Pelangi Senja

Pelangi Senja
Tips


__ADS_3

"Kamu yakin belum jebol gawang?" tanya Devan berbisik.


Alfan menggeleng tanpa suara. Bukan karena tak ingin memiliki Alisa seutuhnya. Bahkan burungnya pun berkali-kali meronta  ingin masuk ke sarang jika melihat Alisa keluar dari kamar mandi, ia hanya ingin menepati janjinya untuk tidak menyentuh istrinya sebelum wanita itu  jatuh cinta padanya.


"Bohong…. " goda Devan.


Pengakuan Alfan tak bisa di percaya begitu saja mengingat sahabatnya yang selalu bercanda.


Alfan berdecak dan mendorong tubuh Devan hingga terhuyung.


"Kamu nggak percaya amat sih, beneran." Alfan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah tanda meyakinkan.


Pesta sudah usai, ballroom yang tadi dipadati tamu, kini mulai sepi. Hanya ada beberapa kerabat yang datang langsung dari Turki, juga keluarga dari Indo yang ada di sana.


Devan dan Alfan memilih untuk duduk berdua, sedangkan istri mereka bergabung dengan yang lain. Alih-alih untuk membicarakan bisnis, nyatanya Alfan hanya minta di ajarin tentang malam pertama.


''Kamu dan Alisa kan sudah bersama setiap hari, ngapain tanya, malu-maluin saja," ucap Devan ketus.


Alfan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, meskipun sudah hidup seatap selama tiga bulan, Alfan masih sering grogi jika di dekat Alisa, dan itu tak bisa di pungkirinya.


"Tapi beneran, aku masih canggung kalau mau minta itu, dia pendiam, jadi aku nggak tahu harus mulai dari mana," ucap Alfan tak kalah serius. Nyalinya selalu menciut jika berada di kamar berdua dengan Alisa.


"Ngobrol saja dulu, nyalakan lampu temaram, buka memory lama, cerita-cerita, tanya apa kesukaan Alisa, lalu peluk, setelah itu cium sambil doa, pasti terjadi itunya.''


Gampang sekali


Alfan mencerna rangkaian kalimat yang meluncur dari bibir Devan, meskipun sahabatnya itu sering membual, kali ini ada kandungan positif di dalamnya.


"Apa dulu kamu dan Raisya juga seperti itu?" tanya Alfan menyelidik.


Devan menggeleng, "Aku tidak suka banyak drama, aku tangkap dia dan aku langsung membawanya ke ranjang, jadi deh."


Devan melirik ke arah Alfan, dan sepertinya pria itu sangat mempercayainya. Andaikan Alfan tahu malam pertamanya, pasti juga akan tertawa karena Devan pun tak jauh dari kata grogi, bahkan saat memulai aksinya Devan sempat gemetar. Akan tetapi, untuk sekarang  jangan ditanya, ia sudah lihai dalam segala posisi. 


Ehemmm


Suara deheman dari belakang membuat Devan tercengang.


Seperti nyonya, apa dia tadi mendengar ucapanku. Kalau iya, gawat ini, bisa-bisa nanti malam tidak dapat jatah.


Devan menoleh, dan ternyata benar, wanita cantik dengan tangan yang dilipat di dada itu mematung di belakangnya.


"Sayang, kamu dari mana saja?" Devan merangkul pundak Raisya dan mendudukkannya. Tak hanya Raisya, di sana  juga ada Alisa yang masih memakai gaun pengantinnya.


Jika Raisya duduk di samping Devan, Alisa duduk di samping Alfan.

__ADS_1


"Sekali lagi selamat untuk kalian, aku nggak kasih kado karena Alfan sudah punya segalanya, tapi aku sudah kasih tips ke dia."


"Tips apa?" tanya Raisya menyelidik. 


"Tips membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah," jawab Devan dengan lancar.


Raisya manggut-manggut mengerti. Sebab, itupun sering Devan lakukan dirumah.


David datang dengan Susan yang tidur di gendongannya.


"Kak, aku mau pulang, kasihan Susan."


Raisya dan Devan langsung beranjak dan pamit pada Alfan dan Alisa.


Sebelum pergi, Devan menarik tangan Alfan dan mengajaknya menjauh dari yang lain.


"Selamat mencoba, semoga sukses dan jadilah Alfan junior."


Alfan hanya mengamini dalam hati.


Saat membuka mobil, Devan membulatkan matanya melihat Syakila dan Afif yang sudah berada di dalam. Bukan pada kedua gerangan, tapi beberapa makanan yang ada di pangkuan dokter bedah itu.


"Ya ampun Fif, kamu bawa makanan dari dalam?" tanya Devan dengan lantang. 


David dan Raisya hanya menahan tawa, sedangkan Naimah yang sudah pernah hamil memaklumi nya.


"Tadi sudah izin sama bunda, kok," timpal Afif.


Devan hanya mengelus ceruk lehernya.


"Nggak papa sih, tapi aneh saja, biasanya kamu paling nggak suka kue seperti itu."


Naimah masuk dan duduk di jok depan, tepatnya di samping David. 


"Wajar, Kak. Orang hamil memang seperti itu. Terkadang dia malah suka dengan makanan yang dulu dibenci. Nanti kakak juga akan ngerasain kalau kak Raisya sedang hamil."


"Dengerin tu, apa kata kak Naimah," cetus Syakila menang.


Devan mengelus perut rata Raisya. "Sayang, nggak papa kalau ingin ngidam aneh-aneh, apapun permintaan kamu pasti ayah akan turuti."


Raisya menepuk tangan Devan karena malu.


"Hamil saja belum, ngidam di urusin, bikin yang bener, biar kakak cepat __"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Naimah sudah mencubit pinggang David hingga pria itu langsung mingkem.

__ADS_1


*****


Malam mulai larut, jika biasanya Alfan tidur di rumah baru yang ditempati tiga bulan ini, malam ini ia sengaja menginap di hotel. Alisa ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan ia mondar-mandir mengabsen lantai. Ucapan Devan masih terngiang-ngiang di telinganya hingga membuatnya tak bisa memejamkan matanya. 


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Alfan menghentikan langkahnya dan menatap Alisa yang keluar dari sana, lagi-lagi wanita itu hanya memakai handuk yang melilit menutupi area tubuh sensitifnya.


"Kamu belum tidur, Mas?" tanya Alisa, ia masih sangat santai mengingat Alfan tidak pernah meminta hak darinya.


"Nungguin kamu," jawab Alfan mulai gugup.


Ia duduk di tepi ranjang menatap punggung Alisa yang sedang membuka lemari. Entah mendapat keberanian dari mana, Alfan mendekap tubuh Alisa dari belakang. 


Alisa menelan ludahnya dengan susah payah, ia menunduk menatap tangan Alfan yang melingkar di perutnya.


"Mas, apa kamu __"


"Iya, aku ingin meminta hakku, maaf kalau aku tidak bisa menepati janjiku. Aku tidak bisa menunggu lagi."


Aku harus siap, cepat atau lambat ini kana terjadi juga.


Alisa menutup lemarinya tanpa mengambil baju dari sana. Ia memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Alfan. Alisa melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu lalu menatap kedua mata Alfan yang dipenuhi dengan hasrat, ia tahu jika suaminya itu sudah memendam sesuatu sejak lama.


"Silakan, apa yang ingin mas lakukan. Aku siap,'' ucap Alisa pelan, namun mampu membuat dada Alfan berdebar-debar.


Seketika Alfan menyatukan bibirnya dengan bibir Alisa, ia sudah tak tahan lagi jika harus menunggu. Alfan menggiring tubuh Alisa hingga ke ranjang. Dengan lembut ia memperlakukan wanitanya, memberikan tempat nyaman. Satu persatu Alfan melucuti bajunya hingga kini ia tidak memakai sehelai benang pun.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Alfan sekali lagi.


Alisa mengangguk pelan yang membuat Alfan langsung membuka handuk itu, dan terjadilah malam pertama yang membuat keduanya terbang melayang.


Rekomendasi bacaan untuk kalian, sambil menunggu update boleh mampir ke sini


Judul: Hatiku padamu, Kak.


Author: Alviesha


Blurb


"Tidak, aku yang mencintaimu ... Aku sangat mencintaimu ... Maaf kalau aku tidak pernah membalas suratmu, maaf kalo aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Tapi aku sungguh-sungguh menyanyangimu." ujar Uwais penuh penekanan, dan penuh kepastian.


"Selalu seperti ini, kakak mengungkapkan perasaan sayang ke aku, karena aku yang tanya, atau aku yang nuntut ... Kakak gak pernah punya inisiatif sendiri!"


"Ya Alloh, maaf, kalo itu membuat kamu jadi seperti ini," kata Uwais yang akhirnya mulai mengerti apa yang dirasakan oleh Arrida selama ini.

__ADS_1


"Tapi aku sungguh-sungguh sayang sama kamu, Ar, kamu masa depanku, kamu tujuan hidupku, kamu tau itu kan?"


(Hatiku Padamu Kak, ketika Arrida selalu merasa hanya dia yang mencinta)


__ADS_2