Pelangi Senja

Pelangi Senja
Hadiah berujung ranjang


__ADS_3

Devan mengambil sebuah baju gamis dari manekin, begitu juga dengan Afif. Mereka sama-sama berjalan menuju ke arah Raisya yang sibuk memilih-milih baju di gantungan, sadar akan kehadiran Afif yang lebih dulu, Devan menggeser tubuhnya ke arah baju yang bergelantungan dan bersembunyi di sana. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan calon adik iparnya tersebut.


"Apa kamu suka baju ini?" Afif menyodorkan sebuah baju berwarna peach mewah di depan Raisya.


Raisya mundur satu langkah, mengalihkan pandangannya ke arah lain mencari Devan dan Syakila yang tak nampak.


"Eng...nggak," jawab Raisya gugup. Ia mengatur detakan jantungnya yang tiba-tiba berirama lebih cepat. Rasa takut memenuhi dadanya hingga kini ia tampak pucat. Raisya terus melangkah kecil menjauhi Afif yang masih mematung di tempat. Ia merasa tak nyaman dengan kehadiran pria itu. 


Kak Devan kemana sih, katanya mau ke toilet,  nanti kalau Syakila tahu bagaimana?


Raisya meletakkan baju yang dari tadi dipegangnya lalu membalikkan tubuhnya. 


Baru beberapa langkah Raisya pergi, sebuah tangan melingkar di pergelangan tangannya, sontak Raisya mengibaskan dengan kasar.


"Jangan sentuh aku!"


"Kakak, kamu kenapa?" tanya suara cempreng tiba-tiba. 


Seketika Raisya menoleh ke belakang. 


"Syakila." Nada terkejut.


"Iya, ini aku." Syakila menangkup kedua pipi Raisya.


Raisya mengelus dadanya. Meredakan jantungnya yang masih saja berdetak kencang.


Dari jauh Afif tersenyum renyah saat melihat Raisya sedang memeluk Syakila. 


"Sayang," seru Devan. Suara itu membuat Raisya lebih lega. rasanya tak ada suasana yang nyaman selain bisa bersama dengan pria itu.


Raisya melepaskan pelukannya lalu menghampiri Devan, "Kakak ke mana saja? Kenapa tinggalin aku sendiri? protes Raisya menepuk lengan Devan sekuat tenaga.


"Aku kan sudah bilang, kalau aku ke toilet." matanya melirik ke arah Afif yang terlihat ngobrol dengan salah satu karyawan.


Apa maksud dia, jangan bilang kalau dia masih mencintai Raisya. 


"Aku punya sesuatu untuk kamu." Devan menyodorkan baju yang berwarna putih dan itu langsung diterima Raisya.


"Ini bagus sekali, pasti harganya mahal."


Devan tersenyum, "Se mahal apapun kalau kamu suka pasti akan aku beli. Jangan remehkan Devan! Dia adalah gudang uang, meskipun belum bekerja kamu tidak akan bisa menghabiskan uangnya," ucap Devan sombong.


Bukan sekedar omong kosong. Itu sebuah fakta yang ada. Devan adalah cucu pertama dan mendapatkan warisan dari Almarhum pak Yudi, sedangkan yang di berikan pada Ayah Mahesa semua masuk amal jariyah, setelah ia menginjak remaja, Devan berinisiatif menggunakan uang itu untuk membangun sebuah cafe yang kini ada di beberapa tempat.


Raisya tersenyum, melingkarkan kedua tangannya di tubuh kekar suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih atas hadiahnya. Aku suka."


Syakila yang merasa iri dengan keromantisan kakaknya pun menghampiri Afif.


"Aku juga punya hadiah lagi," ucap Devan berbisik. 


"Apa?" tanya Raisya dengan santainya. 


"Ini pesanan Mas Devan." Seorang karyawan cantik datang dengan beberapa paper bag di tangannya.


Setelah mengucap terima kasih, Devan membukanya dan memperlihatkan isinya.


"Apa ini?" tanya Raisya yang masih belum mengerti dengan baju enteng yang terlipat rapi.


"Nanti kita bukanya di rumah saja."


Devan segera memasukkannya, dan itu semakin membuat Raisya penasaran. 


Setelah puas berbelanja, Devan langsung pulang ke rumah setelah mengantarkan Afif dan Syakila ke rumah ayah.


Masih dengan rasa penasaran yang tinggi Raisya membantu Devan membawa belanjaannya masuk.


Semua paper bag sudah bertengger di atas meja. Raisya segera meraih pemberian Devan, ia sudah tak sabar ingin melihat apa yang dibeli suaminya.


"Nanti malam kamu boleh pakai," ujar Devan sembari melirik ke arah Raisya yang mulai membuka bungkus baju berwarna hitam.


"Sekarang lebih bagus," jawab Devan antusias. 


"Astagfirullah…." Raisya memekik, seketika wajahnya meronna saat ia mengamati dengan seksama apa yang  ada di tangannya saat ini.


Devan yang ada di belakangnya menahan tawa melihat keterkejutan istrinya itu.


Siap-siap saja, malam ini akan aku habisi kamu, batin Devan menyeringai.


Raisya meletakkan baju itu dan mengambil yang berwarna maron.


"Apa ini juga baju seperti itu?" Menyungutkan kepalanya ke arah lingerie yang teronggok di sofa sebelah.


"Iya, memangnya kenapa?" jawab Devan. Pandanganya terus mengarah pada baju yang ada di tangan istrinya.


"Kakak, aku tidak bisa pakai baju seperti ini," tolak Raisya.


Memakai baju selutut dan berlengan pendek saja hal sangat tabu bagi Raisya, apalagi baju yang berbahan sangat tipis tanpa lengan dengan panjang se paha, pasti semut pun akan tertawa saat melihatnya.


"Bisa, dicoba dulu dong! Aku yakin kamu akan lebih cantik," puji Devan.

__ADS_1


"Lakukan demi suami kamu," imbuh Devan meyakinkan. 


"Tapi __"


"Tidak ada, tapi tapian, aku menginginkannya."


Terpaksa Raisya beranjak dari duduknya, baru beberapa langkah menuju kamarnya, Raisya berhenti dan menoleh.


"Ini nggak bisa dibatalkan?" ucap Raisya dengan malas.


Devan menggeleng, ia merasa menang sudah membuat istrinya itu menciut karena malu.


"Kakak mau yang warna apa?" Saat di ambang malu, bisa-bisanya bibir Raisya masih sempat menawarkan pada Devan.


Devan membongkar semua baju dinas yang dibelinya. Dan ia pikir semua pasti akan cocok di tubuh Raisya.


"Terserah, semuanya aku suka."


Lakukan saja, Sya. Suami kamu yang meminta.


Akhirnya Raisya meyakinkan hatinya untuk ikhlas menjalankan permintaan suaminya. 


Sesekali Devan menatap jam yang melingkar di tangannya, hampir sepuluh menit Raisya masuk kamar, tapi belum ada tanda-tanda wanita itu keluar atau memanggilnya.


"Apa dia ketiduran," terka Devan sembari berjalan. 


Baru membayangkan saja, senjata antiknya sudah mulai bangun, apalagi kalau sampai melihat Raisya memakai baju itu,  pasti akan menunutut lebih.


Devan mengelus tengkuk lehernya, lalu membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk, dan betapa terkejutnya saat Devan melihat Raisya yang baru keluar dari kamar mandi dengan memakai baju yang diinginkannya.


Mata Devan membulat sempurna, mulutnya menganga, jantungnya menari-nari melihat pemandangan yang sangat unik di depannya. 


Raisya meremas sepuluh jarinya dengan wajah terus menunduk ke bawah, meskipun hanya Devan yang melihatnya, Raisya merasa malu hingga memuncak di ubun-ubun.


"Kakak jangan lihatin aku," ucap Raisya dengan suara menggoda. Ia terus menarik bajunya ke bawah, namun  bersamaan dengan itu, bagian dada malah terekspos hingga memperlihatkan kulit putihnya.


Devan menutup pintu dan menguncinya. Perlahan kakinya melangkah mendekati Raisya yang bersandar di dinding. Kedua tangannya menjulur di sisi kiri dan kanan hingga mengimpit pergerakan Raisya.


"Kalau bukan aku yang lihat, lalu siapa lagi?" ucap Devan dengan suara parau,  kini ia mulai menahan sesuatu yang bergejolak.


"Tapi aku malu."


Devan mengangkat dagu Raisya dengan jari telunjuknya hingga pandangan keduanya bertemu. 


"Kita sudah melakukannya berulang-ulang.  Kenapa harus malu? Bukankah kewajiban seorang istri melayani suaminya?"

__ADS_1


Skak


Raiysa tak bisa berkutik lagi, kali ini ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan Devan. Benar saja, dalam hitungan menit pria itu sudah berhasil membawanya ke atas ranjang.


__ADS_2