
"Halo calon bunda cantik? Apa dedeknya rewel?" tanya dokter Meta, menuntun Raisya menuju ke ruangannya.
Devan pun menggenggam satu tangan istrinya yang nampak kelelahan.
"Alhamdulillah baik, Dok," jawab Raisya diiringi dengan senyuman tipis.
Hari ini adalah jadwal Raisya periksa. Seperti biasa, ia ditemani oleh suami tercinta.
"Pergerakannya semakin hari semakin lincah, Dok," imbuh Devan setelah Raisya duduk di kursi tamu.
Dokter Meta tersenyum kecil, "Itu artinya bayinya sehat. Tiga bulan lagi mereka lahir, semangat untuk bunda."
Dokter Meta mengangkat tangannya, sebagai bentuk apresiasi seorang ibu.
"Aku jadi nggak sabar, Dok."
Raisya membayangkan wajah tiga bayi yang imut, lucu dan menggemaskan, ia beranjak dari duduknya mengikuti langkah dokter Meta ke ruang periksa.
Devan mengikutinya dari belakang, sedikitpun tak ingin meninggalkan momen untuk bisa melihat buah hatinya yang masih bersemayam di rahim istrinya.
Raisya naik di atas ranjang masih dengan bantuan Devan, apapun yang dilakukan tak luput dari pria itu.
Devan yang sudah hafal itu pun menyelimuti kaki Raisya hingga ke perut, lalu menaikkan baju gamis istrinya dan menampakkan perut buncitnya.
"Anak bunda dan ayah tenang, ya. Kalian mau diperiksa dulu." Devan mencium perut itu lalu beralih mencium kening Raisya.
Seperti bulan-bulan sebelumnya, air mata itu terus mengalir membasahi pipi Devan saat melihat bayinya dari layar monitor, terkadang hatinya ingin menjerit, bersyukur dan juga menangis melihat anugerah yang sangat luar biasa. Semua bercampur aduk hingga bibir Devan terkunci dan berbicara dengan anak-anaknya lewat batin.
"Ini nanti siapa saja namanya, Mas?" tanya Dokter Meta yang masih sibuk membersihkan sisa gel di perut Raisya.
"Rahasia, nanti kalau sudah lahir baru aku kasih tahu."
Devan mengangkat kepala Raisya dan membantunya turun.
"Memangnya kakak sudah siapkan nama untuk bayi kita?" tanya Raisya penasaran.
Pasalnya Devan tak pernah berunding dengannya membuat nama untuk putra putrinya.
"Sudah, kalau kamu tidak setuju kita bisa cari yang lain."
Suster datang membawa beberapa kertas di tangannya.
"Ada Mas David di luar, katanya mau lepas IUD."
Ucapan suster itu membuat Raisya mengernyitkan dahinya.
"Memangnya kapan Naimah pasang IUD?" tanya Raisya.
"Dokter belum tahu?"
__ADS_1
Raisya mengangkat kedua bahunya dan menggeleng.
"Jadi begini, Mbak Naimah pasang IUD setelah melahirkan Susan, dan dia belum melepasnya, makanya nggak bisa hamil. Kemarin saya bilang kalau mau lepas menunggu haid dulu, mungkin hari ini mbak Naimah datang bulan."
"Sus, tolong panggilkan adik saya, suruh di masuk," pinta Raisya dengan sopan.
Setelah dipanggil, David dan Naimah masuk ke dalam ruangan.
"Kakak sudah disini saja."
Naimah memeluk Raisya dan dokter Meta bergantian.
"Iya, sebenarnya aku masih malas, tapi karena acara pernikahan si kembar semakin dekat, Kakak periksa, katanya Naimah mau lepas IUD?"
"Iya kak, kebetulan hari ini dia haid."
"Ya sudah, Kakak tungguin kalian di luar. Susan nggak ikut?" tanya Raisya.
"Dari kemarin dia tinggal di rumah mama, nggak mau pulang."
"Wih, kebetulan dong, kamu bisa bebas," sahut Devan menaik turunkan alisnya.
David berdecak kesal," Seharusnya seperti itu, tapi karena ada bulan yang datang jadi libur."
Raisya dan Dokter Meta terkekeh yang mana membuat Naimah malu hingga ke ubun-ubun.
Di bandara internasional
Ponsel berdering, itu dari Alara yang mengirim pesan jika dirinya sudah turun dari pesawat.
"Aku harus bersikap bagaimana?" gumam nya, Daffi semakin panik dan sesekali melihat bayangannya di kaca spion.
Percaya diri, dan bicara apa yang melintas di otakmu, anggap calon mertuamu itu adalah sahabatmu, tapi harus tetap sopan, jangan peluk Alara, nanti kamu dikira mesum, beda denganku, aku kan sudah biasa dengan Airin.
Kesomplakan Daffa sudah mulai menular. Daffi merapikan rambutnya dan kembali menyemprot bajunya dengan parfum. Meskipun kembar, Daffi cenderung pendiam dan pemalu, sedangkan Daffa cengengesan dan urakan, tapi tetap menjaga akhlak yang diajarkan bunda.
Ucapan Daffa terus melintas membuat kegugupan itu terurai.
Dari jauh nampak wajah cantik dengan balutan gamis panjang berwarna hitam serta hijab yang berwarna putih, ini kali pertama ia melihat gadis itu menutup seluruh auratnya. Setelah beberapa hari ia memintanya, meskipun tak memaksa, faktanya Alara memenuhi permintaannya.
Lambaian tangan dan senyuman mengiringi langkah keduanya yang semakin dekat.
Berhubungan jarak jauh membuat keduanya sangat canggung saat berdekatan. Justru ini akan sangat spesial bagi mereka di malam pertama nanti.
"Apa kabar?" tanya Daffi malu-malu.
"Alhamdulillah baik," jawab Alara yang semakin lugas dengan bahasa Indo nya. Ayah Emir tersenyum melihat tingkah Daffi yang nampak lucu. Bagaimana tidak, pria itu terus menautkan kedua tangannya, matanya tak teralihkan dari wajah putri pertamanya.
"Kamu tidak menyambut ayah mertuamu," sindir Ayah Emir, dan akhirnya Daffi bersalaman lalu memeluk Ayah Emir dengan erat.
__ADS_1
"Maaf Yah, lupa."
Setelah mengantarkan keluarga Alara ke hotel, Daffi langsung pergi bersama calon istrinya ke rumah, seharusnya ada acara pingitan seperti perintah bunda. Namun, si kembar yang bandel tingkat tinggi itu tak mengindahkannya dan terus bertemu dengan calon istrinya dengan berbagai alasan.
"Kita mau ke mana?" tanya Alara yang belum tahu tujuannya.
"Ke rumah calon mertua kamu, untuk cobain baju."
Alara memutar bola matanya, jika tadi Daffi yang bingung bersikap pada calon mertuanya, kini giliran Alara yang sedikit panik.
"Ayah dan bunda tidak galak kan, Kak?"
Daffi tersenyum, "Tidak, Bunda dan Ayah itu sangat baik, mereka lembut dan sayang pada semua orang, termasuk kamu, calon menantunya."
Obrolan yang sangat ramah itu mengiringi mobil Daffi yang terus melaju menuju rumahnya.
Rumah Bunda dan ayah sangat ramai, pernikahan si kembar memang berbeda dari pernikahan Devan dan Syakila. meskipun dadakan, ayah juga mempersiapkan semewah mungkin untuk menyambut kedua menantunya sekaligus.
Bunda tersenyum saat Daffi masuk diikuti Alara dari belakang, tampilan gadis itu sangat menyejukkan mata, cantik, anggun, hidungnya yang mancung membuat bunda terpesona.
Alara menghampiri bunda yang sibuk di ruang tengah. Senyum menghiasi bibir Bunda saat Alara duduk di sisinya dan memeluknya.
"Selamat datang di keluarga Rahardjo."
Mata Alara menyusuri rumah mewah itu, tak jauh beda dengan rumahnya yang ada di Turki, hanya saja desain dan hiasannya lebih cantik dengan gaya khas Indo.
"Terima kasih karena bunda mau menerimaku di keluarga ini. Ayah di mana?"
Bunda menatap Daffi yang cengengesan.
"Fi, bantuin bunda," pinta bunda penuh harap.
Daffi membisikkan sesuatu di telinga bunda.
"Ayah ada di kamar, Sholat Dhuha," jawab Bunda malu.
Ternyata Alara lupa, ia bertanya pada Bunda dengan bahasa Turki.
...----------------...
Rekomendasi novel yang sangat bagus untukmu
Judul : Hei Gadis Berkacamata
Author: Putri Nilam Sari
Blurb
Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya.
__ADS_1
Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga.
Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia??