
"Selamat datang, Sayang."
Bunda menyambut kedatangan Syakila dan Afif dengan deraian air mata bahagia. Memeluknya untuk mengurai rasa rindu yang melanda. Satu minggu meninggalkan rumah, bunda merasa ada yang kurang. Meskipun masih ada Asyifa, nyatanya setiap malam bunda termenung memikirkan Syakila.
Raisya yang ada di sofa ikut berlari kecil menghampiri adik iparnya, mengabaikan tangan Devan yang mengulur mencegahnya.
Sekilas Syakila menatap Raisya yang berdiri di samping bunda. Lalu beralih menatap bunda lagi. Senyumnya menghilang saat ia mengingat apa yang pernah terjadi antara wanita itu dan suaminya.
"Bunda, aku capek, mau istirahat."
Syakila melewati Raisya, mengabaikan tangan wanita itu yang sudah merentang ingin memeluknya.
Ada apa dengan Syakila?
Wajah yang tadi cerah dan berseri itu kini meredup. Relung hantinya berdenyut dengan sikap aneh Syakila.
Berbagai pertanyaan sudah menyelimuti Raisya, ini pertama kalinya ia tak dianggap oleh adik iparnya.
"Maaf ya, Bund, Kak, aku ke kamar dulu," pamit Afif pada Raisya dan bunda yang masih terpaku di tempat.
Raisya mengangguk pelan. Matanya mulai digenangi air mata saat suara dentuman sepatu itu semakin menjauh.
Bunda mendekati Raisya dan menepuk bahunya, membuyarkan pikiran Raisya yang berkelana.
"Ayo Sya, bukankah tadi Devan minta kopi?"
"Iya, Bunda." Raisya pergi ke dapur, sedangkan bunda pergi ke kamarnya.
Tidak mungkin hanya sekedar capek dia mengabaikan aku, ini pasti ada masalah lain.
Raisya kembali melamun di dapur yang membuat Bi Nini geleng-geleng.
"Non, airnya sudah mendidih," ucap Bi Nini.
"Iya, Bi." Raisya menuang airnya ke dalam cangkir yang sudah di lengkapi kopi dan gula.
Seperti biasa, sebelum menghidangkan, Raisya menghirup aromanya dalam-dalam hingga membuatnya sedikit relax.
"Kakak, kopinya datang." Raisya meletakkan cangkirnya di atas meja lalu duduk di sofa yang tersisa. Devan yang tadi duduk dengan punggung bersandar kini berbaring dengan tangan dilipat.
"Kak, kopinya sudah jadi." Raisya menggoyang-goyangkan lengan Devan dengan lembut, napas yang teratur menandakan jika Devan sudah terlelap.
Selang beberapa menit tak ada reaksi, Raiysa menempelkan punggung tangannya di kening Devan.
"Sepertinya kak Devan demam, apa ini karena kehujanan semalam?"
Raisya masih ingat saat Devan masuk dengan baju yang basah kuyup.
"Kak, pindah ke kamar yuk," bisik Raisya.
Devan menguar tangannya dan menarik tubuh Raisya hingga jatuh ke dekapannya.
__ADS_1
"Maaf, kayaknya kopinya nggak jadi aku minum."
"Tidak apa-apa, sekarang kakak ke kamar saja, biar aku bawa kopinya ke dapur."
Devan mengangguk pelan, dengan tubuhnya yang sedikit lemah, Devan menyusuri anak tangga menuju kamarnya.
"Sayang juga kopinya kalau dibuang," gerutu Raisya menatap kopi hitam pekat yang mulai menghangat.
Tak ada jalan lain, terpaksa ia membawanya kembali ke belakang. Setibanya di meja makan, Raisya menoleh menatap Afif yang baru saja turun.
Afif mendekati Raisya lalu menatap kopi yang ada di tangan wanita itu.
"Kopi untuk siapa?" tanya Afif iseng. Ia tahu kalau Raisya tak pernah minum kopi, tapi malah membawa kopi.
"Tadinya untuk kak Devan, tapi karena dia ngantuk, nggak jadi. Sekarang mau aku buang."
"Buat aku saja, mubazir."
Bagaimana ini, benar juga apa kata Afif, tapi aku nggak enak sama Syakila, kalau dia tahu pasti marah.
"Kamu mau kopi?" tanya Raisya dengan ragu.
"Iya, tapi yang itu saja, kamu tahu kan aku nggak bisa tidur kalau tidak minum kopi."
Raiysa meletakkan kopinya di atas meja, meskipun kenangan bersama Afif sejenak melintas, ia tak ingin kembali pada memori lama. "Minum saja, maaf aku pergi dulu."
Raisya berlalu meninggalkan Afif yang mulai menyeruput kopi hitam itu.
Ternyata dia masih sama, kalau membuat kopi tidak terlalu manis.
"Sayang, peluk aku!"
Raisya memiringkan bibirnya, namun tetap masuk ke dalam selimut dan memeluk Devan dari belakang. Tangannya yang melingkar mengusap-usap dada Devan yang terbuka.
"Kakak kenapa?" tanya Raisya saat ia merasakan sebuah getaran dari tangan Devan.
"Dingin," jawab Devan lemah.
Raisya menyibak selimutnya kembali, menempelkan punggung tantangannya di kening Devan.
"Kakak sakit?"
Raisya turun dari ranjang dan membuka semua kancing baju Devan. Ia panik melihat wajah suaminya yang nampak pucat.
"Kakak tunggu sebentar, aku panggil Syakila."
Raisya keluar dari kamarnya bertepatan dengan Afif yang baru tiba di ujung tangga.
Raisya berjalan pelan menghampiri Afif yang kini berada di depan pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Afif.
__ADS_1
"Aku mau panggil Syakila, kakak demam," ucap Raisya ragu, ada rasa takut yang menyelimutinya saat ini. Kedatangan Syakila dan Afif kali ini membuatnya tak nyaman. Akan tetapi permintaan Bunda yang menyuruhnya tinggal tak bisa ditolak begitu saja.
Dengan sigap Afif membuka pintu kamarnya.
"La, kakak demam," ucap Afif dari ambang pintu.
Syakila hanya menoleh tanpa suara. Menatap Raisya yang ada di belakang suaminya.
Entah kenapa rasa cemburu itu terus mengendap, padahal sudah jelas Raisya hanya masa lalu, tapi tak dapat dipungkiri kalau hatinya tetap merasa sakit saat Raisya ada di dekat suaminya.
"Baiklah, aku akan periksa."
Raisya mengambil stetoskop dan sebuah kotak yang ada di etalase lalu keluar, lagi-lagi ia tak mengindahkan keberadaan Raisya yang mematung dengan wajah khawatir.
Syakila masuk ke kamar Devan dan memeriksa sang empu yang berbaring lemah.
"Pasti kakak habis kehujanan, lain kali harus bisa jaga diri," ucap Syakila datar.
Syakila mengeluarkan jarum suntik yang ada di kotak putih, dan seketika itu pula Devan melompat turun.
"Kamu mau apa, La?"
Raisya yang ada di ambang pintu segera berlari menghampiri Devan dan merengkuh tubuh kekarnya.
"Kakak harus di suntik biar cepat sembuh," ucap Raisya membujuk.
"Tidak, sebentar lagi aku pasti sembuh," tolak Devan antusias.
"Kakak itu sudah dewasa, bisa nggak sih kalau tidak seperti anak kecil." Syakila semakin ketus dan itu semakin membuat jantung Raisya rersayat.
"Kakak, disuntik itu tidak sakit, kalau kakak seperti ini, kapan sembuhnya," tutur Raisya dengan lembut yang seketika membuat Devan meleleh.
"Kamu yakin, kalau disuntik itu nggak sakit?"
Afif yang masih berada di ambang pintu hanya tersenyum kecil, ia membayangkan bagaimana jika Devan menjadi dokter bedah, pasti akan pingsan sebelum mengoperasi pasien.
Setelah mencerna ucapan Raisya, akhirnya Devan mengalah dan kembali ke ranjang.
"Beneran nggak sakit, kan?" Devan menahan tangan Syakila yang sudah memegang kapas ke arahnya.
Syakila menggeleng. Demi mengusir rasa grogi, Raisya menutup mata Devan dan merangkulnya.
"Sudah," ucap Syakila bersamaan rasa ngilu di bagian bawah pinggangnya.
"Apa aku bilang, nggak sakit, kan?" goda Raisya membantu Devan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Ter __"
"Aku keluar dulu, jangan lupa makan, minum obat dan istirahat yang teratur." Syakila merapikan kotak yang ia bawa seraya memotong ucapan Raisya yang ingin mengucapkan terima kasih.
Setelah Syakila dan Afif menghilang di balik pintu, Raisya berhamburan memeluk Devan.
__ADS_1
"Kak, aku mau pulang," rengek Raisya dengan mata berkaca.
"Iya, nanti kita pulang." Devan langsung setuju dengan permintaan Raisya saat melihat sikap adiknya yang cuek.