng kimchi itu dengan porsi lebih banyak, memutuskan sekalian makan bersama dengan Vanessa. Di tengah asiknya mereka menyiapkan, terdengar ketukan pintu apartemen dari luar. Melihat Reva yang sedang memindahkan nasi ke piring, Vanessa pun yang berinisiatif membukakan pintu.
"Eh siapa ya?" tanya Vanessa melihat ternyata itu adalah seorang anak kecil. Anak itu menatapnya bingung dengan mata bulatnya, sangat menggemaskan.
"Kakak siapa ya?" Anak perempuan itu malah bertanya balik.
"Nama aku Celine, ini beneran apartemen Kak Reva bukan?" tanya anak itu dengan lucunya.
Vanessa langsung menduga sesuatu, jika sepertinya anak kecil ini kenalan atau keluarga Reva, "Iya benar ini apartemen Kak Reva, yuk masuk," ajaknya.
Saat Reva memindahkan nasi goreng ke meja makan, perhatiannya teralih pada Celine. Ia pun langsung tersenyum lebar dan menghampiri anak itu, "Celine, ada apa kamu ke apartemen Kakak?" tanyanya terkejut sendiri.
"Aku pengen ketemu sama Kakak," jawab Celine polos.
"Haha kamu kangen ya sama Kakak? Sudah lama juga kita gak main." Reva lalu menggendong Celine dengan mudahnya, "Kamu sudah makan belum?"
"Belum," geleng Celine dengan bibir mengerucut.
"Kebetulan Kakak selesai masak nasi goreng, yuk kita makan bareng." Untung saja tadi tidak terlalu pedas, semoga saja anak itu menyukainya.
Mereka duduk di kursi masing-masing, makan nasi goreng itu dengan lahapnya. Reva sesekali menoleh pada Celine yang makan di sebelahnya, walaupun baru lima tahu tapi sudah pintar makan sendiri dan tidak berlepotan.
__ADS_1
"Gimana masakan Kakak?" tanya Reva.
Celine pun menatapnya, "Enak, aku suka. Tapi lumayan pedes."
"Maaf ya, nanti Kakak buatin yang gak pedes deh buat kamu."
"Hehe iya Kak, aku juga lagi laper jadi bakal aku habisin."
"Tadi siang makan gak?"
"Enggak."
"Loh kenapa?"
"Mbak jarang ngasih aku makan, kalau aku minta suka ngomel-ngomel," jawab Celine polos.
Reva dan Vanessa pun saling bertatapan saat mendengar itu, yakin sekali jika anak sekecil itu tidak bohong. Lagi-lagi Reva dibuat geram dengan tingkah babysitter dari Celine, sepertinya kali ini harus Ia laporkan pada Evan. Padahal waktu itu Nana sudah Reva peringatkan, tapi ternyata tidak berubah juga.
"Nanti kalau semisal Celine laper atau gak mau di apartemen, main ke rumah Kakak aja ya," ajak Reva sambil mengusap kepalanya.
"Iya Kak."
"Apa dia anak dari keluarga kamu Reva?" tanya Vanessa penasaran.
"Bukan, tapi saling kenal aja karena tetangga."
"Tapi kelihatan akrab gitu, kamu juga perhatian banget. Sudah cocok jadi Ibu," celetuk Vanessa yang membuat Reva tergelak sampai tertawa kecil, merasa geli saja dianggap begitu.
"Masa aku sudah cocok? Apa wajah aku kelihatan kaya Ibu-Ibu?" tanya Reva sambil memrgang pipinya.
"Bukan gitu, tapi sikap perhatian dan ramah kamu pada Celine. Anak itu kan bukan siapa-siapa kamu, tapi kamu bisa sebaik itu dan membuat dia nyaman. Aku yakin kamu juga bakalan jadi Ibu yang baik untuk anak kamu nanti."
Reva dibuat tersenyum mendengar itu, "Tapi kayanya gak bisa, suami aku aja kan lagi di Amerika. Gimana caranya aku bisa dapetin anak kalau dia gak ada di sini?"
"Haha iya bener juga, berarti kayanya harus nunggu dia pulang," sahut Vanessa sambil terkekeh kecil.
__ADS_1