Pelangi Senja

Pelangi Senja
Takut jarum suntik


__ADS_3

Sudah tiga malam Devan dan Raisya tidur di rumah Ayah. Selain lebih leluasa mengurus acara pernikahan sang adik, Devan juga membantu ayah menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor.


Persiapan acara yang melibatkan Devan itu hampir seratus persen selesai. Sedikit-sedikit si kembar juga ikut andil dalam pesta kali ini.


Kini Devan adalah harapan satu-satunya yang bisa diandalkan, karena profesi Afif sebagai dokter, maka Ayah tak bisa berharap pada pria itu untuk bekerja di kantor.


"Kamu capek, Van?" Ayah mendekati devan yang terus mengelus tengkuk lehernya. Tak seperti biasanya, wajahnya sedikit pucat dan tak ada semangat sedikit pun.


"Iya," jawab Devan dengan berat.


Raisya datang membawa dua cangkir kopi hitam untuk ayah dan suaminya.


"Sepertinya kakak kurang tidur, apa nggak sebaiknya kakak istirahat dulu," Raisya meraih tangan Devan dan menatap jam yang melingkar di tangan suaminya. Ternyata sudah waktunya istirahat siang,  belum lagi semalam Devan lembur hingga jam sebelas.


"Iya,  kamu istirahat saja dulu, biar ayah yang memeriksa dokumen ini."


Tangan ayah mulai menyentuh tumpukan map yang ada di meja.


Devan menguap diiringi dengan mata yang berkaca, kepalanya terasa berdenyut dan tubuhnya agak terasa panas dingin. Menyeruput kopi panas buatan istri tercinta mungkin akan meredakan rasa lelahnya saat ini,  itu pikirnya. Namun, tiba-tiba saja kopi yang baru masuk ke kerongkongannya itu kembali keluar karena perutnya terasa mual.


Segera Devan meletakkan cangkirnya dengan buru-buru saat melihat tangan Raisya menjingkat.


"Maaf sayang, apa kamu terkena kopinya?"


Devan menelusuri setiap jengkal tubuh istrinya yang masih berjongkok di depannya. Beralih punggung tangannya yang sangat putih mengkilap.


Ayah terkejut dan kembali menutup dokumennya.


Raisya menggeleng, faktanya sedikitpun Devan tak menyemburkan ke arahnya, melainkan ke sisi kirinya. Hanya saja ia kaget dengan aksi Devan yang di luar dugaan.


"Kakak kenapa?" tanya Raisya mulai khawatir, raut wajahnya tampak ketakutan saat melihat Devan kembali menahan perutnya dengan kedua tangannya.


"Tidak apa-apa, aku hanya mual saja."


"La,"  teriak ayah Mahesa.


Mata Devan membulat sempurna, bulu halusnya langsung merinding saat ayah terus berteriak memanggil dokter itu.


"Yah, aku mau ke kamar."


Dengan sigap Devan meninggalkan sang ayah dan Raisya menuju kamarnya.


Ayah tertawa -- yang mana itu malah membuat Raisya heran. 

__ADS_1


Anaknya sakit,  tapi malah ditertawakan. 


Benar benar titisan ayah kamu, Van. 


Bukan Syakila, namun bunda yang muncul dari balik lemari, karena dari tadi wanita itu membersihkan baju yang akan dikirim ke panti.


"Ada apa ini?" Masih dengan posisinya, Raisya mengerutkan alisnya saat ayah Mahesa masih terus memamerkan giginya.


"Devan takut sama Syakila, Bund," jawab ayah Masih diiringi dengan tawa kecil.


"Memangnya dia kenapa?" tanya Bunda ikut duduk di samping ayah yang sepertinya sangat bahagia dengan penderitaan si sulung.


"Kata kakak tadi mual," sahut Raisya dengan polos.


"O" Hanya kata itu yang terucap dari sudut bibir bunda dengan entengnya, padahal rasa cemas Raisya sudah tiba sampai ke ubun-ubun.


Mereka ini kenapa sih, kakak sakit, tapi tak ada khawatirnya sedikit pun, gerutu Raisya dalam hati.


Teringat Devan, Raisya beranjak dan langsung berlari kecil menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Kak, aku masuk ya," teriak Raisya sembari mengetuk pintu. Tak ada jawaban dari dalam, akhirnya Raisya memutar knop, namun nihil, sepertinya pintu itu dikunci dari dalam.


"Kakak,  ini aku Raisya," ulang Raisya, jantungnya mulai berpacu dengan cepat saat ia mengingat wajah suaminya yang pucat.


"Jangan-jangan, Kakak __"


"Devan kenapa?" Ayah yang ada di bawah tangga mendongak menatap Raisya yang mulai menitihkan air mata.


"Kakak mengunci pintu kamarnya, Yah. Aku takut," ucap Raisya dengan kedua tangan saling meremas hijabnya. 


Ayah meraih kunci serep yang menggantung di samping tangga, setelah itu menyusuri anak tangga dengan berlari kecil, disusul bunda dari belakang.


Kini tak hanya Raisya, semua ikut panik.


Daffa dan Daffi yang baru saja keluar mendekati ayah yang sudah tiba di depan kamar Devan.


"Ada apa ini, bund?" tanya Daffa berbisik.


"Nggak tahu, kayaknya kakak sakit."


"Alhamdulillah," Meskipun belum bisa melihat keadaan Devan, ayah bersyukur bisa membuka pintu kamar putranya.


Raisya masuk lebih dulu, matanya langsung mengedar ke arah ranjang.

__ADS_1


Wajah maupun anggota tubuhnya yang lain tak nampak sedikit pun. Namun,  gundukan yang memanjang di balik selimut menandakan jika Devan ada di sana.


"Kakak tidak apa-apa, kan?" tanya Raisya sembari duduk di tepi ranjang.


Ayah mengerutkan alisnya lalu tersenyum melihat kelakuan Devan, dan itu mengingatkan pada dirinya sendiri.


Sosok Devan memang tak bisa disangkal lagi jika dia adalah putra kandung Mahesa. Sebab, Devan sepenuhnya mewarisi sifat sang ayah, baik dari segi makan, berpakaian maupun yang lain termasuk saat sakit.


"La, ini kakak  kamu sakit," teriak ayah pura-pura, padahal ia hanya ingin menguji Devan.


Yang ada di balik selimut membulatkan matanya, jantungnya berdegup dengan kencang saat mendengar nama adiknya dipanggil. Tangannya gemetar seketika diiringi dengan keringat yang mulai menembus pori-porinya.


"Aku sudah sembuh, Ayah," ujar Devan tanpa membuka selimutnya.


Bunda menepuk lengan ayah dan menarik pergelangan tangannya keluar lalu menutup pintunya.


"Kakak sakit apa, Bund?" tanya Daffa antusias. 


"Biasa," jawab Ayah menaik turunkan alisnya, meskipun umurnya sudah menginjak kepala lina,  Ayah tetap terlihat muda di mata anak-anaknya. 


Lagi-lagi pria itu harus mendapat hadiah cubitan dari bunda karena kelakuannya yang terus absurd.


Kini tinggal Raisya dan Devan yang ada di sana.


Raisya menyibak selimut yang menutupi sekujur tubuh Devan, hingga nampak kepala dan separo badannya. 


Devan menatap ke arah pintu yang tertutup rapat lalu mengelus dadanya.


"Kakak kenapa?" tanya Raisya seraya menempelkan punggung tangannya di jidat Devan.


"Kunci pintunya dulu! Nanti kalau Syakila masuk gimana?"


Masih teringat dalam benak Devan, disaat sakit dan lupa mengunci pintu, tiba-tiba saja Syakila menyuntiknya dalam keadaan tidur,  itu yang membuat Devan trauma dan lebih waspada saat badannya kurang sehat.


Tanpa bertanya Raisya melaksanakan perintah suaminya.


Tak seperti tadi yang hanya duduk di tepi ranjang, kini Raisya merangkak naik dan ikut bersembunyi di balik selimut tebal. Keduanya saling berbaring dan merengkuh.


"Sekarang kakak cerita. Kenapa kakak takut pada Syakila?" Raisya mendongak, menanti bibir Devan itu membuka suara.


Meskipun malunya sudah level sepuluh, Devan tetap bercerita jika dirinya takut dengan jarum suntik,  dan itu sukses membuat Raisya tertawa terpingkal-pingkal.


Tak mau ditertawakan begitu saja, Devan menarik kepala Raisya dan mendekatkan bibirnya di telinga wanita itu. 

__ADS_1


"Tapi kalau disuruh menyuntik kamu, aku sudah jago."


Blussss,  wajah Raisya seketika merona dan bersembunyi di balik selimut.


__ADS_2